
Selamat membaca!
Dua hari telah berlalu semenjak kedatangan pengacara Rendy ke rumah Maharani. Walaupun sempat bersikeras menolak wasiat yang diberikan oleh Rendy. Namun, semua itu percuma karena Alvin sebagai pengacara tetap menjalankan wasiat yang memang sudah dititipkan kepadanya. Terlebih sebelum meninggal, Rendy sangat berpesan bahwa apa yang diberikan olehnya tidak boleh ditolak oleh Maharani. Maka dari itu, Alvin sangat memohon agar Maharani mau menerima semua yang diberikan oleh Rendy, demi ketenangan pria itu.
Pagi itu, Maharani memulai aktivitasnya dengan mempersiapkan berbagai keperluan Dion untuk kembali bekerja. Ya, Dion memang belum mendapatkan cuti dalam Minggu pertamanya menikah. Alasannya adalah karena di klinik tempatnya bekerja hanya terdapat dua orang dokter di sana. Kebetulan rekannya itu kini sedang berhalangan karena tengah berduka setelah salah satu orang tuanya meninggal. Maka dari itu, Dion harus menunda waktu honeymoon-nya bersama Maharani.
"Mas, aku masih merasa tidak enak terhadap Nina. Terlebih sewaktu aku hubungi kemarin, nada suaranya terdengar ketus. Bahkan saat aku menawarkan untuk mengalihkan apa yang diberikan oleh Mas Rendy pun dia menolak dan malah menutup sambungan teleponku," ucap Maharani sambil melingkarkan dasi pada kemeja suaminya.
Dion yang melihat kecemasan pada wajah istrinya, kini langsung menangkup kedua sisi lengan Maharani dan menatapnya dengan lekat. Membuat aktivitas Maharani seketika terhenti dengan tangan yang masih menggenggam selembar dasi berwarna merah marun.
"Sayang, kamu tidak perlu cemas. Lagipula bukankah tidak baik menolak pemberian dari seseorang yang sudah meninggal? Rendy memberikan semua itu ikhlas, tanpa paksaan sedikit pun jadi kamu enggak perlu lagi merasa tidak enak ya! Aku enggak mau kamu sampai jatuh sakit karena memikirkan semua ini. Nanti biar aku coba jelaskan kepada Nina lewat telepon saja. Ya, siapa tahu dia mau mengerti dengan apa yang aku katakan?"
"Ya, aku hanya tidak ingin saja memiliki seorang musuh, Mas. Hidup dengan dibenci oleh orang lain itu sangat membuatku merasa tidak nyaman, apalagi orang itu adalah Nina. Dulu aku begitu dekat dengannya, dia sering main ke rumah. Bahkan sering menginap satu sampai dua hari di rumah. Ya, semoga saja dia mau mendengar semua penjelasan kamu." Maharani sudah lebih tenang dari sebelumnya. Bahkan sebuah senyuman kini mulai menggantikan raut wajahnya yang resah.
"Ya sudah, sekarang kamu jangan cemberut lagi! Soalnya aku mau berangkat kerja dulu ya. Oh ya, nanti aku pulang lebih awal sekitar jam 4 sore dari Klinik. Nanti malam aku ingin mengajakmu dinner di restoran yang memang sudah aku siapkan untuk kita. Kamu mau, kan?" tutur Dion yang diakhiri sebuah pertanyaan dengan wajah semringahnya.
"Tidak ada alasan untukku menolaknya. Terima kasih ya, Mas." Maharani pun begitu terharu atas sikap Dion yang benar-benar mampu menghilangkan kegelisahan di hatinya. Kini tak ada lagi resah, selain rasa nyaman saat tubuhnya singgah dalam dekapan hangat suaminya.
Kelembutan dan sikap romantis dari Dion, sungguh melelehkan hati wanita itu yang seketika berbunga-bunga.
"Maafin aku ya, Mas. Aku malah meluk kamu, nanti kamu telat lagi," ucap Maharani sambil mengurai pelukannya.
"Alhamdulillah. Semoga Rani tidak lagi terbebani dengan wasiat itu. Terlebih surat yang ditulis Dion benar-benar membuat murung seharian kemarin," gumam Dion yang begitu resah saat melihat kesedihan singgah di wajah istrinya.
🌺🌺🌺
Sementara itu, di luar kediaman Maharani, sebuah mobil dengan kaca jendela yang gelap tampak terparkir tidak jauh di sana. Mobil yang terdapat satu pria di dalamnya dan terus mengintai keadaan sekitar.
"Hari ini rencana itu harus berhasil agar aku bisa mendapatkan sisa uangku dari Nina." Pria itu terus menajamkan sorot matanya. Pandangannya terus fokus mengamati kediaman Maharani dan Dion yang jaraknya memang berada bersebrangan.
🌺🌺🌺
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian.
Terima kasih banyak.
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga One Night Stand With My Boss (sudah tamat)