Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Cemas Yang Mencair


Selamat membaca!


Langkah Maharani pun terhenti sejenak di depan pintu ruangan Dion. Napas yang terengah dengan keringat yang terlihat melembabkan dahinya, menandakan bahwa Maharani begitu merasa lelah saat ini.


"Mas Dion," lirih Maharani dengan bibir gemetar. Sebelah tangannya kini mulai menggenggam handle pintu dan bersiap membukanya. Namun, tiba-tiba saja seseorang dari dalam ruangan membuka pintu itu terlebih dulu. Membuat Maharani seketika terkejut sambil menatap seorang wanita yang memang dikenalnya.


"Lho, Ibu Maharani, kenapa hanya berdiri di depan ruangan?" tanya seorang suster bernama Dian yang memang sudah sangat mengenal Maharani.


"Iya Dian. Saya ingin bertemu dengan suami saya. Apa Dokter Dion ada di dalam?" tanya Maharani menjawab pertanyaan Dian sambil melihat ke dalam ruangan, coba mencari keberadaan pria yang sudah sejak tadi begitu ia cemaskan.


"Silahkan masuk saja, Bu! Dokter Dion ada di dalam. Tadi pagi beliau sempat mengalami kejadian penyerangan di basemen parkiran, tapi beruntung ada Pak Santo yang melihat kejadian itu dan langsung membawa petugas keamanan untuk menolong."


Seketika rasa cemas kian memenuhi pikiran Maharani setelah mendengar cerita dari Dian. Tanpa menunggu lama, Maharani pun melangkah masuk. Pandangannya kini langsung tertuju pada sosok pria yang terlihat ingin melangkah menuju ke depan pintu. Ya, percakapan antara Dian dan Maharani ternyata memang sampai ke telinga pria itu. Membuat Dion merasa bersalah karena telah mematikan ponselnya.


"Rani, kamu sampai datang ke sini." Dion mulai memerhatikan raut cemas di wajah istrinya.


"Mas Dion." Maharani tanpa aba-aba langsung mendekap tubuh Dion dengan begitu erat. Rasa cemas yang seketika membeku dalam dirinya kini mulai mencair. Berubah menjadi air mata yang terus berderai membasahi kedua pipinya.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Mas." Dengan lirih Maharani terus menangis dalam dekapan tubuh Dion. Membuat Dian yang melihatnya langsung berinisiatif menutup pintu ruangan Dion yang memang masih terbuka.


"Kenapa-kenapa bagaimana maksud kamu?" tanya Dion yang terkejut karena Maharani seperti tahu apa yang telah menimpanya. Walaupun Dian sempat mengatakannya, tapi kedatangan Maharani seolah menjadi bukti bahwa wanita itu seperti mengetahui apa yang telah terjadi padanya. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu menahu, apalagi tentang alasan penyerangan yang diterimanya tadi pagi. Beruntung, hujaman pisau itu masih dapat ditepisnya dan tak mengenai bagian perutnya.


"Menangislah dulu, enggak apa-apa. Setelah itu kamu harus ceritakan sama aku ya, sebenarnya ada apa ini!" Dion coba mengusap punggung istrinya yang terus menangis. Membuat seisi ruangan kala itu penuh dengan suara tangisan Maharani yang terdengar begitu piluh.


Di saat pelukan itu belum terurai, pintu ruangan kembali terbuka. Sosok Vania pun tampak menatap Dion dengan raut wajah cemas yang seketika berubah menjadi senyuman tenang terulas dari kedua sudut bibirnya.


"Ternyata Rani datang dengan diantar Mama Vania, padahal Mama Vania kan sedang pergi sama Mama tadi pagi. Sebenarnya apa yang terjadi ya? Seandainya aku enggak matiin hp-ku pasti tidak akan jadi begini. Sebenarnya aku hanya tidak ingin membuat Maharani cemas akan kondisiku karena aku tidak bisa berbohong untuk mengatakan jika aku baik-baik saja, padahal saat ini aku sedang terluka karena pisau pria itu," batin Dion mengingat apa yang sempat menimpanya tadi pagi di saat ia baru saja turun dari mobilnya setelah tiba di basemen parkiran rumah sakit.


Berbeda dengan Dion yang terus dihantui rasa penasaran, Vania kini mulai merasa tenang saat melihat menantunya saat ini masih hidup dan terlihat baik-baik saja. Awalnya ia memang sempat mencemaskan kondisi Dion. Terlebih atas apa yang didengarnya dari cerita Maharani tentang perkataan Nina, semakin menambah rasa takut bahwa putrinya itu akan kembali kehilangan pria yang dicintainya.


"Syukur Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Terima kasih karena Kau telah mengabulkan doaku. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang mengusik ketenangan mereka," batin Vania menatap Maharani yang masih nyaman dalam pelukan Dion dengan binar matanya penuh kebahagiaan.


🌺🌺🌺


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih banyak.


Follow Instagram Author : ekapradita_87