Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Awal Baik


Selamat membaca!


Mendengar kabar kedatangan keluarga Rendy ke rumahnya, membuat Maharani tak lagi antusias dalam menanti tamu istimewa yang sejak tadi ditunggu oleh Vania. Ia pun memilih untuk kembali ke kamarnya, bahkan nafsu makannya yang sempat membumbung tinggi itu hilang seketika.


"Mah, masih setengah jam lagi 'kan? Aku tunggu di kamar saja ya Mah," ucap Maharani yang terdengar tak bertenaga.


Sementara itu, Vania hanya tersenyum tipis saat melihat langkah sang putri yang tampak gontai saat meninggalkan ruang makan. Wanita paruh baya itu sudah dapat menebak, bahwa apa yang diucapkannya tadi jauh dari harapan Maharani.


"Maafkan Mama ya Maharani, tapi semua ini harus Mama lakukan. Mama hanya ingin memastikan bagaimana kamu menanggapi jawaban yang Mama sampaikan. Sekarang Mama sudah paham akan isi hatimu, walau kamu menyembunyikannya dengan sangat rapat, tapi pada akhirnya, ekspresi wajahmu semakin mempertegas tentang perasaanmu terhadap Dion," ucap Vania yang terus memandangi putrinya sampai langkah Maharani tak lagi terlihat oleh pandangan matanya.


...🌺🌺🌺...


Berbeda dengan situasi yang tengah terjadi dengan Maharani, wajah Dion saat ini terlihat tegang dan masih mematung di depan sebuah cermin yang berada di dalam kamarnya.


"Ya Allah, aku mohon buang rasa gugup ini," ucap Dion yang mulai merasa dingin pada ujung kukunya. Ia benar-benar gugup dengan apa yang dihadapinya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari yang paling bersejarah karena ini adalah pertama kalinya Dion akan melamar seorang wanita yang dicintainya.


Ketika waktu sudah menunjukan pukul 07.30 pagi, tiba-tiba suara ketukan pintu mulai terdengar bersamaan dengan langkah Dion yang juga hendak keluar dari kamarnya. Pintu pun terbuka dengan perlahan. Pria itu mulai menatap sosok Dini yang kini ada di depan pintu kamarnya.


"Ayo sayang, kamu sudah siapkan?" tanya Dini menatap selidik wajah putranya dengan binar kebahagiaan.


"Aku sudah siap, Mah. Makasih ya Mah, karena Mama sudah merestui pilihanku ini." Dion meraih tangan sang ibu untuk mencium punggung tangannya dengan perlahan.


Dini yang tak kuasa menahan rasa harunya, seketika mendekap tubuh Dion dengan begitu erat. "Mama juga bahagia, sayang. Kamu itu telah memilih wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup kamu. Masalah kemandulannya, itu adalah rahasia ilahi, karena Mama yakin, bahwa ilmu kedokteran tidak akan bisa mengalahkan kuasa Allah. Jadi Mama sangat percaya, bila suatu hari kamu dan Maharani pasti akan bisa memiliki seorang anak." Dini mengatakan semua itu dengan penuh kesungguhan. Bahkan saat ini, air matanya mulai berlinang hingga membasahi kedua pipinya.


"Sudah ah, jangan ciumin tangan Mama terus dong. Sisain buat Maharani nanti!" ujar Dini meledek putranya yang terlihat sangat bahagia akan momen yang akan terjadi beberapa saat lagi.


Dion pun mulai menyudahi dengan wajahnya yang mulai memerah karena sindiran Dini berhasil membuatnya tersenyum malu. "Iya Mah, aku sisain nih buat Maharani." Dion pun mulai membersihkan punggung tangan Dini dengan mengusapnya menggunakan lengan baju koko yang dipakainya. Baju koko berwarna putih dengan peci hitam yang dipakai di kepalanya. Membuat pria itu terlihat tampan dan memiliki aura yang begitu membuat hati siapapun tenang saat memandanginya.


"Ya udah ayo jalan, nanti calon kamu ke buru diambil orang lho! Soalnya Mama dengar-dengar mantan suaminya juga akan datang lho ke rumahnya hari ini."


Perkataan Dini spontan membuat Dion langsung menggenggam tangan sang ibu dan mulai menariknya untuk bergegas pergi ke rumah Maharani. Sementara itu, Dini yang melihat reaksi putranya yang berubah cemas, hanya terus memandangi punggung Dion yang sudah melangkah cepat di depannya, tanpa berkata sepatah kata apapun.


"Ya Allah, semoga ini adalah awal yang baik untuk Dion dan Maharani. Aku percaya, jika di dunia ini masih ada sebuah keajaiban dan aku yakin Kau akan memberikan mukjizat itu kepada Maharani, hingga ia dapat memiliki seorang anak," batin Dini yang terus mengikuti langkah putranya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87