Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Teka-Teki Vania


Selamat membaca!


Satu Minggu telah berlalu, masa iddah Maharani pun sudah usai berbarengan dengan selesainya waktu haid wanita itu.


Saat ini hati Maharani sudah jauh lebih tenang, tidak ada lagi kesedihan atas perpisahannya dengan Rendy yang kini telah menjadi bagian dari masa lalunya. Masa lalu yang sudah menjadi sebuah kenangan dalam perjalanan hidupnya.


Selesai menunaikan solat subuhnya, Maharani kini bergegas untuk keluar dari kamarnya. Tujuan awalnya adalah dapur, tempat dimana ia akan membantu sang ibu untuk menyiapkan sarapan paginya untuk mereka.


Setibanya di dapur, benar saja Vania yang kondisinya memang sudah jauh lebih baik, kini sedang berkutat dengan aktivitas memasaknya.


"Mah, Rani bantu ya! Tapi memangnya Mama masak apa sepagi ini kok udah sibuk di dapur? Kenapa enggak Bibi Mey saja yang masak sarapan untuk kita?" Maharani mulai mencecar beberapa pertanyaan pada Vania yang sedang berkutat dengan aktivitas memasaknya.


Vania yang melihat kedatangan putrinya pun langsung menoleh dengan mengulas senyuman hangatnya yang mengembang. Raut wajahnya saat ini terlihat begitu bahagia. Membuat Maharani begitu heran atas ekspresi yang baru saja dilihatnya dari wajah sang ibu.


"Mama kenapa malah senyum-senyum sih? Aku 'kan jadi penasaran tahu, memangnya apa yang buat Mama jadi sebahagia ini? Padahal ini 'kan masih jam 6 pagi, Mah." Maharani yang dibuat penasaran dengan kebahagiaan Vania, kembali melontarkan beberapa pertanyaan. Bahkan kali ini terdengar lebih menuntut agar sang ibu mau menjawab pertanyaannya.


Sambil terus melanjutkan aktivitasnya, Vania pun menjawab pertanyaan putrinya yang sudah tampak begitu penasaran.


"Iya sayang, Mama memang lagi bahagia banget pagi ini karena sesuatu hal, makanya Mama sengaja masak sendiri untuk menyambut kedatangan seseorang."


Kening Maharani mulai mengerut saat mendengar jawaban dari Vania yang tak menjawab apa yang ditanyakannya dan malah membuatnya semakin penasarannya. "Seseorang siapa sih, Mah? Kasih tahu Rani dong, masa masih pagi begini Mama udah bikin aku penasaran aja deh," ucap Maharani mulai merayu Vania dengan wajahnya yang mengiba. Namun, raut sendu yang ditampilkan oleh Maharani ternyata gagal meluluhkan hati sang ibu yang tetap bersikekeh untuk merahasiakan tamu istimewa yang membuat Vania sampai repot-repot memasak sendiri.


"Ada deh, kamu akan tahu jam 7.30 nanti. Mending sekarang kamu tunggu di ruangan keluarga aja sambil nonton TV, biar Mama yang masak semua ini sendirian."


Jawaban Vania semakin membuat rasa penasaran dalam diri Maharani kian membuncah. Namun, ia tidak ingin memaksa sang ibu untuk menjawabnya, jika memang tidak mau memberitahunya. Saat ini Maharani lebih fokus menatap pada bahan-bahan masakan yang masih belum diolah oleh sang ibu.


"Tapi ini 'kan ada banyak bahan yang mau Mama masak, mending Rani bantuin Mama aja di sini ya. Terserah deh kalau Mama enggak mau kasih tahu siapa seseorang yang dimaksud, tapi yang penting aku bantuin biar Mama enggak terlalu capek!" pinta Maharani dengan penampilannya yang sudah terlihat cantik karena ia memang sudah mandi sebelum menjalani kewajibannya di waktu subuh.


"Enggak perlu, sayang, biar Mama aja. Nurut ya, kamu cukup duduk manis sambil nonton TV atau baca koran. Mama bisa memasak semua ini dalam satu jam, kalau enggak percaya tungguin aja!" Vania masih tetap pada pendiriannya yang ingin memasak semuanya sendirian tanpa melibatkan putri tercintanya.


"Ya sudah deh kalau Mama yang maksa enggak mau aku bantuin. Aku tunggu di ruang keluarga saja ya, tapi jangan lama-lama Mah, aku benar-benar penasaran siapa tamu yang Mama maksud!" ucap Maharani yang akhirnya kalah dengan pendirian Vania. Wanita itu pun akhirnya memilih untuk menuruti perkataan sang ibu agar menunggu di ruang keluarga.


"Ya ampun, jangan-jangan yang mau datang ke rumah itu...? Tapi memangnya untuk apa dia bertamu sepagi ini?" batin Maharani sembari memilin jemarinya dan merasa gugup seketika.


Merasa apa yang dipikirkannya terlalu mengada-ada, Maharani pun segera menampik semua dugaannya yang belum tentu benar itu.


"Astaghfirullah, aku ini berpikir apa sih? Bisa jadi 'kan seseorang itu bukan Dion, tapi orang lain atau mungkin sahabat Mama sewaktu di sekolah dulu. Aku ini aneh ya, bisa-bisanya aku kepikiran sama Dion. Padahal semenjak telepon dan whatsapp-nya aku abaikan, dia sama sekali tidak pernah sekalipun menghubungiku," batin Maharani yang sesekali memukul keningnya.


Namun, entah kenapa pukulannya yang terakhir itu, sampai membuatnya mengaduh kesakitan.


"Aduh, sakit juga ya. Rani, Rani, kamu ini mikirin Dion langsung salah tingkah sendiri 'kan," batin Maharani sambil mengusap bagian keningnya yang terasa perih akibat pukulannya sendiri.


Sadar bahwa saat ini ia benar-benar merasa kacau, wanita itu pun mulai mengusap wajahnya sambil terus mengucap kalimat istighfar beberapa kali.


"Daripada mikirin Dion, mending aku nonton TV aja deh!" ucap Maharani sambil meraih remote yang tergeletak di atas meja.


Setelah menggenggam remote itu, Maharani segera menyalakan televisi yang ada di hadapannya dan mulai mencari acara seru untuk ditontonnya sambil menunggu sang ibu selesai dengan aktivitas masaknya di dapur.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar dan gift kalian ya.


Yuk berikan semangat kalian dengan bantu Author untuk promo novel ini ke media sosial kalian atau ke akun FB Noveltoon Indonesia dan FB Komunitas_Noveltoon, agar yang tahu keberadaan novel ini semakin banyak.


Terima kasih ya semua.


Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87