Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Momen Haru


Selamat membaca!


1 bulan kemudian setelah kejadian penyerangan itu, Nina kini telah mendekam di dalam penjara bersama dengan Angga yang ditangkap di apartemennya yang terletak di kawasan Mega Kuningan. Tak hanya itu, polisi pun berhasil mengungkap kematian Rendy yang sebenarnya bukanlah bunuh diri. Ya, hasil penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa Celine adalah dalang di balik pembunuhan itu. Alasan yang tak sebanding dengan seberapa berharganya nyawa seseorang, yaitu karena sebuah harta. Namun sayangnya, usaha Celine harus berakhir dengan kegagalan karena ternyata surat pengalihan harta kekayaan yang di tandatangani oleh Rendy sebelum pria itu dipaksa menenggak racun yang diberikan oleh Reno, ternyata palsu.


Saat ini, Maharani terlihat duduk di dalam kamarnya. Tepatnya di area balkon di mana wanita itu sedang menggenggam sepucuk kertas yang sempat dituliskan oleh Rendy sebelum pria itu mengembuskan napas terakhirnya. Surat yang kembali ia baca untuk kedua kalinya setelah wanita itu baru saja mendapatkan kabar dari pengacara Rendy bahwa mantan suaminya itu mati karena dibunuh oleh Celine dan Reno. Keduanya seolah membuat kematian itu seperti bunuh diri, walau pada akhirnya, pihak kepolisian berhasil mengungkapkannya.


"Mas, aku enggak nyangka kalau kamu akan pergi dengan cara seperti ini. Seandainya dulu kamu tidak terperangkap permainan Celine, mungkin kamu masih hidup sampai saat ini," ucap Maharani mulai membaca surat itu dengan linangan air mata yang tampak membasahi kedua pipinya.


Ran, setelah membaca surat ini, entah apakah aku masih hidup atau tidak? Hanya saja perasaanku mengatakan, aku harus membuat surat ini untuk menyampaikan permintaan maafku padamu. Kesalahanku begitu besar padamu, aku sudah mengkhianati pernikahan kita. Membuatmu hancur dan terpuruk karena pengkhianatan yang aku lakukan, tapi kamu harus tahu, Ran. Aku pun begitu hancur saat mengetahui bahwa Celine selama ini telah mempermainkanku karena mengincar hartaku. Aku memang tidak pantas dimaafkan, tapi setidaknya aku tidak ingin kamu benar-benar menganggap aku paling buruk dalam hidupmu. Permintaanku hanya satu, tinggallah di rumah kita. Rumah yang dulu kita beli dan memang untukmu. Bahagialah di rumah itu karena dengan kebahagiaanmu, entah di mana aku berada nanti, aku pasti ikut merasakannya. Maafkan aku ya, Ran. Maaf atas semua luka yang aku goreskan di hatimu, luka yang aku tahu tidak akan mudah untuk kamu lupakan. Aku harap kamu menerima semua pemberianku yang memang sudah menjadi hakmu. Semua itu milikmu, bukan milikku. Suatu saat jika memang aku tidak sempat mengatakan semua yang tertulis di surat ini secara langsung, datanglah ke tempat peristirahatan terakhirku dan doakan aku dengan suara indahmu saat membaca Al-Qur'an. Aku pasti akan bahagia mendengarnya."


Maharani mendekap erat surat itu, pikirannya saat ini hanya satu, yaitu mengabulkan permintaan terakhir Rendy untuk menempati rumah yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Rumah di mana dulu ia tak pernah berpikir akan pergi meninggalkannya. Namun, ia sadar betul bahwa semua keputusan itu harus seizin Dion, suaminya.


"Semoga Mas Dion mau mengabulkan keinginanku," lirih Maharani dengan begitu sendu.


Tiba-tiba suara Dion mulai terdengar dari belakang tubuh Maharani. Ya, ternyata pria itu memang sudah sejak tadi berdiri diambang pintu, mendengarkan Maharani membaca surat dari Rendy. Surat yang memang baru pertama kali ini ia ketahui isinya.


Kini Dion melangkah maju ke hadapan Maharani. Pria itu pun mulai berlutut sambil terus menatap wajah istrinya yang begitu sendu karena baru saja selesai membaca surat dari mantan suaminya yang telah tiada. "Jangan basahi wajahmu dengan air mata ya, sayang. Air mata ini adalah siksaan untukku. Jadi tolong! Jangan biarkan senyum bahagia itu hilang dari wajah cantikmu ini, apalagi hari ini adalah satu bulan pernikahan kita."


Maharani coba mengatur irama napasnya yang terisak. Kini sebuah senyuman manis mulai coba ia kembangkan dari kedua sudut bibirnya yang sejak tadi hanya terkunci rapat. "Terima kasih ya, Mas. Terima kasih banyak karena kamu seperti pelangi dalam hidupku yang kelam. Kamu bukan hanya membuat hidupku menjadi penuh warna, tapi juga melengkapi aku yang tidak sempurna ini." Sekuat apa pun wanita itu menahan air matanya, bulir bening itu seolah tak mampu ditahan dan kembali jatuh berderai membasahi kedua pipinya.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Kamu jangan lupa, kalau langit itu tidak akan indah tanpa pelangi, begitu juga dengan hidupku. Aku tanpa kamu, hanya akan menjadi langit yang biasa dengan awan. Hidupku indah karena kamu," jawab Dion sambil mengusap air mata di kedua pipi istrinya. Membuat resah yang sempat mengusik hati Maharani mulai berangsur hilang. Terlebih ketika Dion menangkup kedua sisi wajahnya dengan lembut dan mengecup dahinya.


Momen penuh haru yang tercipta di sore itu. Sore di mana mereka telah melewati satu bulan pernikahannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian. Terima kasih atas dukungannya.Follow Instagram Author : ekapradita_87