
Selamat membaca!
Malam yang penuh dengan ribuan bintang terlihat indah di hamparan langit yang luas. Kala itu Maharani tampak berada di balkon kamarnya, ia baru saja kembali setelah menemani sang ibu hingga wanita paruh baya terlelap dari tidurnya. Sesekali kedua matanya melihat ke arah kamar Dion yang kebetulan berada saling berhadapan dengan balkon kamarnya. Ia masih menyimpan rasa tidak enak karena telah mengabaikan panggilan telepon dan juga pesan whatsapp dari pria itu. Namun, ia merasa hal itu adalah keputusan yang tepat dengan segala kekurangan yang dimiliki saat ini.
"Maafkan aku Dion bila keputusanku sampai mengecewakanmu. Hanya saja aku tidak ingin kekecewaan itu harus berlangsung seumur hidupmu karena aku tidak bisa memberikanmu keturunan," ucap Maharani dengan kedua mata yang seketika mulai berkaca-kaca.
Saat ini wanita itu masih terus memandangi kamar Dion yang sudah terlihat gelap dan sangat minim penerangan. Hingga ia dapat menebak, jika sang dokter mungkin sudah terlelap karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang terasa begitu cepat berlalu, padahal ia merasa baru tadi sore berada di dalam kamar Vania. Mereka saling bercengkrama satu sama lainnya dan kala itu Vania menjadi pendengar yang baik dalam setiap cerita Maharani. Termasuk tentang buket bunga dan juga surat yang Dion kirimkan untuknya. Walau awalnya Vania kurang sependapat terhadap keputusan Maharani, tapi wanita paruh baya itu tahu, bahwa putrinya adalah seorang wanita dewasa yang sudah bisa menentukan pilihannya sendiri tanpa harus ia paksakan. Namun, walau tak ingin memaksakan kehendak sang putri, Vania sempat mengatakan sesuatu yang membuat Maharani mulai mempertimbangkan keputusannya kembali. Sesuatu mengenai kemandulan yang saat ini dialaminya.
"Kemandulanmu hanyalah sebuah diagnosa dari Dokter, tapi kamu harus tahu mereka itu bukanlah Tuhan yang bisa menentukan jalan hidup seseorang."
Perkataan Vania masih terus teriang dalam ingatan Maharani. Membuat setitik harapan mulai timbul di dalam hatinya. Sebuah harapan dimana dirinya bisa mendengar suara dari seorang anak yang memanggilnya dengan sebutan Mama. Ya, Maharani tak mengubur impian itu. Impian untuk menjadi seorang ibu. Impian untuk menggendong seorang bayi lucu dan mungil yang akan ia berikan segenap cinta juga kasih sayangnya.
Merasa sudah mulai mengantuk, Maharani pun melangkah masuk kembali ke dalam kamar bersamaan dengan pintu balkon kamar Dion yang terbuka. Bahkan pria itu sempat melihat punggung Maharani saat memasuki kamarnya.
"Rani, sudah berapa lama ya dia berada di balkon? Pantas saja sejak tadi aku merasa ingin sekali keluar dari kamar, tapi ternyata aku terlambat." Dion terus memandangi kamar Maharani yang beberapa detik kemudian menjadi gelap. Sebuah tanda bahwa sang pemilik kamar saat ini sedang mencoba untuk tertidur.
"Selamat malam ya, Ran. Mimpi yang indah. Aku sebenarnya sudah tahu apa alasanmu menjauh dariku, tapi beberapa hari ini aku akan memberikanmu waktu agar kamu bisa tenang untuk berpikir dan aku tidak akan mengganggu dengan menghubungi lagi," gumam Dion yang kembali masuk dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamarnya.
...🌺🌺🌺...
Di sebuah kamar apartemen yang berada di pusat kota Jakarta, wajah Celine tampak masam dan ia begitu sulit untuk memejamkan kedua matanya. Saat ini perasaannya masih dipenuhi amarah, terlebih ketika wanita itu mengingat kembali pengusiran yang dilakukan oleh Rendy terhadapnya. Hal yang membuatnya harus mengubur impian untuk dapat menguasai seluruh harta Rendy. Namun, malam ini ia tak sendiri seperti biasanya, karena seorang pria bernama Reno juga terlihat berada di atas ranjang bersamanya. Ya, pria yang baru saja tiba di apartemen satu jam yang lalu itu adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Celine.
Setelah meluapkan hasrat yang terpendam dalam diri keduanya, kini percakapan pun tampak terdengar di antara keduanya. Percakapan yang mulai memanas ketika mereka saling menyalahkan atas kegagalan yang mereka alami untuk menguasai harta Rendy.
"Jadi kamu nyalahin aku! Kamu itu yang enggak sabaran pakai menghubungiku segala! Pokoknya semua ini karena kesalahan kamu."
"Ya, aku wajar menghubungimu, aku takut kamu melupakan aku dan malah jatuh cinta sungguhan sama Rendy!"
"Pikiran kamu pendek banget!" geram Celine yang mulai bangkit dari posisi tidurnya tanpa sehelai pakaian pun menuju kamar mandi. Meninggalkan Reno yang hanya menatap kepergian Celine sambil mulai berpikir akan rencana apalagi yang harus dijalaninya untuk dapat menguasai harta Rendy.
Setelah berpikir beberapa detik, tiba-tiba sebuah rencana terbesit di dalam pikirannya. Rencana untuk dapat menjebak Rendy dan membuat pria itu mau menyerahkan seluruh hartanya kepada Celine.
"Tunggu saja kau Rendy, sebentar lagi kamu akan jadi gembel. Aku tidak akan melupakan penghinaanmu saat kau memecatku dulu." Reno terlihat mulai menampilkan seringainya yang seketika mengembang dari sebelah sudut bibirnya.
Seringai yang menyiratkan sebuah rencana licik untuk membalas rasa sakit hati, sekaligus dendam lamanya yang belum terbalaskan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar dan gift kalian ya!
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87