Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Bahagia


Selamat membaca!


1 Minggu sudah sejak Anindya tinggal bersama Dion dan Maharani. Kehadiran gadis kecil itu dapat merubah suasana rumah yang sering terasa sepi, menjadi penuh suka cita. Suara riang Anindya saat bermain, senantiasa menemani hari-hari Maharani. Belum lagi sifat manja gadis kecil itu, benar-benar membuat Maharani merasa seperti memiliki seorang anak. Walaupun Anindya tak berasal dari rahimnya sendiri.


Rasa sayang yang Maharani curahkan terhadap Anindya, sungguh membuat gadis kecil itu merasa nyaman. Tak ada perasaan asing, terlebih atas semua hal yang dilakukan oleh Maharani untuknya. Bahkan saat ini, Anindya sudah kembali bersekolah di tempat terbaik. Tempat yang sengaja dipilih oleh Maharani demi pendidikan anak angkatnya itu.


"Mas, seperti biasa hari ini aku akan menemani Anindya di sekolahnya ya," ujar Maharani sambil mendekap tubuh Dion dari belakang.


Dion yang tengah bercermin pun seketika memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan sosok istrinya itu. "Sayang, tolong dong jangan menggoda aku seperti ini! Apalagi aku mau berangkat kerja lho!" protes Dion yang memang selalu gagal menahan hasratnya. Terlebih saat tubuh Maharani menempel erat dengannya.


Mendengar perkataan itu, Maharani pun langsung menjaga jaraknya. "Mas, semalam kan kita sudah lembur. Apa kamu enggak puas?" tanya Maharani sambil bersedekap dengan kedua alis saling bertaut.


Tanpa isyarat, Dion pun menarik tubuh Maharani untuk mendekapnya. "Bagaimana sebelum aku berangkat? Kita ulang lagi yang semalam, sayang." Wajah Dion begitu dekat dengan Maharani yang coba melepaskan dirinya. Namun sayangnya, usahanya harus gagal karena Dion tetap menuntun tubuhnya menuju ranjang.


"Mas, Mas, kamu kan mau kerja. Nanti malam saja, Mas." Maharani coba menahan keinginan Dion.


"Enggak apa-apa ya, sayang. Sekali-kali kita coba di pagi hari." Dion bersikekeh dan mulai melepaskan pakaian Maharani. Namun, saat Dion hendak mencium kedua bukit kembar istrinya itu, tiba-tiba suara manja terdengar keras memanggil nama Maharani.


"Mas, itu Anindya datang. Nanti kalau dia tiba-tiba masuk bagaimana?"


Dengan terpaksa, Dion pun mengurungkan niatnya. Pria itu kini mulai merapikan kemejanya yang tampak kusam dengan kedua tangannya.


"Iya, Mas." Maharani mengusap rahang wajah suaminya yang benar-benar terlihat menahan hasrat dalam dirinya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan benar saja Anindya masuk dengan wajah riangnya. Wajah yang seketika membuat senyum teduh Dion mulai terulas, apalagi saat melihat hubungan yang terjalin antara Maharani dan Anindya. Hubungan yang awalnya asing, kini terlihat begitu dekat layaknya hubungan sedarah.


"Kehadiran Anindya benar-benar membuat Maharani selalu bahagia. Aku berharap kebahagiaan itu bisa selalu ada di rumah ini," batin Dion terus menatap haru kedekatan antara Maharani dan Anindya.


"Mas, ayo kita sarapan dulu!" ajak Maharani, menghentikan langkahnya di ambang pintu sambil menatap suaminya yang tengah diam termangu.


Seketika lamunan Dion pun sirna, pria itu langsung menghampiri istrinya dan juga Anindya untuk bersama-sama menuju ruang makan.


Di saat ketiganya keluar dari kamar, ternyata Dion meninggalkan ponselnya di atas nakas. Ponsel itu tampak bergetar dengan layar yang mulai bercahaya. Tertera nama Anjani terlihat di sana. Panggilan telepon yang ternyata berasal dari wanita dari masa lalu Dion.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian. Terima kasih atas dukungannya. Follow Instagram Author : ekapradita_87