Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Terharu


Selamat membaca!


Setibanya di rumah, Maharani langsung mengurung dirinya di dalam kamar. Selama perjalanan pulang ia lebih banyak diam. Memendam rasa sakit yang begitu dalam akibat perkataan Anjani. Namun, ia berusaha sekuat hati menahannya. Maharani tak ingin bila Anindya jadi ikut bersedih atas apa yang telah dialaminya.


"Ya Allah, apa aku akan kehilangan laki-laki yang aku cintai lagi untuk kedua kalinya?" lirih Maharani sambil mendekap sebuah bantal dengan erat. Derai air mata yang sejak tadi ia tahan, kini seketika menetes deras hingga membuat kedua pipinya menjadi basah.


Di tengah kesedihannya itu, suara ketukan pintu terdengar. Menjeda tangisan Maharani yang seketika sibuk mengusap air matanya. "Iya, sayang. Kenapa?" tanya Maharani saat mengetahui bahwa seseorang yang ada di depan pintu adalah Anindya, putri angkatnya. Ya, gadis kecil itu merasa aneh dengan sikap Maharani yang selama perjalanan lebih banyak diam tanpa kata. Bahkan beberapa kali pembahasan tentang apa yang dilakukannya di sekolah, tak mendapatkan tanggapan dari wanita itu.


"Mama, bukain pintunya, Anin mau masuk. Mama kenapa?" tanya Anindya merasa cemas akan kondisi Maharani karena tak biasanya wanita itu langsung masuk ke dalam kamar sepulang dari sekolahnya.


Maharani pun bangkit dengan cepat. Ia mulai melangkah ke depan cermin. Memastikan bahwa tak ada lagi air mata yang tersisa di kedua pipinya.


"Aku enggak boleh terlihat sedih di depan Anin." Maharani pun menepuk kedua pipinya beberapa kali sebelum kembali melangkah menuju pintu kamar.


Setelah membuka pintu, Anindya langsung memeluk Maharani. Membuat wanita itu bertanya-tanya tentang apa yang ada di pikiran gadis kecil itu saat ini.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Maharani yang kemudian mulai berlutut hingga membuat pandangan keduanya saling bertemu.


"Mama yang kenapa? Sepertinya Mama sedang sedih ya?" tanya Anindya yang paham betul akan perubahan sikap Maharani hari ini.


"Mama enggak apa-apa kok, sayang. Memangnya kenapa? Apa yang Anin pikirin sih?" Maharani menangkup kedua sisi wajah Anindya dengan lembut. Ada air mata yang membasahi kedua pipi gadis kecil itu. Membuat Maharani mulai merasa bersalah.


"Aku tahu Mama sedih. Apa Mama sedih karena wanita yang datang ke sekolah aku itu?" tanya Anindya, seketika membuat Maharani tercengang karena ia tak menyangka bila putrinya bisa menebak sampai ke arah sana.


"Tidak, sayang. Mama enggak sedih kok. Coba lihat nih. Mama senyum, kan?" Maharani coba menutupi kesedihannya. Namun, Anindya adalah gadis kecil yang pintar. Ia tak begitu saja percaya atas apa yang dikatakan oleh Maharani.


"Baiklah, kalau Mama tetap enggak mau cerita sama aku, tapi kalau sama papa, Mama pasti akan cerita." Anindya seolah telah melakukan sesuatu yang sama sekali tak diketahui oleh Maharani. Membuat wanita itu mulai berpikir keras atas maksud perkataan putri angkatnya yang mengundang rasa penasarannya.


"Aku sudah menghubungi, papa. Aku sudah memintanya untuk pulang lebih cepat, soalnya aku khawatir sama Mama. Mama sudah satu jam lebih mengurung diri di dalam kamar sejak pulang sekolah tadi. Mama itu beda banget enggak seperti biasanya. Biasanya Mama itu selalu ke kamar aku dulu bertanya apa aku ada PR yang harus diselesaikan atau tidak. Mah, Anin itu sayang sekali sama Mama, tolong Mama jangan sedih lagi ya!" ungkap Anindya dengan keluguannya.


Maharani begitu terharu, saat mendengar perkataan Anindya yang telah memerhatikan. Membuat air mata yang sudah ia sembunyikan sejak tadi, kini kembali berlinang membasahi kedua pipinya.


"Mama, juga sayang sama Anin. Sayang banget." Maharani mendekap erat tubuh mungil Anindya.


"Mama janji sama Anin ya! Setelah ini, Mama harus lebih kuat lagi. Kata Bu guru, kalau ada orang lain yang menyakiti hatimu, kita tidak usah membalasnya. Kita cukup berdoa dan biarkan Allah yang memberikan balasannya."


Maharani pun mengurai pelukannya. Kedua mata yang tampak basah oleh air mata itu kini mulai menatap dalam wajah putri angkatnya dengan penuh cinta. "Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah hadir dalam hidup Mama untuk melengkapi Mama yang enggak sempurna ini."


"Mama, jangan berkata begitu ya! Mama itu sempurna untuk Anin," jawab Anin sambil mengusap air mata di kedua pipi Maharani dengan jemari mungilnya.


Di saat percakapan itu semakin mengharukan, tiba-tiba saja suara Dion memecahkan keheningan saat itu. "Betul kata Anin. Kamu juga sempurna bagiku. Memang siapa yang bilang seperti itu ke kamu?" tanya pria itu dengan senyum teduhnya.


Maharani tak membalas perkataan Dion. Ia hanya diam tanpa kata. Bahkan hanya sejenak menatap Dion sebelum akhirnya kembali membuang pandangannya.


"Mah, Mama enggak boleh bertengkar ya sama papa! Sekarang Anin ke kamar dulu ya, soalnya ini urusan orang dewasa dan Anin belum cukup umur untuk mendengarkannya," ucap Anindya, lalu mencium sebelah pipi Maharani sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Maharani yang tengah menata hatinya, di saat perkataan Anjani kembali teringang di pikirannya.


"Kenapa Rani seperti marah padaku ya? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kedatangan Anjani tadi pagi?" batin Dion yang hanya menatap dengan penuh tanda tanya, saat Maharani kembali masuk ke dalam kamar setelah kepergian Anindya. Wanita itu bahkan sampai tak mencium punggung tangannya seperti yang biasa dilakukannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian ya. Terima kasih sudah setia mengikuti kisah Maharani sampai di episode ini. Follow Instagram Author untuk berinteraksi : ekapradita_87