
Selamat membaca!
Dion terus melangkah dengan tergesa menyusuri koridor menuju lobi untuk menuju mobil sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Anjani. Ada rasa cemas yang dibalut bahagia dalam hatinya. Di satu sisi, ia begitu tertekan karena harus mengatakan sesuatu yang tak diinginkannya. Namun di sisi lain, ada rasa bahagia yang harus dipendamnya di hadapan Maharani. Kebahagiaan yang memang sudah lama dinantikannya.
"Ya Allah, terima kasih karena kau telah mengabulkan doaku. Sekarang kita lihat Anjani, sebatas apa permainanmu ini! Kau pikir apa yang kau lakukan ini bisa membuatmu menang! Sepertinya kau lupa bahwa aku masih memiliki Tuhan yang bisa membuat kejahatan yang kau lakukan akan kalah," batin Dion dengan ponsel yang masih menempel erat pada daun telinganya.
Panggilan telepon itu masih terus terhubung. Membuat Dion tak bisa berkutik selain mengikuti apa yang diinginkan oleh wanita itu. Terlebih saat Anjani mengancam akan menyuruh anak buahnya untuk menghabisi ibunya.
"Sekarang apa yang sebenarnya direncanakan oleh Anjani? Kenapa dia menyuruhku untuk pergi ke Bogor," batin Dion yang tiba-tiba melihat Indah melintas jauh di depan sana.
"Apa kamu sudah sampai ke mobilmu, Dion?" Tiba-tiba pertanyaan Anjani terdengar lantang dari seberang sana. Wanita itu kini tengah merasa menang dalam usahanya memiliki Dion kembali.
"Belum Anjani. Sebentar lagi, ini aku baru sampai di lobi," jawab Dion yang masih terus memikirkan sebuah rencana agar Maharani bisa tahu bahwa apa yang dikatakannya tadi adalah karena ia tengah berada dalam ancaman Anjani.
"Mungkin aku bisa menitipkan pesan kepada Indah agar dia bisa menjelaskan kepada Maharani tentang apa yang terjadi!" gumam Dion yang mulai menemukan ide setelah sejak tadi tak bisa berpikir apa-apa selain mencemaskan Maharani karena talak yang diucapkannya.
"Aku kasih kamu waktu 30 detik untuk sampai di mobil! Ayo cepat!" ancam Anjani. Namun, Dion hanya terdiam tak menjawab sepatah kata pun.
"Ingat Dion! Jika panggilan telepon ini terputus, maka anak buahku pasti akan menghabisi Mama Dini. Jadi jangan macam-macam dan segera pergi ke mobil!" kecam Anjani setelah tak mendapatkan jawaban dari Dion.
"Iya Anjani, aku mengerti." Dion pun kini sudah menempelkan jari telunjuk pada bibirnya ketika pandangan Indah sudah melihat ke arahnya. Sebuah isyarat agar Indah diam dan tak menyapanya.
"30, 29, 28, 27," ucap Anjani mulai menghitung. Membuat Dion tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semua kepada Indah yang saat ini terlihat heran akan sikap atasannya. Terlebih apa yang ditampilkan oleh Dion tak pernah sekalipun ditunjukannya.
"Ada apa ya dengan Dokter Dion?" batin Indah yang hanya diam melihat Dion menuliskan sesuatu pada secarik kertas.
Setelah selesai menuliskan sebuah pesan untuk Maharani, kini Dion kembali melangkah. Kali ini pria itu memacu langkah kakinya dengan berlari karena waktu yang dikatakan oleh Anjani sudah semakin habis.
"10, 9, 8, " ucap Anjani yang malah semakin mempercepat hitungannya.
Teguran itu tak mendapat jawaban dari Dion yang hanya tersenyum singkat dan masuk begitu saja ke dalam mobilnya. "Sekarang aku sudah sampai, Anjani," ucap Dion sesaat setelah ia duduk di kursi kemudi.
Anjani pun seketika berhenti menghitung. "Bagus, sekarang panggilan ini aku pindahkan ke video call. Aku tidak ingin kamu macam-macam, Dion. Jangan sampai Mama Dini jadi korban atas kebodohanmu! Lagian apa untungnya kamu menikah dengan wanita mandul itu?"
"Jaga mulut kamu, Anjani!" Sebenarnya Dion ingin sekali mengatakan sesuatu yang baru saja diketahuinya. Namun, ia memutuskan untuk menahan diri. Baginya, terlalu berbahaya jika Anjani tahu bahwa rencananya harus gagal karena ternyata talak yang disampaikan oleh Dion terhadap Maharani tidak berpengaruh apa pun pada pernikahannya.
"Sebaiknya aku bersabar dulu. Anjani tidak perlu tahu kehamilan Maharani saat ini. Semoga saja setelah membaca pesan yang aku titipkan kepada Indah, Maharani bisa mengerti," batin Dion berharap sambil mulai melajukan mobilnya dan memindahkan panggilan teleponnya menjadi video call.
Pada layar ponselnya, Dion pun dapat melihat sebuah dekorasi sederhana di mana terdapat beberapa kursi yang mengelilingi satu meja persegi di tengahnya.
"Ingat Dion, satu jam kamu harus sudah tiba di sini. Kalau tidak maka aku tidak punya pilihan lain selain menyuruh anak buahku untuk menghabisi Mama Dini!" kecam Anjani dengan tawa singkatnya yang terdengar renyah.
"Kalau sampai ibuku terluka! Maka aku tidak akan pernah menuruti semua keinginanmu, Anjani!" Dion balik mengancam. Tujuannya hanya satu, yaitu melindungi Dini yang saat ini sedang berada dalam tawanan anak buah Anjani di Jakarta. Tempat berbeda dengan yang ditujunya saat ini.
"Baiklah, sayang. Kamu tenang saja! Asalkan kamu mau mengikuti semua yang aku katakan, Mama Dini tidak akan terluka. Jangan lama-lama ya! Aku sudah tidak sabar lagi untuk menjadi istri sahmu!" ungkap Anjani dengan seringai licik yang mengembang dari sebelah sudut bibirnya.
Saat ini, Anjani sudah terlihat cantik dengan mengenakan sebuah kebaya modern berwarna putih. Warna yang senada dengan dekorasi yang Dion lihat pada layar ponselnya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Doakan Author ya agar bisa kembali sehat setelah kemarin sakit.