
Selamat membaca!
Dengan langkah yang tergesa, Maharani bersama Dion dan juga Dini tampak menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ruangan UGD tempat di mana Anindya tengah mendapatkan penanganan dari tim medis. Ada rasa cemas yang begitu dirasakan ketiganya saat ini. Terlebih setelah mendengar isak tangis Vania pada sambungan telepon saat di perjalanan.
"Mas, aku cemas sekali memikirkan Anin. Anin kenapa ya? Kenapa dia bisa tidak sadarkan diri? Kenapa Mas?" tanya Maharani kepada Dion sambil terus melangkah dengan cepat.
"Aku sendiri enggak tahu, sayang. Mungkin Anin sakit, tapi dia tidak memberitahu kita. Sekarang kamu tenang ya! Ingat sayang, kamu harus jaga kandungan kamu jangan sampai terguncang karena terlalu cemas memikirkan Anin." Dion pun coba menenangkan istrinya yang tengah panik karena memikirkan kondisi anak angkatnya.
"Benar kata Dion, sayang. Mau bagaimanapun, kamu harus ingat kandung kamu! Percaya sama Mama, Anin pasti baik-baik saja. Sekarang lebih baik kita berdoa untuk Anin!" timpal Dini menambahkan perkataan Dion agar Maharani bisa tenang saat ini.
"Ya Allah, di tengah kebahagiaan yang aku rasakan atas kehamilanku ini, kenapa harus ada kesedihan lagi yang Kau berikan? Aku mohon ya Allah, jangan sampai ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Anin," batin Maharani berdoa penuh kesungguhan.
Setelah langkah ketiganya berbelok ke kanan, pandangan Maharani mulai dapat melihat Vania yang kini terlihat sedang mondar-mandir di depan ruang UGD. Tampak jelas sekali, bila wanita paruh baya itu benar-benar cemas akan kondisi Anindya.
"Mama," ucap Maharani dengan setengah berlari menghampiri Vania.
"Rani." Vania pun menyambut kedatangan putrinya itu dengan sebuah pelukan. Pelukan erat untuk saling menguatkan satu sama lain.
"Mah, Anin kenapa? Kenapa dia bisa pingsan? Kenapa Mah?" tanya Maharani mencerna beberapa pertanyaan kepada sang ibu yang memang berada di rumah bersama Anindya saat ia meninggalkannya untuk pergi ke klinik bersama Dion.
"Mama enggak tahu sayang. Mama tadi cuma ninggalin Anin salat doang, terus pas Mama kembali, dia sudah pingsan di kamar dengan darah di mulut dan telapak tangannya," ungkap Vania menjawab pertanyaan Maharani dengan raut penuh kesedihan.
Sontak jawaban Vania membuat Maharani sangat terkejut. Ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa anak seusia Anindya harus mengalami hal seperti saat ini. Padahal saat pertama kali Maharani bertemu dengan gadis kecil itu, kondisi Anindya terlihat sehat, tak seperti sedang menderita suatu penyakit apa pun.
Sama halnya dengan Dion yang sejak tadi ikut merasa cemas memikirkan Anindya, pria berwajah tampan itu kembali mengingat akan doa putri angkatnya. Doa untuk menukar nyawanya demi kehamilan Maharani. Hal yang benar-benar terjadi hingga membuatnya sampai menyangkut-pautkan semua yang terjadi dengan Anindya saat ini.
"Kira-kira Anin sakit apa ya? Kenapa bisa ada darah yang keluar dari mulutnya? Apa mungkin Anin menderita kanker lambung?" batin Dion menduga setelah mendengar dari cerita Vania.
Di tengah rasa cemas yang semakin membuncah dalam diri mereka, seorang dokter pun tampak keluar dari ruangan yang langsung dihampiri oleh keempatnya.
"Dokter, jadi bagaimana keadaan putri saya? Kenapa putri saya sampai mengeluarkan darah dari mulutnya, Dok?" tanya Maharani, tak bisa dipungkiri saat ini jantungnya terasa berdetak tak beraturan menanti jawaban dari sang dokter.
"Saya masih belum bisa memastikan, tapi biasanya anak yang tiba-tiba muntah darah kemungkinan ada masalah pada lambungnya atau pembuluh darahnya dan oleh karena itu, untuk pemeriksaan lebih lanjut kami sarankan untuk melakukan gastrokopi agar kita bisa tahu dan mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh putri, Ibu," ungkap Dokter tersebut menjelaskan kondisi yang saat ini tengah dialami oleh Anindya sesuai dengan hasil pemeriksaannya.
Mendengar sesuatu yang asing di telinganya, Maharani seketika menoleh untuk melihat suaminya yang berada tepat di belakangnya. "Mas, jadi bagaimana? Gastrokopi itu apa, Mas?" tanyanya yang memang baru kali ini mendengar akan hal itu.
"Gastrokopi itu adalah memasukkan alat seperti kamera ke dalam lambung agar dokter bisa mendiagnosa penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Anin."
"Ya sudah, Dokter. Lakukan yang terbaik untuk putri saya," jawab Dion sambil melangkah maju hingga berhadapan dengan sang dokter.
Sebenarnya ada hal yang ingin Dion tanyakan secara lebih detail kepada dokter tersebut. Namun, ia tak ingin membuat istrinya semakin cemas jika sampai mendengar jawabannya.
"Sebaiknya aku tanyakan nanti saja di ruang dokter agar lebih leluasa," batin Dion memutuskan.
Sebagai sesama dokter, pria itu sangat mengerti akan perkataan yang disampaikan oleh dokter tersebut. Terlebih dokter itu sampai menyarankan agar Anindya melakukan gastrokopi, itu artinya penyakit yang menimpa anak angkatnya itu tergolong cukup berat.
"Baiklah kalau begitu, kami akan lakukan saat ini juga. Tolong Bapak urus dulu segala administrasi di bagian resepsionis ya! Kalau sudah tidak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi dulu!" Dengan ramah, dokter pun pergi untuk menyiapkan tindakan selanjutnya kepada Anindya. Meninggalkan Maharani yang seketika menangis dengan terisak.
"Ya Allah, Mas. Kasihan Anin, aku enggak mau Anin sampai kenapa-kenapa," ucap Maharani yang sudah tak kuasa menahan air matanya agar tak berlinang membasahi kedua pipinya. Melihat istrinya yang tengah menangis terisak, Dion pun langsung mendekap tubuh Maharani dan coba menenangkannya.
"Sayang, kamu harus kuat ya menjalani semua ini! Kamu harus percaya semua sudah menjadi bagian dari takdir yang Allah atur untuk kita. Kalau kamu kuat, Anin pasti kuat, tapi kalau kamu menangis di hadapan Anin nanti, dia pasti jadi ikut sedih nantinya," tutur Dion terus menenangkan istrinya yang benar-benar terpukul atas apa yang dikatakan oleh dokter.
Tak hanya Maharani, Vania, dan juga Dini pun merasakan hal yang sama. Keduanya hanya bisa bersandar pada kursi yang tersedia di sana karena tak mampu lagi berdiri setelah mendengar perkataan dari dokter tersebut. Walaupun mereka tidak semengerti Dion dalam mencerna setiap perkataan dokter, tapi keduanya sudah dapat menebak bahwa ada sesuatu yang menakutkan nantinya.
"Ya Allah, Din. Kasihan Anin ya!" Vania hanya bisa menangis, meratapi kenyataan yang memaksanya untuk kuat menerimanya. Tentu bukan perkara mudah, apalagi Vania sudah menganggap Anindya seperti cucunya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah miliki di usianya yang sudah menua seperti saat ini.
"Sabar ya, Vania. Kita harus terus berdoa karena hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita harus percaya, Anin pasti baik-baik saja. The power Is mind, Van." Dini coba menenangkan sahabatnya yang juga terlihat benar-benar terpukul sama seperti Maharani.
"Apa aku harus cerita ya sama Rani, apa yang aku dengar sewaktu Anin berdoa untuknya? Sebaiknya aku ceritakan itu agar Rani bisa tahu bahwa mungkin ini memang sudah menjadi kehendak dari Allah," batin Dion yang masih terus mengusap punggung istrinya.
...🌺🌺🌺...
Di tempat lain, di sebuah rumah yang terlihat sederhana dan tak jauh dari restoran tempat di mana Dion dan juga Maharani bertemu dengan Anindya, Erma yang tampak menonton televisi dibuat sangat terkejut ketika ia melihat sosok wanita yang dikenalnya terpampang jelas pada layar kaca.
"Itu Anjani. Kenapa dia bisa terlibat kejahatan itu ya?" tanya Erma yang langsung mengambil remote televisinya, lalu memperbesar volume televisi miliknya agar lebih jelas terdengar.
"Seorang dokter terlibat kasus penculikan karena alasan asmara. Saat ini, korban sudah berhasil diselamatkan dan dokter tersebut telah diamankan di Polresta kota Bogor," ucap Reporter itu yang langsung menyampaikan berita tersebut dari polresta kota Bogor.
"Aku harus menemuinya dan memberitahu pada Anjani jika Anin sudah hilang. Siapa tahu Anjani punya solusi agar aku bisa menemukan Anin?" batin Erma memutuskan sambil mematikan televisinya dan bersiap pergi ke tempat di mana Anjani ditahan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️