Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Dendam


Selamat membaca!


Pagi itu, selesai melaksanakan salat subuh berjamaah, Maharani langsung melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Dion yang memilih untuk kembali tidur.


Riang langkahnya terus menuruni anak tangga. Tak henti senyuman itu terulas dari kedua sudut bibir merahnya yang ranum. Ia merasa bahagia akan hidup barunya menjadi istri dari seorang Thoriq Dion Prasetya. Walaupun kebahagiaannya sempat terusik karena sikap Nina yang begitu melukainya. Namun, semua itu tak membuat kebahagiaan Maharani hancur karena Dion menatanya kembali dengan cepat.


Kini langkahnya terhenti di dapur, tempat di mana ia akan memasak makanan untuk suaminya. Masakan yang ia harap akan disukai oleh Dion.


"Semoga saja Mas Dion suka dengan masakan ini. Untung saja aku sudah menitipkan list belanja kepada Bibi Mei," ucap Maharani sambil membuka lemari pendingin yang berada di sisi kirinya.


Setelah menyiapkan berbagai macam bahan-bahan masakan, Maharani pun mulai mengolahnya.


"Ya Allah, Mba. Kenapa jadi Mba yang masak? Sini biar Bibi saja!" ucap Bibi Mei coba mengambil alih ketika ia baru saja tiba di dapur dan melihat majikannya sedang mengolah bahan-bahan masakan.


"Ya, enggak apa-apa, Bi. Lagipula kan aku masak untuk suami sendiri. Ini hari pertama aku menjadi istri Mas Dion jadi aku ingin sarapan pagi ini juga istimewa."


Bibi Mei coba memaklumi atas keinginan Maharani. Ia pun mendukung wanita itu dan tak lagi memaksanya untuk berhenti.


"Ya sudah kalau gitu, biar Bibi bantu nyiapin bahan-bahannya saja ya, Mba." Sebuah ide terlontar dari mulut Bibi Mei karena tak bisa membiarkan Maharani harus sibuk memasak seorang diri.


"Iya Bi. Makasih ya," jawab Maharani dengan senyum yang mengembang.


()()()()()


Sementara itu di kediaman Rendy, tampak wanita itu sudah berada di balkon kamar dari beberapa menit yang lalu. Sejak semalam, ia memang tak bisa terlelap karena memikirkan kematian Rendy yang tiba-tiba. Membuatnya begitu kehilangan akan sosok pria yang selama ini selalu jadi kebanggaannya. Rasa kehilangan itulah yang menimbulkan dendam di hati Nina. Dendam yang membuatnya berencana untuk tak membiarkan Maharani bahagia atas pernikahan barunya.


"Baiklah, aku akan melakukannya untukmu, tapi kamu harus ingat baik-baik, segala resiko yang terjadi nantinya, kamu harus bertanggung jawab penuh. Jangan pernah libatkan aku!" Seseorang dari seberang sana coba mengultimatum Nina sebelum dirinya mulai menjalankan rencana yang telah wanita itu katakan padanya.


"Iya, kamu tenang saja. Pokoknya kamu harus melakukan apa yang tadi aku katakan!" Nina kembali mengingatkan rencananya kepada seseorang yang saat ini masih mendengarkannya bicara.


"Baiklah, tapi kamu transfer dulu 10 juta ya! Aku benar-benar sedang butuh uang."


"Kamu ini kerja saja belum, tapi sudah minta uang. Aku akan transfer 5 juta dulu, sisanya aku transfer setelah pekerjaanmu selesai," jawab Nina dengan suara yang tegas.


Pria itu pun tak dapat membantah. Ia mengiyakan perkataan Nina sebelum memutus sambungan telepon. Kini wanita yang sedang dipenuhi oleh dendam itu tampak menyeringai penuh rencana. Ia seolah tak ingin mencari tahu, apa alasan Maharani menolak tawaran Rendy untuk kembali. Bagi Nina, segala yang terjadi terhadap Rendy semua adalah kesalahan Maharani karena telah menolak permintaan sang kakak agar kembali padanya. Itulah alasan yang membuat Rendy jadi mengakhiri hidupnya. Pikiran itu yang selalu menghantui Nina sejak pertama kali mendengar kematian Rendy.


"Sekarang kamu tinggal tunggu saja kehancuranmu, Rani! Sampai kapanpun, aku tidak akan rela membiarkanmu bahagia. Terlebih surat wasiat ketika aku tahu jika surat wasiat kakak menyatakan bahwa rumah ini ternyata sudah dilimpahkan kepadamu. Bahkan yang lebih membuatku kesal lagi adalah kakak memberi bagian 25% dari hartanya selain rumah ini." Nina menampilkan gurat amarah yang tersirat dari paras wajahnya yang cantik.


...🌺🌺🌺...


Berikan komentar positif.


Follow Instagram Author : ekapradita_87


Sakit adalah kehendak Tuhan.


Semoga author segera diberi kesehatan agar dapat menyelesaikan novel ini.