
Selamat membaca!
Ancaman Angga membuat Nina terpaksa menuruti keinginan pria itu dengan membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan mereka sebelumnya. Kini Nina masih tenggelam dalam rasa penyesalan yang kian menghancurkannya. Tak ada lagi yang ditakutinya selain mendekam di dalam penjara. Satu tempat yang pasti tidak diinginkan oleh siapapun untuk menjadi tempat tinggal.
"Sekarang bagaimana ini? Apa sebaiknya aku pergi saja? Tapi bagaimana dengan Rani?" Nina tampak kebingungan. Dilihatnya, Maharani masih tak sadarkan diri di lantai. Ia sebenarnya ingin memindahkan wanita itu ke sofa. Namun sayang, tenaganya tak cukup mampu melakukannya.
Nina yang sedang dilanda rasa panik pun mulai melangkah pergi, meninggalkan Maharani seorang diri. Tak ada lagi yang terbesit dipikiran selain pergi dan secepatnya meninggalkan Jakarta. Nina sadar betul, kematian Dion pasti akan membuatnya terseret dalam proses hukum. Terlebih wanita itu sempat berkata jujur kepada Maharani.
"Maafkan aku, Ran. Aku khilaf, tidak seharusnya rasa benci itu sampai membuatku memerintahkan Angga untuk membunuh Dion. Maafkan aku, Ran." Dengan langkah tergesa, Nina terus menuju mobilnya setelah membuka pintu dan menutupnya kembali. Namun, pandangannya yang terus melihat ke belakang membuat wanita itu menabrak Bibi Mei yang baru saja kembali dari pasar.
"Maaf ya Mba. Mba enggak apa-apa?" tanya Bibi Mei mulai merasa aneh dengan ekspresi wajah Nina yang terlihat panik.
Sambil merasakan sakit pada bagian dadanya akibat tertabrak tubuh Bibi Mei, Nina pun tersenyum tipis dan terus melangkah berlalu dari wanita paruh baya itu tanpa menjawab pertanyaannya.
"Tumben Mba Nina sombong begitu, kenapa ya?" tanya Bibi Mei yang memang sudah sangat mengenal Nina karena Rendy beberapa kali sering mengajaknya ke rumah Vania.
Setelah memerhatikannya kepergian Nina yang sangat terburu-buru, Bibi Mei pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam rumah. Namun, baru saja ia hendak melangkah masuk, pandangan matanya dibuat sangat terkejut ketika mendapati Maharani tak sadarkan diri di lantai.
"Ya Allah, Mba Rani kenapa?" tanya Bibi Mei dengan raut panik yang tampak jelas di wajahnya. Setelah gagal menyadarkan Maharani, wanita paruh bara itu pun langsung berlari memanggil security untuk meminta pertolongan.
...🌺🌺🌺...
Sementara itu, Nina terus menambah kecepatan mobilnya, saat sudah berada di luar komplek perumahan. Situasi lalu lintas yang cukup renggang, membuat wanita itu leluasa untuk menginjak dalam pedal gas pada mobilnya. Ia pun sengaja langsung masuk ke jalan bebas hambatan agar tidak ada yang berhasil mengejarnya. Saat ini Nina begitu resah, ia terus memikirkan apa yang akan terjadi bila sampai pihak kepolisian menyelidiki tentang kematian Dion.
"Aku enggak mau masuk penjara. Aku harus pergi ke luar kota, tapi bagaimana dengan Mas Lucky dan Kiara. Apa kira-kira Mas Lucky akan mengizinkan aku pergi dengan membawa Kiara?" ucap Nina dengan pikiran yang terus dipenuhi rasa takut atas kematian Dion.
Setelah memutar otaknya untuk mencari alasan tepat yang akan dikatakan kepada suaminya, Nina pun mulai merasa lebih tenang dari sebelumnya. Setidaknya ia sudah tahu apa yang harus ia katakan kepada suaminya ketika ditanya tentang alasannya pergi ke luar kota dengan membawa Kiara, putri kecilnya yang baru berusia 3 bulan itu.
"Aku enggak mau jika harus berpisah dengan Kiara, tapi bagaimana kalau aku sampai masuk penjara karena masalah ini? Aku sungguh menyesal, kenapa aku begitu bodoh?" Nina menghentakan tangannya pada kemudinya, meluapkan amarah yang sejak tadi tertahan dalam dirinya.
()()()()()
Maharani kini mulai membuka matanya. Pandangannya masih terlihat samar dengan rasa pening yang terasa berdenyut di kepalanya. Wanita itu pun coba memperjelas sorot matanya. Memindai satu persatu orang yang tengah berada di dekatnya. Dilihatnya, Vania sudah berada di sana dengan wajah cemas dan langsung menanyakan kondisinya.
"Rani, kamu enggak apa-apa? Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu pingsan di ruang tamu ini?" tanya Vania, sebagai seorang ibu, ia begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya. Maka itu, saat ia mendapatkan kabar dari Bibi Mei, Vania pun memutuskan untuk langsung pulang. Namun, Dini tidak bisa ikut serta bersamanya karena salah satu di antara mereka harus ada yang tetap tinggal mengurus acara yang tengah berlangsung.
Pertanyaan Vania membuat air mata Maharani seketika menetes deras. Kini ingatannya kembali teringang akan perkataan Nina. Perkataan yang membuat rasa cemas kian menusuk hatinya.
"Mah, Mas Dion, Mah." Maharani hanya bisa mengatakan hal itu dengan suara yang terdengar lirih. Tangisannya begitu terisak. Menandakan bahwa saat ini wanita itu benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya.
"Kamu kenapa sayang? Ada apa dengan Dion?" tanya Vania yang mulai merasa cemas karena takut terjadi hal buruk terhadap menantunya.
"Mah, coba hubungi Mas Dion! Apa ponselnya masih tidak aktif sampai sekarang? Tolong Mah, aku mohon!" pinta Maharani dengan suara memohon.
"Iya sayang, iya. Sebentar ya, Mama hubungi Dion dulu!" Vania coba menenangkan tangisan putrinya kian pecah. Membuat seisi ruangan kala itu terasa begitu haru.
Tak hanya Vania yang kebingungan, Bibi Mei pun merasakan hal yang sama. Namun, sampai saat ini ia masih belum menceritakan pertemuannya dengan Nina kepada Vania.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Dion? Kenapa Mba Rani sampai secemas ini? Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Mba Nina yang tadi pergi begitu terburu-buru?" batin Bibi Mei mengingat apa yang terjadi satu jam yang lalu, saat dirinya baru saja tiba di rumah.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih. Follow Instagram Author : ekapradita_87