
"Hancur sudah hidupku sekarang. Semua akibat satu kesalahan fatal yang sudah aku lakukan beberapa bulan yang lalu," gumam Adrian lesu, wajahnya tertunduk dengan air mata yang menetes dengan sendirinya.
Lelaki itu masih berada pada posisinya awal, ia berlutut diantara sela sofa dan meja. Ponselnya masih tergeletak di samping tubuhnya dengan layar yang menampilkan video dirinya yang sedang viral itu. Adrian meyakini jika semua hal buruk itu berawal karena satu kesalahannya saja, hingga semuanya bisa merembet seperti sekarang ini.
Sebab keterpurukan dirinya, penyesalannya dan kehancurannya semua berawal semenjak dia berlalu tanpa menghiraukan Kavita hingga istri keduanya itu memilih untuk pergi darinya. Setelah Kavita pergi, barulah ia merasakan kehilangan yang sangat dalam.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi setelah aku meninggalkannya saat itu? Apa memang se-fatal itu, sampai-sampai tidak ada celah lagi bagiku untuk mendapatkan maaf dari Kavita? "
Adrian berfikir keras tentang kejadian dimana ia tiba-tiba mendapatkan telfon darurat beberapa bulan yang lalu. Sebuah panggilan telepon yang berasal dari Valdo, lelaki yang sebenarnya sangat ia benci karena dulu merupakan saingannya dalam mendapatkan Vara istri pertamanya dulu.
Namun, berita yang disampaikan oleh lelaki itu mampu membuatnya melupakan rasa bencinya dan langsung membuatnya berlari mengikuti apa yang Valdo katakan. Sampai-sampai lelaki itu tak memperdulikan keberadaan Kavita, bahkan tak mendengar suara teriakan kesakitan dari Kavita waktu itu.
"Haaaah...!" Teriaknya kencang.
"Semuanya terjadi begitu saja sampai aku tidak tau apa yang terjadi pada Kavita setelah kepergianku saat itu. Kenapa tidak ada yang mau menjelaskannya padaku, malah mereka menghakimi aku begitu saja. Bahkan ... Kavita jadi membenciku, dan tak lagi mau menganggap keberadaanku sebagai ayah dari anak kami, " Adrian kembali berteriak seraya kedua tangannya menyugar rambutnya dengan kasar.
Rupanya Adrian tidak tau kalau Kavita kesakitan saat ia berlari begitu saja untuk pergi ke suatu tempat setelah mendapatkan telepon dari Valdo. Lalu, apa ia bisa bebas dari kesalahan jika bilang begitu di hadapan Kavita? Tentu saja tidak. Kavita tidak akan lagi mau mendengar setiap kata-katanya. Apalagi kalimat pembelaan darinya.
"Aku tetap harus bertemu dengannya untuk menanyakan ada apa sesungguhnya sampai Kavita tidak mengizinkanku untuk melihat anakku. Bahkan untuk mengakuinya saja tidak boleh, " Adrian terus bergelut dengan fikirannya sendiri, "tetapi bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah ini? Lagi pun aku terlalu malu untuk keluar rumah gara-gara video itu tersebar luas diluar sana, "
Kebingungan melanda antara mengesampingkan rasa malu demi bisa menuntut kejelasan dari Kavita atau tetap berdiam diri di dalam rumah dengan menutup mata dan telinga dari hujatan dunia luar.
Adrian sangat bingung dan merasa tertekan. Kondisinya yang akhir-akhir ini sering mabuk-mabukan, menangis sepanjang waktu, stress hingga lebih banyak menghisap gulungan nikotin membuatnya merasa pening. Pandangannya menggelap dengan kepala terasa berdenyut-denyut nyeri, tak lama kemudian ia tumbang dan luruh ke lantai begitu saja.
Para bodyguard yang berjaga segera menolongnya dan membawanya ke kamar agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman.
Mami Shinta yang diberitahu hal itu pun langsung bergegas menuju kamar sang putra untuk melihat keadaannya. Tubuh putra sulungnya yang dulu tegap berisi, kini terlihat kurus dengan wajah yang semakin tirus. Wajahnya kusut dengan cekungan mata dan sekitaran kelopak matanya menghitam, sangat menjelaskan bagaimana ia dipaksa untuk bekerja sepanjang waktu dengan istirahat yang sangat minim. Itupun biasanya karena sudah terlalu mabuk, sehingga ia tak sadarkan diri. Selebihnya Adrian hanya akan termenung dan menyesali diri.
"Adrian... kenapa kamu jadi seperti ini, Nak? Apa yang bisa Mami lakukan untuk bisa mengembalikan semangat hidupmu lagi," ucap Shinta seraya tangannya membelai wajah sangat putra.
"Mami tau, kamu membutuhkan Kavita saat ini. Mami pun sama. Tapi ... untuk saat ini semuanya belum mungkin. Keadaannya sangat kacau. Sampai-sampai papi aja bingung untuk mengatasinya, "
"Mami juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu, Nak. Karena Mami dan Papi juga ikut andil dalam hal ini. Hanya saja, semua karena keteledoran dan kenekatanmu, makanya sampai Kavita tau dan semuanya menjadi hancur sebelum kita bisa memenangkan hati Kavita sepenuhnya. Sehingga kita harus kehilangan dua orang menantu sekaligus, " mami Shinta terus berbicara di samping Adrian yang masih sadarkan diri.
Mami Shinta tidak sadar jika ada sepasang telinga yang mendengarkan semua perkataannya tersebut.
Aditya sebenarnya hanya ingin melihat kondisi sang kakak tadi, jadi ia membawa kursi rodanya untuk mendekat ke arah kamar dimana Adrian di tidurkan. Dan disaat lelaki itu sudah berjarak dekat, ternyata di dalam kamar itu sudah ada mami Shinta yang sedang berbicara seperti mengajak ngobrol seseorang, padahal yang diajak bicara saja sedang pingsan. Jadi Aditya mengurungkan niatnya, ia malah hanya terbengong di depan pintu kamar Adrian saja.
"Kehilangan dua orang menantu? Apa maksudnya? " gumam Aditya heran. Ia jadi merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut. Ingin bertanya secara langsung, tapi ia takut jika mami nya tidak berkenan untuk menjawab nantinya.
"Kemana menantu pertama mereka itu perginya? Aku baru ingat, kalau punya dia orang kakak ipar, " Aditya tertawa miris.
"Kenapa harus Adrian, kalau masih ada aku yang harusnya bisa mereka jodohkan degan Kavita dan meneruskan garis keturunan keluarga ini. Apa bedanya aku dengan Bang Adrian? Bukankah ki sama-sama anak papi dan mami? Hanya saja Bang Adrian terlahir lebih dahulu kan. Selebihnya, kami sama-sama anak laki-laki mereka, " sungguh tidak pernah terbesit buruk sangka Aditya pada kedua orangtuanya.
Sesakit apapun hatinya saat mengetahui kalau Adrian akan kembali dijodohkan dan dinikahkan oleh seorang wanita karena istri pertamanya tidak bisa memiliki keturunan, tapi pikirannya selalu berpositif thingking kepada ayahnya.
"Mungkin saja... Papi tidak ingin membebaniku yang masih harus menuntut ilmu, " begitu terus pemikirannya menenangkan diri.
Lantas, apa yang akan terjadi nanti jika dirinya mengetahui fakta yang sesungguhnya jika dirinya dengan Adrian sangatlah berbeda. Berbeda orangtua, berbeda kebangsaan pula.
"Aditya... kenapa kamu disana? Bukankah kamu harus istirahat? " suara panggilan papi Wijaya membuyarkan segala pemikirannya yang baru saja melayang.
"Ah, iya, Pi. Ini juga Aditya mau istirahat kok, "
Aditya ditempatkan di kamar tamu, sebab di rumah Adrian itu kamar-kamarnya sudah terisi, termasuk dengan satu kamar yang dijadikan sebagai kamar bayi. Sedangkan kamar lainnya ditempati oleh kedua orangtuanya.
Begitu memasuki kamar tamu yang dulu pernah ditempati oleh Vara sebelum wanita itu pergi dari sana, kedua mata Aditya menyipit melihat apa yang terpampang disana.
"Apa-apa ini? "