Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Yang Penting Usaha


Di rumah sakit tempat Kavita dirawat, wanita itu saat ini tengah disuapi oleh Valdi selaku dokternya. Dokter kandungan, dokter bayi, juga sekaligus merangkap dokter cinta Kavita. Itu sih yang diharapkan oleh Valdi, tidak dengan Kavita yang hatinya masih sangat terluka atas perlakuan yang pernah suaminya lakukan padanya.


Dalam hati dan fikiran wanita itu saat ini hanyalah kesembuhan dirinya dan kesehatan anaknya yang paling utama, yang lainnya tidak diambil pusing oleh Kavita.


"Aaak... " baru suapan ketiga tapi Kavita sudah menggeleng, membuat Valdi harus kembali melancarkan jurus rayuan maut dan bujukan agar wanita tersayangnya itu mau kembali membuka mulutnya.


"Kamu mau nyusuin si little angle gak? " tanyanya pada Kavita.


"Mau lah.. " jawab wanita itu.


"Makanya makan yang banyak, biar ASI nya cepet keluar, nih.. daun katuk ini tuh manfaatnya baik banget untuk ibu menyusui, karena bisa membuat ASI jadi lancar dan banyak. Kalo udah gitu, 'kan lo terus bisa nyusuin baby secara langsung," ujar Valdi.


Kavita mengangkat kedua alisnya, "menyusui secara langsung? Lo mau bohongin gue lagi? " tuduh Vita pada Valdi dengan mata menyipit.


"Kok bohongin gimana sih? Aku tuh dokter loh, Vit. Mana mungkin aku bohong sama pasien sendiri, dosa tau, " elak Valdi.


Kavita mendengus, " tau dosa tapi masih aja sering dilakuin, " ketusnya.


"Mana ada gue sering bohong sama lo, " sewot Valdi kembali ke mode gue dan lo.


"Ada, sering. Pake banget malah! " tandas Kavita.


"Nggak, serius gue nggak pernah bohong sama lo, sumpah deh. Karena menurut pemeriksaan gue, kondisi si baby udah sangat membaik, berat badannya juga udah mulai hampir normal. Tinggal sedikit lagi aja, tinggal di maksimalkan dengan konsumsi ASI lo, pasti cepet sehat, " terang dokter Valdi.


"Yang bener? " tanya Kavita lagi masih belum percaya.


Valdi mengangguk, "nah.. untuk menunjang berat badannya supaya cepat stabil, alangkah lebih baiknya jika baby mendapatkan ASI dari kamu, apalagi kalau bisa menyusu dengan langsung, itu akan membuatnya semakin cepat tumbuh besar, " tutur Valdi dengan sabar memberi pengertian pada Kavita.


"Lo serius 'kan? Nggak ngeprank gue lagi? " mata Kavita menyipit menatap curiga pada Valdi lagi.


"Gue serius seribu persen, Kavita.. makanya, lo harus mak-an.. yang.. ce..pet, " perkataan Valdi jadi terbata karena secara tiba-tiba Kavita merebut piring yang berisi makanan itu dari tangannya lalu memakannya dengan cepat.


"Pelan-pelan kali, Vit. Gue juga nggak bakalan minta kok, " ucapnya pada Vita.


"Lo mana doyan makanan beginian, gue aja harus maksain makan-nya demi bayi gue, " meski terlihat kesusahan saat akan menelan, bahkan hampir muntah karena belum merasakan enak di lidahnya saat makan, tapi Kavita terus memaksa makanan itu agar masuk kedalam mulutnya hingga tertelan dan bisa mengisi lambungnya yang sudah lama kosong.


Harapannya hanya satu, yaitu supaya anak yang sudah hampir dua bulan yang lalu ia lahirkan itu bisa segera mendapatkan ASI darinya, sehingga bisa cepat sehat dan memiliki berat badan normal seperti apa yang dikatakan oleh dokter Valdi tadi.


"Aku harus bisa melawan rasa eneg, pahit dan nggak enak saat makan ini demi anakku. Demi buah hatiku yang sangat membutuhkan ASI-ku, " gumam Vita dalam hatinya bertekad.


"Hmm.. seenggaknya ada penyemangat buat lo untuk tetap hidup, dan menjalani kehidupan ini walaupun hati lo masih ngerasa sakit, Vit, " batin Valdi yang turut merasa senang melihat semangat pada wanita di hadapannya itu.


"Tapi lo janji 'kan, Di.. abis ini gue bisa gendong dan nyusuin anak gue secara langsung? " tanya Vita tiba-tiba seraya menghentikan pergerakan makannya.


"Iya.. gue janji, " jawab Valdi dengan mengangkat tangannya dan menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


Dengan tekad dan bayangan indah dapat menyentuh dan menggendong putranya secara langsung itulah yang membuat Kavita akhirnya bisa menghabiskan satu porsi makanan beserta sayur lengkap dah buah, lalu masih ditambah dengan satu gelas susu ibu menyusui untuk merangsang agar ASI Kavita cepat keluar.


Valdi menangkap tubuh Kavita yang sudah hampir melorot ke lantai, "eits.. sabar, Buk! Nggak gitu juga aturannya, Vita. "


"Valdi...! lo-" Kavita sudah hmpir emosi karena ia menganggap Valdi kembali membohongi dirinya.


"Sabar.. Vit, sabar.. yang namanya ASI itu nggak bisa langsung keluar gitu aja karena lo abis makan. Semuanya 'kan butuh proses. Orang makanan yang lo makan aja belum diproses sama lambung, gimana bisa tiba-tiba jadi ASI coba? " jelas Valdi memotong ucapan Kavita yang hampir saja meledak.


Kavita terdiam sejenak, "iya juga ya.. terus gue harus gimana dong biar makanan yang gue makan tadi cepet jadi ASI? "


Valdi menyodorkan satu wadah berisi beberapa butir obat yang harus Kavita minum, "nih.. ini obat udah sama suplemen pemancar ASI, nanti setelah istirahat beberapa jam kemudian, lo bisa coba buat nyusuin anak lo, "


Kavita menghela nafas, "Oke, " lalu mengambil obat itu satu persatu untuk di minumnya.


"Good Girl, " gumam Valdi seraya mengacak pucuk kepala Kavita.


"Hmh, " Kavita hanya mendengus lalu memilih merebahkan diri dan memunggungi Valdi untuk beristirahat.


"Lo ngambeg, Vit? " tanya Valdi merasa bersalah.


"Nggak, " jawab Kavita ketus.


"Kok jutek gitu? " Kavita diam.


"Vit? " wanita itu bergeming.


"Kavita Saputri anaknya Pak Indrawan.. " Kavita membuka selimutnya dengan kasar lalu q menoleh pada Valdi dan menatap tajam laki-laki itu.


"Apaan sih lo, Di? Tadi katanya disuruh istirahat, sekarang giliran gue mau istirahat lo malah ribut banget deh ah.. " kesal Kavita.


Valdi nyengir kuda, "hehehe... sory, Vit. Abisnya gue kirain lo ngambeg, marah gitu sama gue, "


"Huh! Udah sana lo.. gue mau tidur, istirahat. Biar ntar bangun bisa langsung nyusuin anak gue, "


"Oke-oke.. " Valdi menyelimuti Kavita dan berniat akan mengecup kening wanita itu bersamaan dengan suara deheman seseorang yang menghentikan tindakan Valdi tersebut.


"Ekhem... "


Valdi menoleh dan mendapati Kavero beserta Nadiva masuk kedalam ruang perawatan Kavita itu.


"Sialan lo, ngagetin aja. Gue kirain siapa, " Valdi mengurungkan niatnya untuk mencium Vita yang sudah mulai terlelap ke alam mimpi.


Vero dan Diva terbahak memergoki Valdi yang mau mencuri cium Vita saat wanita itu tertidur.


"Ketauan lo mau nyuri ciuman kakak gue 'kan? Dasar dokter modus lo! "


Valdi memalingkan wajah, enggan meladeni Vero dan Diva yang mengolok-olok dirinya. Karena jika ia meladeni dua manusia itu, akan menjadi berkepanjangan tak ada habisnya hingga ia akan kehabisan waktu untuk mengurus hal yang lain.