
⚠WARNING⚠
Tahan emosi tapi jangan tahan napas, lagi puasa takut batal🤭. Author tidak bertanggung jawab untuk itu.
Meski Author sudah menyiapkan alur sendiri buat Kavita ini, tapi melihat kalian yang sudah tak sabar menyaksikan Kavita terus tersakiti, jadi habis bab ini sepertinya akan ada sedikit perubahan alur. Tolong bersabar dan ditunggu ya...
Mohon dibaca sampai selesai, terimakasih🙏
❤❤❤
Merasa mendengar keributan terjadi di luar ruangan , Kavita yg memang sudah selesai menjalani pemeriksaan pun memutuskan untuk segera keluar saja untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar. Kavita mengambil tas dan ponselnya yang semula terletak di kursi lalu berpamitan pada dokter.
"Saya pamit dulu, Dok. Terimakasih..."
" Loh, nggak nungu suaminya dulu, Bu? "
"Mungkin suami saya nunggu diluar aja, Dok. Suaranya udah kedengeran diluar kayaknya, "
"Oh, kalau begitu baiklah. Ini resepnya bisa ditebus di apotik," dokter tersebut menyerahkan selembar kertas resep pada Kavita.
"Baik, Dok. Terimakasih, saya permisi.. " pamit Kavita seraya menyalami dokter perempuan itu.
"Sama-sama, Bu, " balas dokter tersebut dengan senyuman ramah.
Kavita berjalan pelan menuju ke arah pintu, dan suara kegaduhan seperti orang yang sedang berdebat pun mulai terdengar jelas di telinganya.
"Lepasin Vara kalau lo emang udah cinta sama Vita, biarkan Vara bahagia bersama Valdo yang sudah jelas-jelas sangat tulus mencintainya. Bahkan Valdo mau menerima segala kekurangan Vara. Sekalipun wanita itu tak bisa memberinya keturunan, " seru Valdi.
Vita seperti mendengar suara Valdi dari arah luar ruangan, "kok kayak suara dokter Valdi? tadi katanya sibuk, " gumamnya yang tak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan oleh dokternya tersebut karena ia masih ada di dalam ruangan.
Perutnya yang membesar membuatnya kesulitan berjalan, jadi untuk sampai pada pintu saja, ia membutuhkan sedikit lebih banyak waktu dibanding orang yang tidak sedang hamil.
"Tapi kalau lo tetap lebih memilih Vara yang katanya cinta pertama lo itu, lebih baik lo segera lepasin Vita dan rela'in dia buat gue. Gue akan dengan sangat senang hati membahagiakan dia, walaupun dia udah hamil anak lo, itu nggak masalah buat gue, yang penting Vita bisa bersama gue, " tawar Valdi seenak jidatnya.
Hening dalam beberapa detik, lalu kembali terdengar suara dokter Valdi membuat Vita semakin penasaran apa yang terjadi diluar sana. Kavita pun mencoba mempercepat langkahnya meski nampak kepayahan.
"Banyak omong lo, bocah! " setelah suara Valdi, kemudian baru Vita mendengar suara Adrian berseru.
Valdi menangkap kepalan tangan Adrian, "orang kayak lo itu nggak pantes buat Vita yang cantik dan sempurna. Lebih baik lo ikhlasin Vita sekarang juga sebelum dia tau semuanya, "
"Tau apa? Vara nggak bakalan pergi dari gue, begitu juga dengan Vita. Bahkan Vara sendiri yang minta gue buat nikah sama Vita, dan Vita it-" ucapan Adrian berhenti karena ada suara benda yang berjatuhan.
"Apa?" Pekik Vita terkejut saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara suaminya dengan dokter Valdi yg merupakan dokter kandungan nya itu. Tanpa sadar semua yang ia bawa pun berjatuhan ke lantai dan mengejutkan kedua orang yang tengah berseteru itu.
"Nggak.. nggak.. aku pasti salah dengar, kenapa juga Adrian harus meminta persetujuan dari vara buat nikah sama aku? Memang apa hubungannya mereka, bukannya hanya sepupuan? " pikir Vita menenangkan hatinya.
"Lebih baik ntar aku tanya sama Mas Adrian kalo udah di rumah aja, nggak baik ngumbar masalah di tempat umum, apalagi maslah rumah tangga, " fikir Kavita lagi yang takau membuat keributan di rumah sakit dan akan mengganggu kenyamanan pasien yang lainnya.
Kedua lelaki yang tengah bersitegang itu menoleh dan melihat raut wajah terkejut Vita di ambang pintu yang baru terbuka sebagian.
"Vita..." gumam Valdi terkejut dengan posisi tangan yang masih menggenggam kepalan tangan Adrian di depan wajahnya.
"Beib... " panggil Adrian yang merasa kaget sekaligus panik.
Adrian dan Valdi memanggil Vita secara bersamaan. Keduanya mendekati Vita dengan perasaan yang berbeda.
Adrian merasa cemas dan takut kalau Kavita benar-benar mendengar pembicaraan nya pada Valdi tadi, kalau sampai itu terjadi maka semuanya bisa kacau, bahkan hanya tinggal sebentar lagi ia akan berhasil mendapatkan apa yang ia dan Vara harapkan.
Sedangkan Valdi sangat berharap jika Vita sudah mendengar semuanya, agar wanita itu tau betapa buruknya tabiat sang suami yang hanya memanfaatkan dirinya saja.
Adrian mengambil tas tangan milik istrinya, sedang Valdi mengambil ponsel dan kertas resep milik Vita pula yang ikut terjatuh tadi.
"Kalian tuh kenapa sih pake debat kayak gitu? Apalagi sampai mau berantem, pukul-pukulan kayak tadi. Ini tuh di rumah sakit tau nggak! Kalian bisa mengganggu kenyamanan pasien lain," omel Kavita pada kedua orang dewasa di hadapannya.
"Kok Vita malah ngebahas kenyamanan pasien sih, emang Vita nggak denger ya perkataan Adrian tadi?" pikir Valdi.
"Hah! Syukurlah... Vita nggak denger percakapan ku sama dokter gila itu tadi. Aman, tinggal sebentar lagi, sabar.. setelah semuanya berhasil terserah deh ntar, " Adrian tersenyum mengejek dan menyeringai melirik Valdi yang menatap tak suka padanya.
"Kenapa lo nggak denger sih, Vita. Gue mau ngomong langsung dan kasih tau lo tentang semua kebenarannya, tapi gue takut lo nggak percaya sama omongan gue, karena gue tau, lo udah bucin sama Adrian, " batin Valdi teramat kecewa.
"Hmm, " balas Valdi malas dan lebih memilih untuk pergi saja dari sana tanpa menyapa Kavita terlebih dahulu. Perasaan dokter muda itu kacau, hampir saja ia merasa lega karena berfikir jika Kavita sudah mendengar perkataan Adrian, tapi ternyata kenyataan nya tak sesuai dengan apa yang ja harapkan.
Kavita mengerutkan kening, "kalau kalian bercanda, kenapa dokter Valdi mukanya ditekuk kayak gitu? Kayak marah deh, "
"Udah nggak usah difikirkan soal dokter Valdi, mending kita jalan-jalan, yuk! Biar kamu dan anak kita fresh, " ucap Adrian seraya merangkul pundak istrinya.
Kavita tersenyum dan mengangguk. Lalu balas memeluk Adrian. Keduanya pun berjalan beriringan di sepanjang koridor rumah sakit.
Meski saat ini Kavita tengah berada di taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah, tapi hal itu tidak bisa membuat nya merasakan kenyamanan. Bukan hanya karena kandungannya yang besar dan membuatnya merasa tak betah duduk dan berjalan terlalu lama, tapi lebih ke perasaannya yang merasa penasaran tentang perdebatan Adrian dan Valdi tadi.
"Emm, Bang. Sebenarnya ada mau aku tanyakan," ucap Kavita setelah sebelumnya menimbang-nimbang akan bertanya atau tidak.
Kening Adrian mengernyit mendengar panggilan yang tak biasa dari Kavita, karena selama ini telinganya sudah terbiasa dengan panggilan 'Hubby' dengan nada manja yang sering keluar dari mulut istri mudanya itu.
"Apa? " tanyanya kemudian.
"Sebenarnya apa tadi maksud perkataan kamu kalau kamu menikahiku atas permintaan dari Vara? "
"Uhuk.. uhuk.. " Adrian yang sedang meminum minuman tiba-tiba tersedak boba. Ia tak menyangka jika ternyata Kavita memang mendengar perkataannya tadi, hanya saja Vita belum memahami arti dari ucapan yang ia lontar kan pada Valdi tadi.
Adrian jadi memutar otak akan menjawab apa agar tak sampai salah, bisa kacau semuanya kalau sampai ia salah menjawab.
"Pelan-pelan dong! Kenapa bisa sampe kesedak boba coba? " Kavita memijat tengkuk Adrian agar tenggorokan suaminya itu lega. Ia juga memberikan sebotol air mineral pada suaminya tersebut.
Adrian tersenyum masam, otaknya masih sibuk memikirkan jawaban yang tepat yang akan ia berikan kepada Kavita.
"Nggak papa.. sekarang udah baik-baik aja kok, " ucap Adrian.
"Yaudah kalo udah nggak papa. Jawab pertanyaanku, apa maksud kamu tadi? Bukan sesuatu yang aneh 'kan? " tanya Kavita lagi.
"Dalam artian mencurigakan, Mas.. sebenarnya aku juga merasa kalau kamu dan Vara itu memang terlihat sangat mencurigakan. Apalagi setelah aku melihatmu malam itu tengah berdua bercumbu rayu dengan Vara, tapi bodohnya hatiku masih saja mau memaafkanmu, "
"Rasa cintaku yang terlalu besar padamu sampai menutupi mata hatiku tentang semua kebenaran yang kamu sembunyikan dariku. Aku tau, Mas. Kalau kamu dan Vara itu sebenarnya bukan saudara sepupu, tapi ada hubungan spesial diantara kalian, "
"Memang aku akui jika aku ini sangat bodoh, naif dan sangat mudah kamu tipu. Semua itu aku terima, semata-mata hanya karena aku sangat mencintaimu dan berharap aku akan mendapatkan balasan yang sama darimu, Mas! " Ratap Kavita dalam hatinya.
"Emm, itu. Sebenarnya bukan seperti itu maksudku, Beib. Aku cuma ngomong kayak gitu biar Valdi tuh nggak songong lagi aja, iya.. gitu maksudnya, " jawab Adrian belepotan.
"Jangan gugup, Adrian! Jangan sampai ketahuan kalau kamu sedang berbohong! "
"Kamu masih mau mengelak, Mas? " batin Kavita dengan senyum getir.
"Jika aku diberikan pilihan, aku akan lebih memilih untuk tak pernah mengenalmu dan mencintaimu. Daripada rasa cinta ini perlahan menggerogoti hatiku dan membunuh jiwaku, " Vita.
Cinta memang sesuatu yang tak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
Terkadang cinta membuat orang kehilangan akal,
bahkan sering dibuat tak sadar jika dirinya terluka.
Cinta sering membuat orang mau berkorban, meskipun itu perasaan nya sendiri seperti yang dilakukan oleh Vara.
Cinta juga bisa membutakan mata dan menulikan telinga, hingga tak mau mendengar nasehat dari semua orang seperti yang dialami oleh Vita.
Dan, cinta juga bisa membuat orang melakukan berbagai macam cara demi kebahagiaan orang yang dicintainya, seperti apa yang dilakukan oleh Adrian.
Begitu juga Valdo dan Valdi yang siap berjuang demi wanita yang mereka cintai. Sampai tak perduli dan memandang status jika wanita tersebut merupakan istri orang.
Akankah Adrian mau jujur menjawab atau masih akan berkilah?
❤❤❤
Maap maapin ya kalau othor banyak salah..
Otoritas juga nggak tau apa itu cinta yang sebenarnya, tapi katanya emang bisa baikin orang jadi oon kek Kavita🥲