Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Valdi VS Aditya


"Apa...! " teriak seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari tempat duduk dua orang itu.


"Nggak kapok juga ni bocah ya, " seru Valdi seraya berjalan mendekat ke arah bangku yang di duduki oleh Kavita dan Aditya.


Entah darimana asal datangnya dan sejak kapan lelaki itu ada disana, tiba-tiba saja ia sudah menyemburkan minumannya begitu turut mendengar ungkapan hati Aditya kepada Kavita. Tentu saja ia merasa tertinggal jauh di belakang, sebab boro-boro menyatakan perasaanya pada Kavita. Pedekate nya saja baru seputar baby Kava saja hingga saat ini.


Tangan Valdi terulur menarik kerah kemeja Aditya hingga lelaki itu menoleh sengit padanya.


"Apa urusan lo sih, Bang? Gangguin aja bisanya," sungut Aditya merasa sangat kesal pada Valdi yang muncul tiba-tiba.


"Jelas aja ini urusan gue, kan Om Indra udah percayain Kavita ke gue kalo lo lupa!" jelas Valdi dengan bangganya.


"Percayain sebagai apa? Bodyguard, satpam, ajudan, asisten, sekretaris? " ucap Aditya sewot.


"Sebagai... sebagai, " mendapat pertanyaan seperti itu, Valdi mendadak gugup. Ia sendiri juga bingung, siapa sebenarnya posisinya saat ini bagi Kavita. Kalau ia mengaku sebagai calon suaminya, bagaimana kalau Kavita menolak, selain rasa malu yang akan ia dapat, tentunya rasa sakit hati akan lebih mendominasi nantinya.


"Sebagai... "


Aditya tersenyum remeh, "Nah, bingung kan, Abang mau jawab gimana. Jadi posisi kita disini tuh sama ya, Bang. Sama-sama lagi berjuang untuk memenangkan hati Kavita, " ucapan Aditya membuat Valdi terdiam sesaat. Mencari jawaban untuk menjawab perkataan Aditya meskipun memang itu benar adanya. Tapi, untuk mengakuinya jelas gak mungkin bagi Valdi.


Valdi mengibas-ngibaskan kedua tangannya, "haissh... mana ada. Posisi gue jelas beda dari lo. Gue itu dokternya Vita dan juga baby Kava. Plus, orang yang di percaya sama Om Indra untuk menjaga mereka berdua. Khususnya menjaga Kavita dari orang-orang pengganggu kayak lo! "


Kavita menghela nafas seraya memijat keningnya, lagi-lagi ia harus melihat dan mendengar perdebatan dua orang itu lagi. Dirinya pun tak percaya jika seorang dokter Valdi ternyata bisa dan mau berdebat seperti itu degan orang lain. Karena setannya selama mengenal dokter muda nan tampan itu, orangnya begitu cool serta sellau menjaga image nya. Makanya banyak ibu-ibu yang merupakan pasiennya yang mengidolakannya dan berharap jika anak mereka laki-laki bisa menjadi seperti dokter Valdi nantinya.


"Kalau kalian masih mau ribut terus, silahkan. Gue mau balik ke butik," Kavita berdiri hendak melangkahkan kakinya.


"Bentar, Vit. Gue belum selesai ngomong sama lo, " ucap Aditya. Kavita mengurungkan ayunan langkah kakinya.


"Silahkan kalau mau bikin ke butik, Vit. Ni bocah biar gue yang urus, "


"Jangan panggil aku bocah, Paman. Aku Siva, namaku Siva, " jawab Aditya seketika mengingat film kartun yang kadang berseliweran di televisi yang sering menyala di rumahnya meskipun tak ada yang menontonnya. Gaya yang diritunga serta nadanya berbicara bisa persis meniru dengan adegan yang sama dalam film kartun tersebut.


Valdi dan Kavita kompak siang pandang dengan mulut melongo, kemudian menepuk kening masing-masing. Sepertinya mereka saat ini sepemikiran, jika Aditya memanglah bocah.


Keduanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berbalik dan melangkah bersama meninggalkan Aditya.


"Hey. Tungguin gue! Kalian nggak bisa ninggalin gue gitu aja! " teriak Aditya. Ia meraih tongkat kruk nya lalu berusaha menyusul Kavita dan Valdi.


"Kenapa pak dokter yang super sibuk ini bisa tiba-tiba ada disini? " tanya Kavita pada Valdi sambil berjalan.


Valdi menggaruk kepalanya meski tak terasa gatal,