Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kuharap Semua ini Hanyalah Mimpi


"Kavita sayang..."


Aku menoleh mendengar suara Adrian memanggilku, aku menatap sengit ke arahnya. Tampanganya masih bisa tersenyum bahkan setelah membuat hatiku hancur berkeping-keping.


Dimana letak hati nuraninya?


Apa dia udah nggak memilikinya?


Dasar orang gila!


Kenapa aku mendadak muak melihat wajahnya. Tapi kenapa senyumnya begitu tampan, kenapa aku harus mencintai laki-laki seperti Adrian sih?


Dasar hati, gak punya logika ya lo? Udah disakitin masih aja cinta!


Adrian menghampiriku yang masih terduduk lemah di lantai dengan bersandar pada kursi meja rias. Ia membopong tubuhku pelan dan membawaku masuk ke dalam kamar mandi. Aku berusaha memberontak, namun Adrian malah memegangi ku semakin erat.


Lelaki itu meletakkan ku ke dalam bathup yang sudah terisi penuh oleh air hangat dan penuh dengan bunga mawar merah. Lilin-lilin aroma therapy pun ikut menghias di sekitar bathup, aromanya memang benar-benar merilekskan tubuhku yang rasanya remuk dan fikiranku yang kacau.


Aku yang kelelahan efek kegiatan tadi dan juga menangis, tertidur begitu saja dalam buaian air hangat dan wangi yang terasa seakan begitu memijat tubuhku.


"Tidurlah, kau lelah. Kalau perlu selamanya, " Samar-samar aku mendengar suara seseorang sebelum aku benar-benar terlelap.


°°°


Aku terbangun di sebuah ruangan yang aku tak tau itu dimana, aku mendengar suara seorang laki-laki dan perempuan sedang bercanda ria dari luar. Aku merasa ingin tau dan mencari sumber suara tersebut.


"A-Adrian dan... wanita itu," aku menyipit memandangi dua orang yang sedang asyik bercengkrama itu.


Aku melihat dengan jelas lelaki tersebut adalah Adrian karena ia menghadap kearahku, tapi tidak melihatku, atau memang sengaja tidak ingin melihatku. Ia bersama dengan seorang wanita yang aku tak tau itu siapa karena posisi duduknya yang memunggungiku.


Adrian tampak sangat bergembira dengan wanita itu, senyum dan tawanya begitu memancarkan kebahagiaan. Tawa yang baru pertama kalinya aku lihat semenjak mengenalnya.


"Ternyata Adrian punya tawa serenyah itu? Kenapa aku baru tau, " gumamku heran.


"Wajahnya semakin tampan saja jika tersenyum dan tertawa selebar itu," senyumnya menular padaku, hingga tanpa kusadari bibirku ikut menyunggingkan senyum.


Sungguh, aku benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu. Cinta yang membuatku buta, hingga tak menganggap adanya wanita lain di hadapan Adrian.


Aku seperti terhipnotis oleh ketampanan Adrian, hingga tak menyadari jika aku kini berada dalam jarak yang sangat dekat dengan kedua sejoli itu. Tapi kehadiranku benar-benar tak dianggap oleh mereka.


" Aku sangat mencintaimu, Sayang... " ucap wanita itu, suaranya memang lembut dan merdu. Aku seperti pernah mendengar suara ini, tapi siapa?


"Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu... " balas Adrian dengan menggenggam tangan wanita itu erat.


"Cinta? mereka saling mencintai? " tanyaku yang hanya mampu kuucapkan dalam hati, rasanya hatiku berdenyut nyeri mendengar suamiku mengatakan cinta pada wanita lain.


"Berjanjilah akan terus bersamaku walau apapun yang terjadi, " pinta si wanita.


"Walaupun aku sudah tak sendiri? " tanya Adrian.


"Ya, aku tak perduli. Yang penting hatimu tetap untukku 'kan?" sahut wanita itu dengan nada menggoda.


"Tentu saja, Sayang.. aku tak akan pernah berpindah ke lain hati, apalagi... " Adrian menggantung kalimatnya.


"Apalagi? " lanjut si wanita.


"Apalagi orang itu, " apa yang dimaksud oleh Adrian adalah aku?


Mereka pun tertawa bersama. Apa semua ini?


•••


Mataku terbuka dengan cepat, nafasku terengah-engah, dan aku langsung terduduk begitu saja.


Lalu, dimana aku sekarang?


Kamar ini? Aku memindai sekeliling.


Kamar bernuansa cream dengan interior yang sangat simple, namun ada hiasan-hiasan seperti kamar pengantin juga di tempat tidur dan sekitarnya. Kelambu berwarna merah yang terlilit rapi pada tiang di empat tiang penyangga, bunga-bunga mawar merah bertaburan di atas kelambu dan juga tempat tidur.


Rangkaian-rangkaian bunga di setiap sudut, juga ada bunga yang merangkai namaku dan Adrian di salah satu sudut.


Juga ada sebuah foto besar yang berisi foto pernikahan ku dengan Adrian.


Ini kamar siapa? Adrian?


Karena pernikahan kami yang bukan diawali dengan pacaran, membuatku belum pernah masuk ke dalam kamar Adrian sebelumnya. Aku hanya pernah berkunjung beberapa kali ke rumah mertuaku ini.


Tapi, kenapa tiba-tiba aku bisa ada disini?


Itulah pertanyaan yang sejak tadi bersemayam di benakku. Tak lama aku termangu, pintu kamar ini di ketuk oleh seseorang. Lalu sosok wanita paruh baya yang masih tampak anggun muncul dengan di dikuti oleh seseorang berseragam asisten rumah tangga. ART tersebut mendorong sebuah troli makanan.


"Kamu udah bangun, Vita sayang.. " tanya mami mertuaku lembut, senyuman tak lupa ia tunjukkan padaku.


Aku membalas senyuman itu, "udah, Mi. Tapi kapan aku sama Bang Adrian balik kesini? perasaan tadi masih di hotel, " mendadak aku memanggil suamiku dengan sebutan 'bang', entah kenapa panggilan itu yang terfikir di otakku.


Mami Shinta mengerutkan kening, "kamu udah balik dari kemarin kok, masak kamu lupa? "


"Kemarin, Mi? " Mami Sinta mengangguk.


"Sini, kamu makan dulu, Mami suapin ya.."


"Eh, Mami bantu duduk dulu, sampai lupa, " Mami Sinta kembali meletakkan mangkuk ke atas meja, lalu membantuku untuk duduk. Memang tadi aku kembali merebahkan diri karena merasa lemas.


Kemudian dengan telaten ia menyuapi ku makan dengan semangkuk bubur yang katanya adalah buatan tangannya sendiri.


Hatiku menghangat mendapatakan perlakuan yang baik dan manis dari ibu mertuaku, hal ini bisa sedikit mengobati rasa sakit dan kecewa akibat ulah anaknya, yang tak lain adalah Adrian yang merupakan suamiku sendiri.


"Kalau kamu makannya banyak, kamu akan cepet sembuh, Sayang.. dan jangan lupa nanti diminum obatnya ya, " ucapan mami Sinta sukses membuat keningmu berkerut dalam.


"Memangnya, Vita sakit apa, Mi? Perasaan dari kemarin, Vita baik-baik aja kok. Masih masih sehat banget, malah hari ini tiba-tiba Vita udah ada disini aja, " aku mengungkapkan yang sedari tadi mengganjal di benakku.


"Emm.. kamu nggak sakit sih, Sayang, sebenarnya. Cuma agak kecapek'an aja, makanya sampai pingsan dan Adrian memutuskan untuk membawa kamu pulang kesini tadi malam, "


"Aku pingsan? kapan? Seingatku, aku kemarin sedang mandi berendam di bathub yang berisi air hangat dan menghirup lilin aroma therapy yang merilekskan tubuh dan fikiranku. Kok mendadak Mami Sinta bilang pingsan? " fikirku.


"Gitu ya, Mi? " hanya kata itu yang mampu aku katakan pada ibu mertuaku ini, apa aku tanyakan saja pada Adrian perihal ini.


Aku benar-benar merasa bingung dan aneh akan kejadian yang aku alami ini, tapi pada siapa aku bisa bertanya. Tidak mungkin aku bertanya pada Adrian, melihatnya saja hatiku rasanya sudah sakit. Bagaimana kalau dia berkilah lagi, itu hanya akan membuatku stres.


Baru saja aku membicarakan nya dalam hati, orang itu sudah muncul ke dalam kamar dengan wajah datarnya. Bunglon itu sudah beraksi lagi.


Sebentar-sebentar jutek, sebentar-sebentar manis, kadang cuek, kadang juga peduli. Kemarin menyakiti, lalu sok minta maaf dan berlaku baik.


Akan seperti apa jadinya kehidupan pernikahanku ini kedepannya.


"Eh, Adrian.. udah selesai makannya? Sini, gantian kamu yang suapin istri kamu," ucap mami Sinta pada Adrian yang baru saja akan mendaratkan dirinya di sofa.


Lelaki itu berjalan ke arah kami, ia menerima mangkuk yang diberikan mami Sinta padanya.


Adrian menyuapkan sesendok bubur ke arahku, aku diam membeku. Masih terbayang dengan apa yang ia lakukan dan katakan kemarin. Melihat wajahnya membuat mataku kembali menganak sungai.


"Aku harap semua itu hanya mimpi, dan saat inilah kenyataan, "