Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Aditya Memilih Mengalah


Hari ini berlalu dengan menggembirakan bagi Kavita. Pasalnya, ia berhasil mengembangkan desainnya kembali yang dulu sempat tertunda. Dan yang lebih membahagiakan lagi, ia langsung dapat pesanan dalam jumlah besar untuk sebuah pesta dari keluarga konglomerat.


"Selamat ya, Bu Vita," ucap para karyawannya sebelum semuanya pulang ke rumah dengan rasa bahagia.


"Makasih semuanya. Ini semua juga berkat kerja keras kalian. Makanya butik kita ramai pengunjung dan di percaya oleh para pelanggan," balas Kavita seraya menyalami semua karyawannya.


"Lebih semangat lagi buat besok, semuanya," seru Nadiva.


Para karyawan yang berjumlah enam orang itu berbalik dan kompak mengangkat kedua jempol mereka, tak lupa senyum dan tawa pun menghias di wajah mereka semua. Meski terus bekerja keras seharian, tak membuat mereka merasa jenuh ataupun lelah. Sebab baik Kavita ataupun Nadiva tak pernah memperlakukan mereka seperti karyawan, melainkan teman. Jadi tak ada kecanggungan atau rasa tak nyaman dalam bekerja.


Senyum merekah terpancar beriringan dengan rasa syukur yang selalu terucap. Semua orang menganggap jika hal itu adalah berkah atas kehadiran baby Kava yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Semua itu menjadikan mereka bersuka cita hingga terlupa akan ancaman yang pernah Adrian layangkan kepada Kavita. Lagipula siapa yang perduli dengan laki-laki pengecut itu, yang kesana kemari selalu di kawal oleh para bodyguard berbadan besar.


🔹🔹🔹


Hari demi hari berlalu begitu cepat, dengan Valdi dan Aditya yang terus tanpa gencar mendekati Kavita. Namun, ketulusan Valdi dalam melakukan segala sesuatu terhadap Kavita beserta baby Kava membuat Aditya sadar bahwa laki-laki itu memang pantas mendapatkan balasan yang setimpal dari Kavita. Hingga suatu hari Aditya berfikir jika mungkin dirinya memang harus mengalah untuk Valdi. Sebab ia pun juga dapat melihat pancaran mata yang berbeda dari Kavita untuk laki-laki itu.


"Lo menang, Bang," ucap Aditya di suatu waktu, pada saat malam usai keduanya


Valdi memicingkan matanya, "maksud lo?"


Aditya tersenyum getir, "ya, lo udah menang," ia menghela nafas pelan, "lo menang dalam persaingan kita, dan lo... udah berhasil menangin hati Kavita juga,"


"Begitukah menurut lo?" Valdi menegakkan badan, lalu kedua tangannya bersedekap.


"Bukannya sejak awal gue nggak pernah nganggep kalau kita itu bersaing? Bukan gue nyepele'in lo. Cuma... menurut gue, perasaan lo terhadap Kavita itu hanyalah sebuah simpati. Atau, mungkin sebuah ketertarikan aja,"


"Atau malah mungkin rasa kasihan karena Kavita mendapatkan perlakuan yang nggak adil dari kedua orang tua lo dan juga Adrian, abang lo, "


Lelaki muda mantan adik ipar Kavita itu tertawa pelan, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri.


"Entahlah, kalo memang lo nganggepnya kayak gitu ya terserah. Yang penting gue sendiri yakin sama perasaan gue saat ini. Kalau emang kedepannya nanti bakalan berubah, ya nggak ada yang tau juga 'kan, " ucap Aditya.


Valdi manggut-manggut.


Sejurus kemudian lelaki itu menoleh, dan otomatis tatapan matanya langsung bertemu dengan pandangan mata Valdi yang masih melihat ke arahnya sejak tadi.


"Tapi inget, Bang. Kalau sampai suatu saat nanti gue tau lo nyakitin apalagi sampe ninggalin Kavita, gue bakal jadi orang pertama yang ngehajar lo. Karena gue nggak rela Kavita disakiti lagi. Lebih baik dia sama gue daripada disakitin sama cowok laen," ucap Aditya memperingatkan.


"Wueess... slow, Bro. Inget! Gue bukan abang lo yang bisa tega nyakitin dua hati cewek sekaligus. Apalagi dua, satu aja gue nggak tega, " balas Valdi. Ia tak ingin Aditya merasa berkesempatan untuk merebut Kavita darinya, entah itu sekarang, besok, bahkan sampai kapanpun nantinya.


Aditya mendengus. Masih kesal rasanya bila teringat akan kakaknya itu.


"Woy! Akrab bener sodara ketemu gede," Vero datang langsung merangkul kedua lelaki itu tanpa tau apa yang sedang keduanya bicarakan.


Valdi dan Aditya kompak sama-sama melebgos ke arah yang berbeda membuat Vero mengangkat kedua alisnya bingung.


"Kenapa sih kalian? Gue ganggu obrolan kalian ya? Sory deh. Gue cuma mau bilangin Bang Valdi aja, kalau dipanggil papa di dalem,"


Mendengar hal itu, tentu saja Valdi terkejut antara senang dan juga deg-degan. Ada apa gerangan sampai ayah dari wanita pujaannya itu memanggilnya.


"Ada apa, Ver? Kira-kira Om Indra mau ngomongin apa ke gue?" tanya Valdi penasaran tapi masih juga nervous menguasai dirinya.


Vero mengangkat kedua bahunya, "auk. Kan, Abang yang dipanggil. Gue cuma menyampaikan amanah papa aja, "


"Udah sono masuk! Nggak usah sok gimana gitu deh. Gue udah coba ikhlas kok," sahut Aditya. Meski hatinya terasa nyeri, tapi ia mencoba untuk ikhlas demi kebahagiaan Kavita.


Valdi tertawa melihat ekspresi Aditya. Kemudian ia beranjak dari duduk meninggalkan Vero dan yang bingung melihat tingkah Valdi dan juga Aditya.


"Aa lo? Mau ngeledekin gue juga? " sewot Aditya pada Vero.


"Ih, apaan sih lo! Nggak jelas deh, " Vero pun memilih berlalu dari tempat itu.


Tinggallah Aditya sendiri dengan rasa pilu yang melanda jiwanya.