
Valdi terus membawa Kavita pergi menjauh dari tempat tersebut, apalagi setelah ia melihat sekelebat orang berbaju serba hitam itu menuju ke arah kantin yang ia dan Kavita tempati tadi. Lelaki itu terlalu panik untuk bisa memikirkan kemana ia akan membawa dan menyembunyikan Kavita.
Sedangkan jika ia harus berterus terang dengan Kavita, ia takut jika nantinya wanita itu akan lebih panik dan histeris melebihi diri nya. Lalu, bagaimana dengan anak Kavita? Apa dia perlu membawa bayi itu juga pergi dari sana? pikir Valdi kebingungan.
"Ah tidak.. tidak. Aku harus lebih tenang dan memikirkan semuanya secara matang. Agar tidak salah dalam mengambil keputusan, " gumam Valdi dalam hatinya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Lelaki itu membawa Kavita ke ruangannya, karena hanya itulah yang dapat ia fikirkan untuk saat ini. Lalu memasangkan tanda tulisan tutup pada pintu ruangan tersebut. Jangan sampai nanti ada pasien yang mengantri disana dan akan membuatnya kerepotan hingga tak bisa fokus dalam menjaga dan mengawasi Kavita.
Setelah masuk ke ruangannya, Kavita yang masih kebingungan bermaksud hendak bertanya pada Valdi, tapi lelaki itu sudah lebih dulu melambaikan tangannya dan memberi kode pada wanita itu untuk diam. Wanita itu menurut, kemudian Valdi menghadapkan Kavita pada laci kerjanya yang disana terdapat beberapa coklat juga permen.
Apakah kalian berfikir jika coklat itu milik Valdi? Ya memang benar, tetapi ada cerita di baliknya. Coklat, permen serta bunga itu sebenarnya merupakan makanan dan barang yang ingin Valdi berikan kepada Kavita. Tetapi karena dari segi kesehatan, wanita itu belum boleh memakannya, jadi Valdi mengurungkan niatnya dan menyimpan semua coklat juga permen beserta bunganya juga disana, hingga lacinya itu hampir penuh.
Kavita mengerjapkan mata melihat laci kerja Valdi yang sedikit terbuka, sebenarnya ia hanya ingin menutupnya saja, tetapi saat merasa kesulitan untuk menutupnya ia bermaksud untuk merapihkan isinya agar bisa ia tutup nantinya. Namun saat laci itu terbuka, betapa terkejutnya ia melihat isinya yang seperti laci mini market.
Melihat Valdi yang masih sibuk dengan telponnya, membuat Kavita iseng membuka salah satu coklat tersebut dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.
Hmmm ... rasa lezat dari coklat yang langsung lumer di mulut serta kacang almond berpadu menjadi satu membuatnya memejamkan mata menikmati coklat tersebut.
Valdi yang sedang sibuk menelpon seseorang pun tak tau dengan apa yang Kavita lakukan. Lelaki itu masih saja berfokus pada sambungan telponnya.
"Gimana? Lo ada solusi? Urgent banget nih disini. Gue sampe bingung mau gimana dan kemana, " ucap Valdi di telpon itu dengan nada setengah berbisik.
"Bentar, Bang. Sabar ... tarik nafas, keluarkan ... tarik nafas, keluarkan..." balas seseorang di seberang sana.
"Lo pikir gue mau lahiran apa?! " sewot Valdi kesal.
"Lo jangan bikin gue ikutan panik dong, Bang. Ini masalahnya gue lagi sama mama dan papa, jangan sampe mereka denger masalah ini," bisik orang tersebut.
"Hmm ... terus? "
"Kasian kalo mereka ikut kepikiran. Soalnya 'kan setau mereka, Kak Vita aman dan nyaman disana selama ini. Makanya mama bisa fokus ngurusin papa biar bener-bener pulih dulu, " ucap orang di seberang sana yang ternyata adalah Vero.
"Terus? " tanya Valdi lagi.
"Bentar ... gue pergi dulu dari sini, biar nggak kedengeran smaa mereka, "
"Oke, " Valdi pun diam dan memutuskan untuk menunggu.
"Emmm ... Ma, Pa ...Vero pamit mau ke kamar dulu ya, " pamit Vero pada papa Indrawan dan juga mama Indri.
"Iya, Ver. Hati-hati kalo udah mau berangkat kuliah..." suara jawaban dari mama Indri terdengar di telinga Valdi.
"Ya, Ma... "
Valdi sudah tak sabaran menunggu jawaban dari Vero tentang apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi situasi darurat ini. Mungkin ia bisa saja membawa Kavita dan anaknya pergi jauh dari sana saat itu juga, tetapi jika ia tak lebih dulu memberi tahu atau mengkonfirmasi kepada keluarga Kavita, minimal memberitahu Kavero lah yang menanggung jawab atas kakak dan keponakannya itu, bisa-bisa dirinya dianggap membawa kabur Kavita, dan ia tak mau jika itu sampai terjadi.
Karena ia juga tau keadaan dari papa Indrawan sendiri yang baru saja pulih dari serangan jantung yang menyerangnya sejak dia bulan lalu saat Kavita mengalami permasalahan dengan Adrian. Jangan sampai jika beliau mendengar hal ini akan menjadikannya kembali sakit lagi.
Valdi yang menunggu jawaban dari Vero tak sengaja menoleh ke arah Kavita yang saat ini masih asyik menikmati sebatang coklat di tangannya. Wanita itu masih memejamkan matanya karena menikmati makanan yang memang menjadi favoritnya dan sudah lama tak ia konsumsi tersebut.
Lelaki itu terpana untuk sesaat, namun kemudian ia tersadar jika wanita itu sedang menakan coklat. Coklat? fikirnya.
"Vita...!" panggil Valdi setengah berseru. "Lo makan coklat? " tanyanya.
"Hah? Apa? Kenapa, Di? " Kavita yang sedari tadi masih asyik memejamkan mata saking menikmati coklatnya, sontak membuka mata karena terkejut mendengar pertanyaan dari Valdi.
"Emang kenapa? Nggak boleh ya? So-sorry deh, gue makan coklat lo tanpa izin ... ntar gue ganti, " tanya serta ucap Vita dengan rasa bersalah nya.
"Bukan itu masalahnya, Vit. Dan lo juga nggak perlu ganti. Tapi yang jadi masalahnya, lo itu belum boleh makan coklat banyak-banyak, oke? " ucap Valdi berhati-hati agar Kavita tak menjadi salah paham atas ucapannya.
"Oke, Pak Dokter Valdi, " jawab Vita seolah anak kecil yang penurut.
"Bagus ... anak baik, " Valdi mengusap kepala Vita dengan gemas. Kemudian ia sudah kembali mendegar suara Vero menginterupsi dari seberang telfonnya.
"Ya, gimana? " tanya Valdi yang sudah kembali pada ponsel yang sejak tadi masih menempel di telinganya.
"Gue ada cara, Bang. Tapi lo mesti tahan kakak gue dulu biar tetap betah berada di situ sampe gue selesai ngurus semuanya, gimana? " ucap Vero memberi solusi sekaligus syarat bersamaan.
"Hmm ... gimana ya? Masalahnya bentar lagi jam dinas gue mulai nih, " jawab Valdi menimbang.
"Ya gimana lagi, Bang. Emng lo gak bisa libur dulu apa buat hari ini?" tawar Vero.
Valdi tampak berfikir sejenak, "bisa aja sih, tapi kalo ngedadak kayak gini gimana sama pasien gue yang udah bikin janji ya,"
"Terus gimana dong, Bang? Kan cuma Abang doang yang bisa gue andelin buat saat ini, " ucap Vero memelas.
Valdi menghela nafas, "yaudah deh, ntar biar gue minta tolong si Ferdi biar gue alihin semua pasien gue ke dia, " putusnya.
"Oke, Bang. Makasih banyak ya... Yaudah, kalo gitu gue mau siap-siap dulu terus otewe kesana, " ucap Vero yang sudah kembali bersemangat.
"Oke deh, gue tunggu, "
"Oke Bang, bye.. "
"Bye... " Valdi pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam kantong jas nya.
"Terus, PR gue sekarang nahan si Kavita biar betah di dalem sini berduaan sama gue gitu?" ucap Valdi dalam hati.
"Semoga aja nggak ada yang ketiga deh, " lanjutnya bergumam.
"Siapa yang ketiga? " sahut Kavita.
"Siapa?" ucap Valdi balik bertanya, rupanya ia tak sadar jika perkataan nya baru saja terdengar di telinga Kavita.
"Ya siapa? Kan lo yang ngomong soal yang ketiga, maksudnya apa? "
"Oh, itu... bukan apa-apa kok, nggak usah di pikirin, " elak Valdi.
"Terus gue disuruh ngapain sih kesini? Emang gue perlu di periksa lagi ya? "
Mendengar pertanyaan Vita membuat Valdi tiba-tiba mendapatkan ide, daripada dirinya hanya terbentang berdua dengan Kavita dan tak tau harus melakukan apa, lebih baik ia memeriksa kondisi wanita itu saja sambil ngobrol-ngobrol santai selama menunggu kedatangan Vero.
π₯π₯π₯
Tahan bentar... biar Vero siap-siap dulu ye..
Ini antara Vita diketemuin sama Adrian apa enggak nih, pada setuju nggak sih sebenernya?
Soalnya Othor punya dua opsi ituπ