Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Flashback Kavita


Flashback


"Selamat pagi dunia ... Selamat pagi kesayangan Mommy... " Kavita mengelus perut buncitnya dengan senyum sumringah.


Hari yang indah di pagi yang cerah. Kala itu Kavita yang tengah hamil tujuh bulan merasa bahagia dan tak sabar menanti kehadiran sang buah hati yang semakin hati semakin aktif saja di dalam kandungannya. Perut yang terlihat lebih besar daripada ukuran perut ibu hamil lainnya, membuatnya kepayahan dalam melakukan segala aktivitasnya termasuk berjalan.


Meski begitu, Kavita tak pernah mengeluh, ia bahkan sangat bersemangat untuk mempersiapkan semua kebutuhan bayinya yang diprediksi akan lahir dua bulan lagi. Bukan hanya keperluan bayinya saja yang ia persiapkan, tapi kesiapan mental untuk menyambut hari kelahiran itu juga ia siapkan dengan baik. Sebagai seorang calon ibu, mengetahui jika kandungan dan dirinya baik-baik saja, membuat Kavita sangat ingin melahirkan secara normal.


"Sehat-sehat terus ya, Sayang... Biar kita bisa segera ketemu dengan cara yang normal dan aman, " setiap saat perut buncit yang terdapat sangat buah hati di dalamnya itu ia elus dan ia ajak bicara untuk membangun ikatan batin antara ibu dan anak.


Maka dari itu, Kavita selalu menurut dengan apa yang dokter Valdi katakan padanya selaku dokter kandungannya. Mulai dari gaya hidup sehat, memakan makanan sehat denfan komposisi yang tepat, istirahat cukup serta melakukan olahraga khusus ibu hamil sejak trimester kedua kehamilannya.


"Assiyaap, Dokter Valdi. Apapun akan saya makan dan lakukan demi kebaikan calon bayi saya, " begitu jawaban Kavita kala Valdi memberikan saran padanya. Itulah yang membuat Valdi selalu kagum juga pada pasiennya yang satu ini.


Sungguh calon ibu muda yang baik bukan?


Tetapi semuanya seakan sia-sia belaka karena pada akhirnya ibu muda itu harus melahirkan dengan cara operasi Caesar karena dirinya yang sudah tak sadarkan diri setelah mengalami pendarahan hebat. Dan yang menjadi penyebab itulah yang membuat semua orang merasa geram, kecewa, marah dengan emosi yang meluap-luap kepada seseorang yang mereka nyatakan sebagai tersangka penyebab kejadian itu.


Hingga rasanya mereka ingin membunuh orang tersebut saat itu juga, tapi orang itu malah sudah pergi terlebih dahulu disaat istrinya tengah merasakan kesakitan yang teramat hebat akibat pendarahan yang dialaminya. Kavita pun pingsan saat itu juga, pingsan yang membuatnya koma sampai dua bulan lamanya.


Flashback POV Kavita


Di pagi yang ceria itu, aku dan Adrian sedang merencanakan acara tujuh bulanan kehamilanku. Sebenarnya usia kandungan ku sudah tujuh bukan lebih, tapi katanya biar lebih baik, atau nggak terlalu nunggu lama sampai hari melahirkan aja makanya acaranya dibuat setelah usia kandunganku lebih dari tujuh bulan.


Rencananya, acaranya akan dilaksanakan malam ini juga, dan nanti sore para keluarga besar semua akan datang ke rumah. Pagi ini Nadiva, Kavero, dan para asisten rumah tanggaku yang lainnya sedang pergi berbelanja keperluan, juga mengambil pesanan kue-kue untuk hidangan para tamu nanti.


MUA, gaun yang akan aku kenakan, dan dekorasi juga akan dipasang nanti siang semua. Intinya pagi ini aku dan Adrian hanya sedang mempersiapkan diri aja untuk acara nanti malam.


Saat kami berdua sedang asyiknya mengobrol, tiba-tiba ponsel Adrian yang diletakkan di atas meja berdering. Aku sempat melihat sekilas, dan tertulis nama Valdo disana, keningku seketika mengerut.


"Valdo? Siapa tuh? Kek nama dokter kandunganku aja, cuma beda huruf belakang doang, beda O sama I aja, " gumamku dalam hati tanpa menanyakan siapa yang menelpon suamiku itu.


Adrian terlihat malas untuk mengangkat telepon itu setelah melihat namanya, ia meletakkan ponselnya kembali. Tapi ponselnya kembali berdering, dan itu berulang hingga tiga kali. Aku berfikir mungkin itu telepon penting karena si penelpkkn terus saja menghubunginya tanpa henti.


"Kenapa nggak di angkat? " akhirnya aku bertanya juga.


"Nggak usah, bukan orang penting, " jawab Adrian terlihat bete.


"Aku angkat telponnya dulu ya, berisik banget soalnya, " izinnya padaku.


Aku mengangguk setuju, karena kan siapa tau aja memang penting dan biar tau apa yang ingin disampaikan sama si penelpon yang bernama Valdo itu.


"Yaudah angkat aja, aku juga mau bikin jus dulu buat anak-anak ntar, abis belanja pasti capek dan kehausan, " ucapku pula yang kepikiran sama Nadiva sahabatku dan Vero adikku.


Lalu kami sama-sama berjalan ke belakang, aku bertujuan ke dapur sedangkan Adrian berjalan ke taman yang ada di belakang dapur.


Aku yang masih mengupas buah dan dia yang berada tak jauh dari pintu dapur membuatku masih dapat mendengar apa yang ia katakan pada orang yang ada di seberang telfonnya sama.


"Apa...? Va-Vara? Ada apa dengan Vara...?! " tanya Adrian yang sudah berteriak dan juga dengan nada paniknya.


Deg


Seketika gerakan ku yang sedang memotong buah mangga berhenti begitu saja. Nama itu, nama seorang wanita yang sudah lumayan lama tak pernah aku dengar. Bahkan aku hampir lupa jika ada dia diantara aku dan Adrian. Lalu apa yang terjadi dengannya, kenapa tiba-tiba nama itu disebut Adrian dengan nada khawatir dan panik?


Perasaanku tak menentu, bagaimana kalau kabar yang disampaikan oleh si penelpon itu membuat Adrian akan pergi meninggalkanku? Baru saja beberapa bulan ini aku merasa bahagia dan merasa menjadi wanita yang paling dicintai di dunia karena bisa mendapatkan perhatian serta kasih sayang penuh dari suamiku. Perhatian yang tanpa terbagi oleh apapun, bahkan pekerjaannya saja Adrian limpahkan kepada sekertarinya dan juga papi mertua karena katanya ia hanya ingin fokus padaku juga bayi di dalam kandunganku saja.


"Katakan! Ada apa dengannya cepat! " Lamunanku buyar saat mendengar teriakan Adrian kembali menggema.


Entah apalagi yang diucapkan oleh orang yang sekiranya bernama Valdo itu, tapi dari yang aku lihat dari balik jendela, raut wajah Adrian tampak sangat khawatir dan ketakutan. Bahkan aku juga melihat matanya mulai berkaca-kaca dan air matapun mulai menetes ke pipinya.


"Apa ada berita buruk?" tanyaku dalam hati.


Tapi apapun itu, aku merasa tak rela jika nantinya Adrian akan pergi dari sini dan meninggalkanku seorang diri. Apalagi malam ini adalah malam penting, dimana semua orang sedang turut sibuk mempersiapkan acara yang kami selenggarakan.


"Kalian dimana? "


" .... "


"Oke, aku akan kesana sekarang juga, "


Akhirnya, kalimat yang tak ingin aku dengar itu terucap juga dari bibirnya.


"Jangan... jangan tinggalin aku, Mas Adrian. Jangan... aku mohon, jangan katakan itu padaku," gumamku seorang diri.