Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kado Abstrak Pengalih Perhatian


Hari ini Kavita banyak menghabiskan waktunya dengan Nadiva dan para karyawannya, hingga membuat nya sedikit melupakan masalah yang ada. Setidaknya untuk sekejab saja biarkan dia berhenti menangis.


Hatinya sudah terlalu sakit dan rapuh, jika dia kembali bertemu dengan Adrian dan Vara lagi pasti hanya akan ada air mata lagi darinya, bukan senyum, tawa dan canda seperti saat ini.


"Happy wedding, Bu Kavita... " seru Nadiva beserta enam karyawannya.


Kavita yang sedang termenung di hadapan komputer pun menjadi terkejut dan cepat-cepat mengusap air mata yang ternyata sudh mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Kalian bikin aku kaget aja deh, " Vita tersenyum.


"Waah... apa nih? Kalian bikin surprise buat aku? " senyum Kavita merekah dengan binar di matanya melihat sebuah kotak besar yang dibawa oleh ke-enam karyawannya itu.


"Iya, ini yang aku bilang kemarin itu. Sory ya telat," Diva berbicara mewakili teman-temannya yang lain.


"Nggak papa, aku malah makasih banget sama kalian. Sampe kalian harus repot-repot kayak gini segala, "


"Ini kado spesial buat Bu Kavita.. " seru ke-enam karyawan itu bersamaan.


"Iya, Bu. Ini spesial banget dari kita bertujuh buat Bu Vita. Kita mau ngasihnya secara langsung buat Bu Vita, biar makin spesial, " ucap Diva yang di angguki ke-enam orang lainnya.


"Ini lagi jam istirahat, Diva. Panggilnya biasa aja, " ujar Vita mengingatkan sahabatnya.


"Oke, bestie kuuh.. " Diva merangkul pundak Kavita.


Tapi Kavita malah memeluknya, dan tanpa diminta, ke-enam karyawannya ikut menghambur memeluknya erat.


"Selamat menjadi penganten baru, Bu Vita, " ucap salah satu karyawan perempuannya.


"Selamat menempuh hidup baru, Bu.. "


"Selamat menjadi istri.. "


"Selamat melepas segel, "


Semuanya tertawa mendengar ucapan selamat itu, tak terkecuali Kavita. Namun ada sedikit nyeri di hatinya ketika teringat kenangan malam pertama nya bersama Adrian.


"Udah, udah.. engap nih gue nggak bisa napas, woi..!" teriak Diva yang berada di pelukan paling dalam.


Satu persatu orang-orang itu melepaskan diri, tapi disertai dengan teriakan dan sorakan.


"Eh, lu mah modus, Ben! " Seru Lela, salah satu karyawan wanita Kavita.


"Mana ada gue modus, " sangkal Beno, orang yang tertuduh tadi, yang namanya disebutkan oleh Lela.


"Lo juga, Kal. Yang lainnya berpelukan sodara bareng-barengan, lo peluk-peluk Nina aja, " Fafa, karyawan wanita yang lainnya berseru pada Haikal.


Lela, Beno, Fafa, Haikal, Nina dan Abi adalah karyawan dan karyawati Kavita sejak butik milik Kavita itu didirikan. Mereka ber-enam dulunya juga merupakan teman-teman Kavita semasa sekolah. Jadi mereka bisa sedikit akrab saat bukan jam kerja.


"Iri bilang, Bos! Si Nina aja enjoy-enjoy aje gue peluk, malah lo yang protes, " Haikal masih saja curi-curi pandang dengan Nina.


Nina gadis yang pendiam hanya sesekali tersenyum saat teman-temannya membuat guyonan meski itu menyinggung dirinya juga.


"Udah deh, kalian tuh jadian aja. Udah cocok, Sama-sama cantik dan ganteng, " kata Diva.


'Huaa... "Haikal pura-pura menangis.


" Dia udah punya cowok, Bu Div, " ucap lelaki itu.


Semua mata kini tertuju pada Nina yang tertunduk.


"Beneran, Nin? Tapi kok lo mau di peluk-peluk sama Haikal? " tanya Lela.


Nina menggeleng, "sebenernya enggak, "


"Kok sebenernya?"


"Palsunya? "


"Aku di jodohin sama cowok itu, " jawab Nina dengan suara mencicit.


"Berat kalau udah jodoh-jodohan mah, " sahut Beno.


"Eh, jangan salah.. biarpun dijodohin ada juga loh, yang jadi saling lope-lope en menjadi keluarga yang happy, " Nadiva menaik turunkan alisnya, pandangannya menyapu semua mata yang menatap penuh tanya padanya.


"Siapa? "


"Sapa, Buk Div? "


Nadiva melirik-lirik Vita yang merasa bingung.


"Bu Vita? "


"Beneran, Buk? " Lela memperjelas pertanyaannya langsung pada Kavita.


Kavita memaksakan senyum dan mengangguk mengiyakan.


"Ya.. gitu deh, "


"Ya kan.. makanya jangan asal menjudge kalau dijodohin itu gak bahagia, okey guys? "


"Udah.. udah! Sekarang mari kita minta Bu Vita buat buka kado dari kita bestie.. " seru Diva yang langsung menunjuk kotak berukuran lumayan besar yang tadi mereka bawa.


"Buka.. "


"Buka.. "


"Buka.. "


"Iya-iya bentar. Apaan sih isinya sampe segede ini kotaknya? "


"Buka aja, Buk.. "


"Ntar juga tau, "


Ketujuh karyawan Vita terkikik membuat wanita itu curiga.


"Kalian mencurigakan, Jangan-jangan isinya kodok lagi. Nggak mau buka ah, " Vita yang sudah membuka sebagian kotak itu menghentikan gerakannya.


"Bukan.. kalau kodok udah metong dong, kan bungkusnya udah dari kemaren, Buk, "


Vita melanjutkan membuka kotak besar itu, dahinya berkerut melihat kotak-kotak lebih kecil di dalamnya.


"Buka yang merah dulu, Buk, "


"Pokoknya sesuai warnanya ya, biar kek pelangi gitu urutannya, " Lela menjelaskan.


"Iya, "


Vita membuka kotak merah, isinya membuat kedua matanya mendelik sempurna. Sebuah lingerie berwarna merah menyala dengan desain super sexy ia bentangkan ke atas sebelum ia menyadari benda apa itu sebelumnya. Ia segera menyembunyikan ke dalam kotaknya lagi setelah faham apa benda tersebut.


"Ulah siapa ini? hayo ngaku! "


Diva dan teman-temannya tertawa terbahak.


"Rahasia dong.. ayo lanjut buka yang lainnya lagi,"


"Nggak mau. Kalian ini masih pada single tapi udah ngeres aja pikirannya, "


"Kita semua 'kan udah 21+, Buk. Udah sah-sah aja kalau mau berhalu, " ucap Haikal.


"Huuu... " sorak yang lainnya.


"Ini ntar lagi aja aku buka-nya, " Vita menutup kembali kotak kado besar itu.


"Yaah... gagal kita liat ekspresi Bu Vita nya, "


"Enak aja kalian mau ngerjain aku, "


"Yaahhh... " kembali mereka bersorak kecewa.


"Sebagai ganti kekecewaan kalian, dan sebagai ucapan terimakasih aku. Gimana kalau kalian semua aku traktir? "


Jari jemari Kavita mengetuk-ngetuk kotak kado di depannya, berharap para karyawannya itu mau menerima penawaran darinya. Dia sangat malu kalau harus membuka semua kado dari karyawan-karyawan nya yang berupa barang bersifat pribadi itu.


"Serius, Buk? " Kavita mengangguk.


"Mau dong.. "


"Mau, "


"Mau banget, " Fafa berkedip-kedip genit.


"Oke, ntar malem abis butik tutup ya.. sekarang silahkan semuanya kembali ke pekerjaan masing-masing, " Vita mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh para karyawannya bubar.


"Gue harus selalu cari cara biar bisa pulang larut atau kalau perlu nggak usah balik ke rumah itu lagi. Aku nggak akan sanggup kalau harus ketemu sama dua orang itu lagi, "


Kavita kembali menghela nafas berulang kali, setiap kali ia sendiri, bayangan-bayangan Adrian dan Vara selalu hadir di otaknya. Hal itu membuatnya secara otomatis mengeluarkan air mata, lagi dan lagi.


"Mungkinkah takdir kehidupan rumah tangga ku memang harus seperti ini, meski aku tak pernah merasa mempunyai salah sama mereka, " gumam Kavita yang sudah kembali menyeka air matanya.


Bersambung...