
Vita reflek mengalungkan kedua tangannya pada leher Adrian seraya memekik terkejut sebab pria itu tiba-tiba saja menggendong dirinya ala bridal.
Sontak ketiga orang lainnya terdiam memperhatikan apa yang akan diperbuat oleh Andrian terhadap Vita. Jujur saja, Kavero dan Nadiva masih memiliki rasa kesal pada sosok laki-laki yang merupakan suami dari Kavita itu. Mereka hampir kehilangan kepercayaan pada Adrian karena ulah dari pria itu sendiri.
"Lo mau apain kakak gue, banci? " seru Vero yang sudah langsung berucap dengan nada tinggi.
"Lo sakitin sahabat gue, gue bikin perkedel lo! " sahut Diva mendukung kemarahan Vero.
"Santai.. santai.. Bro and Bray. Kavita ini masih istri sah saya kalau kalian lupa. Jadi saya sangat punya hak untuk membawa Vita kemanapun dan mau saya apakan juga, itu hak saya, " jawab Adrian tanpa menurunkan Kavita.
Wanita itu tampak nyaman berada dalam gendongan Adrian, dan malah mengendus aroma maskulin Adrian yang menyeruak ke dalam hidungnya dan menjadi candu baginya kini.
"Iya, tapi yang makan Kak Diva! " seru Vero lagi yang membuat gadis di sampingnya itu menoleh.
"Kok gue sih? " sentak Diva tak terima.
Vero nyengir kuda, "kan lo yang mau jadiin dia perkedel, gue mah ogah, "
"Ish, gue juga ogah kali. Cowok modal tampang doang nggak ada baik-baiknya kayak gitu buat apa. Cuma bikin makan ati ajah, " sewot Diva.
"Enak dong, makan ati. Apalagi kalau di bikin sambel goreng, mantul tuh masakan mama, " sahut Vero.
Diva mendelik, "gue lagi serius, Kavero Indrawan! " lanjutnya tegas.
"Saputra, " tambah Vero.
"Gue udah tau kalo lo putra, bukan putri. Jadi gak usah dijelasin lagi, gak penting, "
"Ya sapa tau 'kan lo minat buat antri jadi kandidat cewek gue yang ke 100," ucap Vero dengan percaya dirinya.
Gadis itu memutar bola matanya, "hellow.. Kavero Saputra Indrawan, kalo lo masih tidur. Takutnya bangun-bangun shock lo ntar, "
"Awas jatuh cinta, " ucap Vero.
"Gue lagi serius, Vero! " Nadiva meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap Vero tajam.
"Gue juga serius, Kak Diva! " Vero pun tak mau kalah, ia turut berkacak pinggang dan balik menatap Diva.
"Sst... sabar, bocil-bocil mania, " Valdi pun angkat suara, karena ia melihat Vita nyaman, jadi tak masalah baginya jika Adrian membawa wanita itu bersamanya.
"Lo lebih bocil ya, Dokter Valdi! " ucap Vero menunduk menatap Valdi yang memiliki tinggi sebatas dagunya.
Sebenarnya Valdi bukanlah pendek, melainkan Vero yang memiliki tinggi overdosis bak jerapah. Bahkan Adrian yang sudah tinggi juga masih kalah dengannya meski hanya selisih beberapa centi saja.
"Hillih.. tuaan aja sombong, gimana kalau kaya'an?" Vero berkacak pinggang.
"Eh, tapi semua itu bener kan, tuaan emang gue, kaya'an juga gue, gantengan juga gue. Mau apa lo bocil? " tantang dokter Valdi.
Diva ternganga, ia yang semula menganggap dokter Valdi orang yang diam dan serius ternyata bisa juga meladeni kekonyolan tingkah Vero.
"Kalian tuh malah debatin apa sih daritadi? Liat tuh Vita dibawa kabur ma Adrian! Kalian malah sibuk debatin sesuatu yang gak penting," sungut Diva.
Memang Adrian yang melihat Vero dan Diva lalu disambung dengan Valdi dan Vero saling beradu mulut membuatnya merasa mempunyai celah. Lelaki itu pun segera membawa Kavita yang ada dalam gendongannya menjauh dari mereka semua demi bisa segera membawa istrinya itu dari tempat tersebut.
"Woy, Adrian! Awas lo bawa Vita kabur!" lanut Diva meneriaki Adrian yang mulai menjauh.
"Vita juga mau kok gue bawa kabur, " balas Adrian berteriak pula meski tak sekencang suara Diva.
"Sory ya semua.. anak gue mau sama daddy nya, " lanjut Vita berseru, tapi hanya terdengar sama-sama di telinga tiga orang yang saling debat tadi.
Adrian mengernyitkan dahi dan memelankan langkahnya, "Daddy?" tanya nya pada Vita.
"Iya, ada yg salah? " jawab sekaligus tanya Vita pula dengan kerutan di kening.
Adrian menggeleng, ada sesuatu yang terasa menggelitik hatinya mendengar panggilan itu tertuju untuknya. Seperti ada yang mengetuk pintu hatinya yang tertutup dan hanya ada Vara di dalamnya.
Tapi sejurus kemudian lelaki itu tersenyum, "oke, Mommy.. Daddy akan beraksi.."
"Beraksi?" ulang Vita bertanya.
"Taulah.. kita'kan mommy and daddy. Jadi Daddy mau nengokin baby dong, " ucap Adrian yang malah menggoda dirinya menggoda.
"Hah?" tanpa berbagai macam itu
"Nggak mau! Kata dokter Valdi juga belum boleh tauk.."
"Yaudah deh.. kalau gitu tengoknya dari luar aja," ucap Adrian yang mendesah kecewa.
Dalam hati Vita tertawa terbahak karena berhasil mengerjai Adrian.
°°°
Jika berkenan bisa mampir juga ke karya Othor yang berjudul 'Apa Salahku, Ibu Mertua? ' disana ada Anggita yang selalu disiksa oleh ibu mertuanya. Bahkan suaminya juga ikut membencinya karena difitnah oleh sang ibu mertua juga.
Kalau lagi pengen menguras emosi lagi, bisa mampir ya.. terimakasih 🙏