Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Tiba di Rumah Sakit


Sepasang suami istri paruh baya tersebut turun dari dalam mobil begitu kendaraan yang mereka tumpangi tadi berhenti tepat di depan Rumah Sakit Setia Hati yang ditempati oleh Aditya untuk mendapatkan perawatan disana.


Pandangan keduanya berkeliling di seluruh rumah sakit tersebut, sebuah bangunan rumah sakit yang tampak sederhana namun sangat indah dan terawat, apalagi ditambah dengan berbagai macam tangan bunga dan buah yang tertata rapi membuat rumah sakit tersebut semakin terlihat asri.


"Udara disini sejuk banget ya, Pih ... sangat baik untuk para pasien yang memang membutuhkan udara segar untuk pemulihan penyakitnya, " ucap Mami Shinta kepada papi Wijaya.


"Iya, Mih. Sepertinya Papi saja bakalan betah kalau tinggal di daerah sini. Kesetaraan udaranya bikin tubuh rileks, " ujar papi Wijaya seraya meregangkan tubuhnya. Ia merasa lebih segar begitu menghirup udara disana.


Keduanya berjalan kearah dimana Aditya dirawat dengan di dampingi oleh bodyguard yang bertugas sebagai menjemput mereka berdua.


"Penataan ruangan, serta dekorasinya juga bikin orang betah ya, Mih ... nggak kelihatan kalau ini tuh rumah sakit, jadi ngerasa nyaman kayak di ruang sendiri, " nilai papi Wijaya pada rumah sakit tersebut yang mendapatkan anggukan dari sang istri.


"Kalo ini bila sih, Mami mau tinggal disono, Pih. Sayangnya ini rumah sakit, jadi meski sebagus dan semenarik apapun itu, Mami gak mau tinggal lama-lama disini, " ujar mami Shita, membuat papi Wijaya terkekeh.


"Kita buat saja bila di deket-deket sini, Mih, kalau memang Mami suka banget sama semua keadaan disini, "


"Enggak usah lah, Pi. Kecuali kalau menantu sama cucu kita itu ketemu, Mami mau tinggal di daerah sini yang udaranya sejuk, yang sangat baik untuk perkembangan bayi dan ibu menyusui agar tidak stress, " tutur mami Shinta yang seakan memiliki ikatan batin tersendiri kepada sang menantu dan cucunya yang memanglah berada disana juga.


"Yasudahlah, Pi. Jangan bahas itu lagi dulu untuk saat ini! Cuma bikin sakit hati dan sedih saja. Padahal kan kita kesini buat ketemu sama Aditya yang lagi sakit dan sangat membutuhkan perhatian dari kita, " ujar mami Shinta seraya m🥳ng hentikan langkahnya. Ia mengambil tisu dari dalam tas jinjingnya dan mengusap air mata yang sempat meleleh di pipi mulusnya. Air mata yang sudah selalu menetes dengan sendirinya tanpa diminta, jika ia kembali teringat kepada anak dan menantunya dimana pun mereka semua berada.


"Iya, Mih. Ayo kita masuk! " ajak papi Wijaya pada istrinya yang masih merasa melow.


Sampai di dalam ruangan tersebut mereka sangat terkejut dengan keadaan di dalam ruang perawatan Aditya tersebut. Pasalnya di dalam ruangan itu ia tak dapat menemukan dimana keberadaan Aditya.


"Adrian ... kemana perginya adikmu itu? Kenapa dia tidak ada di dalam ruangan ini?" tanya papi Wijaya setelah memindai seluruh isi ruangan tersebut, dan ia hanya menemukan Adrian yang masih setia menatap layar gadget nya. Serta beberapa bodyguard yang masih standby disana yang sisanya masih mencari-cari keberadaan seorang wanita yang dicurigai adalah istri dari tuan mereka tersebut, yang sampai saat ini masih dilakukan oerncatian terhadap mereka.


Mengenai ruangan ruangan tidak ada isinya?


"Bisakah kita abaikan saja keadaan ruangan ini? Yang penting sekarang dimana Aditya berada,"?


Lensaenting leasa menyangkut harkat dan berjalan genggaman dan mengejar bisa dilakukan