
"Anak ini anakku! Bukan anak kita! "
"Tidak ada kata kita lagi diantara aku dan kamu! "
Beberapa bulan yang lalu, Kavita merasa sangat bahagia saat mendengar Adrian menyebut bayi yang ada di dalam kandungannya itu sebagai 'anak kita'. Namun tidak lagi setelah ia tahukenyataan yang sesungguhnya, sebuah kenyataan pahit yang ia tahu setelah hidup bersama selama berbulan-bulan lamanya dengan sang suami.
Sebuah kenyataan jika dirinya hanyalah dimanfaatkan oleh lelaki yang selama ini ia cintai dengan tulus. Suaminya yang dengan sengaja bekerja sama dengan istri pertamanya, dan lebih parahnya, kedua mertua yang selama ini juga bersikap sangat baik padanya ternyata juga tau akan hal tersebut.
"Kenapa mereka semua tega membohongiku dan memanfaatkan aku? Apa salahku pada mereka? " ratap Kavita kala itu. Ia memendam rasa sakit itu seorang diri karena tak ingin membuat kedua orangtuanya merasakan kecewa juga sama seperti dirinya.
Kekecewaan di dalam hati Kavita bukan lagi hanya karena cinta, tapi karena rasa kepercayaan nya juga yang ikut dipermainkan di dalam keluarga suaminya. Ia merasa amat sangat sakit hati dengan kenyataan yang baru ia ketahui setelah beberapa bulan masuk ke dalam keluarga Wijaya.
Sebuah keluarga yang semula ia kira adalah keluarga yang sangat baik dan sempurna untuk dijadikan rabatan hingga akhir hayat hidupnya, ternyata hanya bisa memberikannya kebahagiaan semu yang sesaat saja.
"Aku ingin pergi dari sini... tapi apa yang bisa aku katakan pada papa dan mama? Bagaimana kalau mereka kecewa nanti? Aku nggak mau jadi anak yang durhaka dan membuat sedih orang tua, "
Menangis dan terus meratap, hanya itulah yang bisa Kavita lakukan selama beberapa waktu setelah ia mengetahui kebenaran dalam keluarga suaminya itu. Hati kecilnya mengatakan jika mereka semua melakukan hal itu supaya tidak membuat nya sedih, dan juga demi melanjutkan generasi berikutnya dalam keluarga.
"Mungkin aku masih bisa memberikannya kesempatan kedua, dari yang aku lihat, Mas Adrian sudah tak pernah bertemu dengan Vara lagi, " gumam Kavita yang kalau itu masih mencoba untuk berbaik sangka dan berusaha untuk mensugesti dirinya dengan berpositif thingking.
Tetapi itu dulu. Sebelum semuanya hancur dan tak bisa lagi diperbaiki. Hati Kavita dibuat hancur sehancur-hancurnya oleh Adrian. Hingga pada akhirnya wanita itu tak mampu lagi untuk bertahan.
"Kavita...! Aku mohon... berikan aku kesempatan sekali lagi, Vit! Aku mohon... aku akan jelasin semuanya! " terdengar lagi suara teriakan Adrian dari luar sana.
"Apa? Apa yang akan kamu jelaskan! Semuanya sudah jelas! Kamu lebih memilih dia dari pada aku dan bayiku. Jadi jangan pernah lagi ganggu kami. Kami sudah sangat bahagia dengan kehidupan bahagia kami saat ini! " tegas Kavita yang masih tetap enggan untuk membukakan pintu kamarnya.
Ia masih memilih untuk berdiam diri di dalam kamar itu dengan Nadiva yang terus mencoba untuk menenangkan nya.
"Udah sih, Vit. Nggak usah di ladenin orang kayak gitu! Biarin aja dia di luar sana di urusin sama Vero, Valdi dan yang lainnya, "
"Tapi gue takut, Div. Gue takut dia bakalan nekat. Tadi aja lo denger sendiri kan ada suara tembakan yang kita nggak tau ada apa di luar sana. Apa yang terjadi sama mereka semua, "
Kavita terduduk lemas di ranjang, ia semakin saja mendekap baby Kava dengan posesif, tak ingin sampai siapapun mengambilnya dari dekapan. Tak peduli siapa ayahnya, ia tetap sangat mencintai bayinya, dan tak sanggup jika harus berpisah dari bayi tampan tersebut.
Sementara diluar sana masih terjadi ketegangan antara kubu papi Wijaya dan Adrian beserta anak buahnya, dan papa Indrawan yang juga kini bersama para anak buahnya yang bertambah, berdatangan dengan jumlah yang lebih banyak dari para bodyguard Adrian.
Papi Wijaya tampak menahan lengan Adrian yang terus berontak untuk mencari dimana keberadaan Kavita dan juga buah hatinya. Ia yakin jika kedua orang yang kini sangat berarti dalam hidupnya itu berada di dalam sana. Makanya ia sedari tdi berteriak-teriak seperti orang gila.
"Adrian! Tenangkan dirimu, tahan emosimu! Dengan tingkah lakumu yang seperti ini hanya akan membuat Kavita dan bayi kalian ketakutan! " ucap papi Wijaya memperingatkan.
"Adrian yakin Kavita dan anak kami ada disini, Pi. Adrian nggak bakalan ngebiarin mereka pergi lagi dari Adrian! Lepasin, Pi. Lepas...! " lelaki berwajah kusut dan berkata merah itu terus mencoba berontak dengan sisa tenaganya.
Di hadapannya ada papa Indrawan dan mama Indri yang menatapnya dengan tatapan benci. Sedangkan Kavero yang baru saja keluar karena mendengar keributan dari luar sedikit terkejut dengan kedatangan semua orang yang sudah memenuhi ruang tamu rumah dokter Valdi tersebut.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian membuat keributan di rumah saya? Bahkan sampai ada suara tembakan, itu hal yang sangat membahayakan. Saya bisa melaporkan kalian semua ke kantor polisi, "
"Kamu...! " Adrian yang melihat dokter Valdi keluar dari dalam rumah bersamaan dengan Kavero, langsung melotot tajam, begitu terlihat amarah yang membara dan kebencian dari sorot matanya.
Jari telunjuk Adrian mengarah tepat pada Valdi, "Kamu kan yang sudah membawa kabur istri saya. Dan sekarang kamu juga yang sudah menyembunyikan istri dan anak saya di dalam rumah ini. Kembalikan mereka pada padaku! Kamu tidak berhak! Bahkan saya yang bisa melaporkan kamu kepada pihak kepolisian! " teriaknya mengancam.
"Oh ya? Silahkan saja kalau Anda bisa. Saya rasa, Anda sudah tidak mempunyai hak untuk itu, " jawab Valdi tenang dengan syarat akan makna.
"Papi! Lapor polisi sekrang juga, Pi! Laporin dokter gadungan itu pada polisi atas tuduhan membawa kabur istriku, istri dari seorang Adrian Saputra Wijaya. Seorang CEO yang berkuasa di negri ini, "
"Maksud Anda, CEO yang berkuasa namun tak memiliki hati? Lalu apa gunanya kekuasaan Anda jika tidak ada cinta di dalam diri Anda? Yang ada hanyalah rasa egois dan ingin menyempurnakan kehidupannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, " tajam dan menusuk tepat di jantung hati Adrian.
Ucapan dokter Valdi yang terus menyudutkan dirinya membuat Adrian semakin murka. Lelaki itu berusaha merampas pistol yang dipegang oleh salah satu anak buahnya, namun todongan yang lebih banyak segera mengarah pada dirinya dari anak buah papa Indrawan.
"Adrian! Kamu jangan gegabah! Kita sama saja bunuh diri disini dengan kelakuan kamu yang seperti preman begini, " geram papi Wijaya pada putra sulungnya.
Valdi tersenyum smirk, ia melirik ke salah satu sudut yang menampakkan sebuah mata kamera menyala, merekam apa yang dilakukan oleh Adrian. Tentu saja itu akan menguntungkan bagi pihak mereka.