
Hujan rintik membasahi bumi, membuat matahari enggan menyinari. Ditambah hari memang masihlah sangat pagi, Vita terbangun dan mendapati Adrian sudah berbaring disampingnya.
Rasa sesak kembali menyeruak di dalam dadanya saat teringat kelakuan suaminya juga selingkuhannya, atau apalah itu namanya. Yang jelas kedua orang itu sudah melakukan suatu hal yang salah, suatu hal yang membuat dia merasa sangat tersakiti.
"Bagaimana cara dia masuk? aku yakin sudah mengunci pintunya semalam, " Kavita bergumam di dalam hatinya.
Tak mau ambil pusing akan hal itu, Kavita memilih untuk segera beranjak dari tempat tidur. Karena jika berlama-lama berada di dekat Adrian, yang ada hatinya akan kembali sakit.
"Ssh.. " Kavita meringis seraya memegangi kepala, langkahnya terhuyung karena merasakan kepalanya yang pening.
Mungkin akibat dari kurangnya tidur ia semalam, ditambah dengan menangis dalam jangka waktu yang lama. Bahkan ia baru tertidur beberapa saat sebenarnya, itupun karena ia mengkonsumsi obat tidur terlebih dahulu.
Dengan langkah terseok Kavita memaksakan diri berjalan ke kamar mandi, untuk membasuh muka dan sekedar membersihkan diri.
Kavita memutuskan untuk pergi pagi itu juga sebelum orang-orang di rumah itu terbangun. Ia ingin sekedar menenangkan diri barang sebentar agar tak berlarut dalam kesedihan.
Tak berapa lama wanita itu bersiap, hanya mengganti pakaian nya saja tanpa menghias diri dengan make up, tak ada gunanya, begitu fikirnya.
"Mau kemana aku sekarang? " gumamnya mendesah pelan.
Saat ini Kavita sudah berada di dalam taksi online yang tadi ia hubungi. Dirinya pun hanya menyelinap lewat pintu belakang agar tak seorangpun tau. Karena ia sedang malas bertemu siapapun yang menghuni rumah itu, meskipun hanya para pembantu dan bahkan satpam.
"Aku ke butik aja kali ya, biar gak ada yang tau selain Nadiva, " ia bergumam pada dirinya sendiri.
"Ke Jalan Mawar Berduri Nomor 17A, Pak," ia menyebutkan alamat yang ia tujuan pada supir taxi tersebut.
Supir taksi itu hanya diam dan mengangguk. Tak ada rasa curiga dari Kavita, karena fikirannya sudah dipenuhi oleh bayang-bayang Adrian dan Vara yang tengah bermesraan.
Tak berapa lama mobil taxi itupun sudah berhenti tepat di depan butik miliknya. Pagi mulai menyapa, mentari baru sedikit menampakkan sinarnya karena rontok hujan baru saja reda. Tempat yang sudah berapa minggu ini tak ia kunjungi tersebut masih tampak sepi.
"Bayarnya pake aplikasi ya, Pak. Makasih.. "
Supir taxi itu tetap diam dan hanya mengangguk. Sebenarnya akan sangat mencurigakan bagi orang yang sedang dalam keadaan kesadaran yang normal, tapi tidak bagi Kavita yang keadaan hati dan fikirannya sedang kacau.
Begitu Kavita turun, taxi tersebut langsung pergi tanpa kata namun berhenti di ujung jalan dan berdiam diri disana. Entah apa yang akan dilakukan oleh supir taxi itu.
Kavita mengambil kunci dari tas ransel kecil yang ia gendong di belakang, ia membukanya lalu masuk ke dalam. Segera wanita itu menuju dapur untuk membuat segelas minuman panas dan berjalan menuju ruangannya yang berada di lantai tiga bangunan tersebut.
Helaan nafas berat yang kesekian kalinya terdengar dari mulut seorang wanita yang kini duduk termenung sendirian di samping jendela sebuah ruang kerja.
Sebuah ruangan kerja yang juga terdapat kamar disana, tempat Kavita beristirahat dari pekerjaan nya saat harus lembur mengerjakan desain pakaian kalau mengejar target. Semua atas desain Kavita sendiri.
Air mata Kavita kembali mengalir tanpa diminta, bayangan Adrian yang tengah mencumbu Vara terus terbayang di otaknya. Hatinya hancur melihat sang suami yang begitu dicintainya tengah bermesraan dengan wanita lain.
Kavita tampak sangat frustasi, keadannya begitu menghawatirkan.
"Apa yang mesti gue bilang sama papa? "
"Gimana gue jelasinnya sama mama? "
"Gue nggak mau mereka ikut hancur gara-gara masalah gue ini, " ucapnya terus menerus sambil menangis tersedu.
"Apa aku akan sanggup berpura-pura dihadapan mereka semua? "
Jiwa yang terguncang itu kini sangat rapuh, ia butuh sandaran untuk melampiaskan semua rasa sakitanya. Tapi pada siapa ia akan mengadu?
Sedangkan Kavita bukanlah tipe orang yang suka membagi kesedihan, melainkan kebahagiaan. Dia adalah seorang gadis yang paling tidak bisa melihat orang lain bersedih, apalagi kesedihan itu bersumber dari dirinya sendiri.
Maka dari itu, dari dulu Kavita selalu menyembunyikan masalahnya dari orang-orang terdekatnya. Paling hanya Nadiva tempatnya untuk berbagi cerita, itupun dengan segudang ancaman agar Nadiva tidak memberitahukannya kepada sang mama tercinta.
Sebuah mobil terparkir di pojok ruko butik miliknya, Kavita yang menyadari jika mobil tersebut adalah milik sahabat nya, Nadiva. Segera menghapus air matanya dan beranjak ke wastafel untuk membersihkan wajah. Setelah itu ia dengan cepat mengaplikasikan beberapa alat make up di wajahnya agar tak terlalu terlihat jika dirinya udah menangis.
Sebagai pemilik butik dan merupakan desainer, ia memiliki bakat untuk merias wajah juga. Hanya saja itu ia terapkan pada dirinya sendiri dan mungkin orang terdekatnya.
"Sudah lebih baik daripada tadi 'kan? " Kavita bertanya pada diri sendiri seraya berkaca dan melihat pantulan dirinya dari atas kebawah.
Kini ia sudah berganti dengan dress di atas lutut tanpa lengan yang nantinya akan dipadukan dengan blezer jika hendak pergi keluar. Rambutnya yang berwarna coklat keunguan itu tergerai sempurna sebatas pinggang. Ditambah dengan sepatu heels yang memiliki tinggi tujuh centi meter itu membuat dirinya yang sudah tinggi semampai menjadi semakin menjulang saja.
"Sempurna, " gumaman yang bernada getir itu terucap dari mulut yang sudah mulai mewek lagi.
Ya, gadis itu memang sangat sempurna. Hanya saja dia jtuh cinta pada lelaki yang sudah melabuhkan cinta pada lelaki lain, hingga kecantikannya tak terlihat dimata lelaki itu. Meski ia begitu bersinar dimata banyak lelaki lain. Termasuk Aditya, yang merupakan adik iparnya sendiri.
"Stop, Kavita! Plis lo jangan nangis lagi, apa kata Nadiva nanti kalau liat lo nangis kayak gitu. Nisa-bisa dia kepo dan mengecap pernikahan lo nggak bahagia, meskipun emang sebenarnya begitu, " monolognya pada diri sendiri.
Kavita berusaha sebisa mungkin meredam gejolak di dalam dadanya, ia menetralkan nafas dan membuka pintu ruangannya lalu berjalan turun.
Suara sepatu heels yang bertubrukan dengan lantai membuat seorang gadis yang tengah berdiri di hadapan komputer mendongak, mata bulat itu melebar melihat siapa yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Kavita... " Seru Nadiva saat melihat sahabat nya setelah beberapa waktu tak bertatap muka.
"Nadiva... kangen, " rengekan manja terdengar pula dari mulut Kavita.
Kedua sahabat itu bercipika cipiki lalu berpelukan erat menyalurkan rasa rindu yang membuncah.
Bersambung...