Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Uber-uberan


Diva dan yang lainnya masih asyik mengobrol dan bersenda gurau di ruangan bayi yang ditempati oleh bayi Kavita dan para bayi yang lainnya, tanpa mereka sadari jika ada bahaya yang tengah mengancam saat ini.


Sebenarnya bukan suatu bahaya juga sih, tapi hal itu sangat mengancam ketenangan dan kebahagiaan Kavita dan yang lainnya.


Aditya di dalam toilet masih berjuang untuk menghubungi nomor Diva yang bahkan entah berada dimana ponselnya. Pemiliknya pun masih belum menyadari jika ia tak membawa benda tersebut karena masih terlalu merasa asyik mengobrol dengan orang-orang yang disayanginya.


Sementara itu di ruangan dokter Valdi yang tadi sempat ditempati beberapa orang itu untuk bersandiwara, kini dokter Ferdi sesuai bersiap untuk pergi dari sana dan kembali ke ruangannya karena para pasiennya sudah menunggu.


Namun saat beranjak dari duduknya, ia seperti mendengar suara ponsel bergetar. Keningnya berkerut mendengar dengan seksama apakah dia salah dengar atau tidak, tapi sejurus kemudian ia melihat tas slempang milik Diva dan suara ponsel tersebut berasal dari sana.


"Itu tas cewek tadi kan? Yang namanya Diva, cewek yang konyol nya minta ampun tadi? " gumamnya tersenyum saat mengingat kelakuan Diva dan Vero yang konyol saat berusaha untuk mengelabui para anak buah Adrian tadi.


"Kenapa tas nya ditinggal disini? Terus pada kemana sih mereka? Kalo nggak salah tadi bilang mau nyusul si Valdi sama Vita gitu kan ya. Apa mereka masih ada di ruangan bayi? " monolog dokter Ferdi mengingat-ingat.


Sebenarnya ia tak ingin ikut campur dengan urusan orang, apalagi mengenai barang pribadi seperti tas dan ponsel, tetapi mendengar ponsel Diva yang terus berbunyi membuat nya berfikir jika mungkin saja orang yang menghubungi nya itu adalah sesuatu hal yang sangat penting, jadi ia memutuskan untuk memberikan nya pada Diva.


"Sekalian jalan ke ruangan gue lah, " Ferdi mengambil tas milik Diva lalu berjalan ke luar dan menuju ruangan bayi dimana tadi ia mendengar jika mungkin saja Valdi akan kesana.


"Ayolah, Diva... angkat telpon gue! Atau baca pesen gue! Gue bukan mau neror elo! Tapi ini benar-benar urgent, " Aditya terus berusaha menelpon nomor ponsel Diva yang saat ini tengah berada di tangan dokter Ferdi.


Sedangkan dokter Ferdi tidak akan berani mengangkat telpon tersebut karena itu merupakan benda sensitif dan sangat pribadi, takut-takut jika nanti Diva bisa saja marah padanya kalau ia lancang memegang apalagi sampai mengangkat telpon tersebut.


"Bentar, bentar ih. Sabar napa. Gue lagi jalan ini," dokter Ferdi berucap pada benda yang ada di dalam tas yang dipegangnya, ia pikir si penelepon bakalan denger kali ya.


Ferdi sampai di ruangan bayi yanang benar jika Diva dan yang lainnya masih ada disana. Ferdi pun langsung memberikan tas tersebut kepada pemiliknya, yakni Nadiva.


"Nah, ni dia nih orangnya pada dimari. Nih tas lo! Berisik hape lo bunyi mulu, angkat tuh, siapa tau penting, soalnya udah daritadi banget bunyi, "


Diva menoleh dan menerima tas tersebut, "oh, thank, Dok. Gue hmpir lupa sama tas gue gara-gara ketawa mulu, "


Begitu melihat ponselnya kening Diva mengernyit dalam, pasalnya sudah ada puluhan panggilan tak terjawab lengkap dengan ratusan pesan yang belum dibaca, dma itu dikirmkan oleh satu nomor saja, yaitu Aditya.


"Kenapa ni bocah nyariin gue? " tangannya mengetuk dan menggeser layar benda pipih tersebut dengan lincah, dan kedua bola matanya hampir terlepas begitu ia membaca pesan yang dikirim oleh Aditya.


"Lo apa-apaan sih, Diva? Tiba-tiba kek orang kesetanan gitu? " heran Valdi melihat ekspresi panik Diva.


Bukannya menjawab, Diva malah memberikan ponsel dan menunjukkan apa yang teryamlil di layar ponselnya tersebut kepada Vero dan Valdi. Kedua lelaki itu tak kalah paniknya setelah membaca isi pesan dari Aditya yang ditunjukkan oleh Diva.


"Mereka udah jalan, " seru Diva lagi yang tentu saja membuat Vero dan Valdi semakin panik.


"Kalian kenapa sih? Mulai lagi deh, " Vita yang sejak tadi hanya diam dan fokus mengASIhi bayinya angkat suara juga saat merasakan kursi rodanya bergerak karena di dorong.


"Aa eng gakpapa, kita pindah aja dari sini. Daripada kita berisik mulu dan mengganggu bayi yang lainnya kan, " ujar Valdi berusaha mencari-cari alasan agar Kavita tak merasa curiga dan saling bertanya lebih banyak lagi.


Ketiga orang itu membawa Kavita dan bayinya pergi dari ruangan bayi dengan memikirkan akan kemana nantinya, tak lupa Valdi juga sudah menyelimuti bayi Kavita agar tak kedinginan terkena udara luar.


"Yang kuat ya, Nak. Maafin ayah terpaksa membawa kamu pergi dengan cara seperti ini. Semua ini demi kebaikan kamu dan juga bundamu, yang belum siap untuk bertemu dengan papa kandungmu, " batin Valdi dengan terus mendorong kursi roda Kavita.


Vero dan Diva celingukan waspada, jika saja ada anak buah Adrian yang berpencar dan berkeliaran di sekeliling mereka.


"Gimana kalau kita ajak ke tempat Kak Valdi aja, yang paling deket dari sini? " bisik Berobet rmaya pada Diva.


"Coba aja lo tanya ama Valdi, " balas Diva yang juga dengan berbisik agar tak terdengar oleh Kavita.


Valdi mengangguk setuju dengan kde Vero setelah pemuda itu membisikkan di telinganya. Mungkin itu memang yang terbaik untuk saat ini karna ia belum juga menemukan tempat lain yang sesuai dan letaknya tak terlalu jauh, karena masih sangat berbahaya jika bayi Kavita tiba-tiba saja dibawa ke tempat yang jauh padahal baru saat ini bayi itu keluar dari box inkubator dalam waktu yang lama. Sedangkan di tangannya saja masih ada jarum beserta selang infus yang menempel.


"Oke, biar ntar gue minta tolong sma Versi buat urus keperluan lainnya. Termasuk inkubator, infus dan yang lain-lainnya, " gumamnya.


"Ini kita mau kemana sih, Di? Kata lo si baby belum boleh ke luar lama-lama karena udara dingin nggak baik buat dia, " tanya Kavita yang sudha yak bisa lagi membendung rasa penasaran nya.


"Emh, itu, Vit. Kita cari suasana lain, bukannya lo bosen ya dirawat di rumah sakit terus kan? Jadi kita pindah gitu ke tempat yang lain biar lo lebih cepat dalam masa pemulihan lo, " akhirnya Valdi menemukan alasan yang tepat juga, meski masih khawatir jika Kavita tak akan percaya pada kebohongan yang diciptakannya.


Mau bagaimana lagi, ia juga tidak mungkin jujur kan kalau saat ini mereka sedang menjadi bahan uber-uberan Adtian dan para anak buahnya yang banyak itu. Valdi sungguh tak mau Kavita akan merasakan ketakutan dan sampai stress karena memikirkan hal tersebut.


"Owh gitu, Oke deh. Lets go, baby... kita ganti suasana baru, " bisik Kavita girang pada bayinya yang mulai terlelap dalam dekapan nya.