Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Lampu Hijau dari Vero


Masih saja terdengar sudara gelak tawa dari Kavero dan Nadiva yang masih dengan isengnya mengolok-olok dokter Valdi yang mereka pergoki sedang mencuri cium kening Kavita.


Dokter itu terlalu malu untuk mengakui hingga ia enggan untuk meladeni segala macam kalimat yang dilontarkan oleh adik dan sahabat dari Kavita tersebut.


"Kalian terlalu berisik, ini tuh di rumah sakit. Silahkan ke tempat lain jika masih ingin bercanda dan tertawa dengan suara keras dan seberiaik itu,"


Semakin terbahak lah dua anak manusia yang masih merasa geli itu, apalagi melihat Valdi yang berkilah, justru itu membuat mereka semakin merasa tergelitik untuk menggoda dokter muda tersebut.


"Hallah! Ngeles mulu lo, " ucap Vero.


"Iya, sok-sok'an ngalihin pembicaraan aja, " Diva turut menimpali.


"Ngaku deh lo sekarang, lo suka 'kan sama kakak gue? " Vero mendekati Valdi dan berkata dengan lirih.


Valdi menaikkan sebuah alisnya, "sok tau lo, " Valdi memilih berlalu, tapi Vero tak membiarkan lelaki itu lolos begitu saja.


"Ngaku aja deh, kalo lo emang cowok gentle.. "


"Hooh, " tumben-tumebenan Diva mau kompak dengan Vero, mungkin hanya dalam soal mengerjai Valdi saja.


Valdi menghentikan langkahnya, ia memgembuskan nafas kesal sebelum berbalik, "kalo iya emangnya kenapa? Kalian mau apa? " tanya Valdi seraya menatap dua orang yang bertampang menyebalkan itu.


"Woah... akhirnya dia ngaku juga, Kak. Gue menang dong! Mana! " seru Vero pada Diva seraya berjingkrak-jingkarak sseperti anak kecil, lalu tangannya menengadah pada wanita yang merupakan sahabat dari kakaknya tersebut.


"Hah... apes gue, " desah Diva, kemudian gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Vero.


Valdi yang tak tau apa-apa hanya bisa melongo melihat Vero dan Diva, "kalian jadiin gue bahan taruhan? " tebaknya.


"Hehehe... sorry, Bang Valdi. Sebenarnya sih, tadi gue cuma iseng-iseng aja nantangin Kak Diva. Eh, taunya beneran, yaudah kan... anggep aja sambil menyelam minum air, " jelas Vero sambil cengengesan.


"Sialan lo pada! " gerutu Valdi jengkel.


"Sabar, Bro.. sabar. Tapi emang lo serius sama ucapan lo tadi? " tanya Vero kurang yakin.


"Nggak! Lupain aja, " Valdi berbalik dan berjalan lagi, namun Vero kembali mengejarnya.


"Gue serius nanya, Bang Val.. "


"Nggak! Pergi sono lu ah.. berisik. Gue sibuk, " Valdi tak mau lagi terkena jebakan Vero yang sedang bermode jahil itu.


"Kalau lo serius, gue bakal dukung lo kok, " ucapan Vero sukses membuat Valdi menghentikan pergerakan tangannya yang tengah mengambil salah satu dokumen di meja resepsionis.


"Lo mau prank gue lagi? Mau jadiin gue bahan taruhan lagi? Taruhan lo apa lagi kali ini? Mobil, motor, rumah, hotel? " selidik Valdi.


"Hish.. lo berburuk sangka mulu ama gue. Kali ini gue beneran serius, suer deh, " Vero mengangkat tangan dan menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya seperti yang Valdi lakukan pada Vita tadi.


"Nggak ngaruh juga lo mau dukung gue atau nggak, toh Vita sama sekali nggak tertarik sama gue, " Valdi berjalan lagi seraya membawa berkas yang ia ambil tadi. Lalu menuju ke ruang bayi yang disana terdapat bayi Vita yang masih di dalam inkubator, bayi itu masih saja setia terlelap dalam tidurnya.


Sepasang mata yang terhalang kaca mata itu mulai berembun, dan Vero melihat hal itu. Vero dapat merasakan kasih sayang dari dokter dihadapamnya itu untuk keponakannya.


"Apa lo tulus sayang sama Kak Vita, Bang? Gue jadi takut kalau sampai Kak Vita terluka lagi. Udah cukup derita yang Kak Vita rasain selama ini, jangan lagi.. jangan sampai ia kembali terluka dnaenjadi hancur, " batin Vero. Lelaki itu menatap dokter Valdi tak berkedip.


Sedangkan Valdi masih sibuk dengan tindakannya dalam memeriksa bayi yang merupakan pasien kesayangannya. Valdi mengecek detak jantungnya, selang yang menempel dalam tubuh nya, dan yang terakhir Valdi juga memeriksa popok bayi tersebut.


Vero dengan setia menunggui Valdi yang dengan telaten mengganti popok bayi itu tanpa rasa jijik sama sekali. Pergerakan dokter laki-laki itu begitu halus dan sangat hati-hati, seakan takut jika akan melukai kulit sang bayi jika bergerak sedikit cepat.


"Ponakan gue udah pup, Dok? " tanya Vero.


"Seperti yang lo liat, " jawab Valdi, ia membereskan sisa tindakan nya tadi.


Meskipun sudah ada suster yang akan siap siaga menjaga dan membersihkan bayi itu, tapi Valdi tetap mengurus bayi spesial itu sendiri sejak kelahirannya. Karena ia ingin yang terbaik untuk anak Kavita, wanita yang disayanginya, ia pun juga menyayangi putranya dan menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri.


Bahkan Kavita yang merupakan ibunya yang sudah mengandungnya selama tujuh bulan saja belum pernah sama sekali menyentuh bayi itu karena memang kondisinya juga belum memungkinkan.


"Kok lo bersihin sendiri, nggak suster aja? "


"Maksud lo? " Valdi menatap Vero datar.


"Ya 'kan ponakan gue udah di jagain suster dua puluh empat jam, mereka juga yang bikin susu buat bayi itu 'kan? "


"Kenapa memang nya? nggak boleh? "


Vero tidak tau saja, bahwa yang setiap hari membuatkan susu untuk keponakannya itu adalah dokter Valdi juga, dan semuanya sudah terjadwal di dalam otak dokter tersebut. Sementara fungsi dua orang suster yang menjaganya itu adalah untuk memanggil dokter Valdi jika bagi itu bergerak ataupun menagis, intinya mereka hanya mengawasi bayi itu saja agar tak ada orang tak dikenal yang mengambilnya.


Ya, se-waspada itulah Valdi, meski hanya dirinya sendiri lah yang tau. Ia tak ingin membebani Kavita yang baru saja tersadar dari koma nya. Apalagi kondisi Pak Indrawan yang juga masih lemah karena baru sembuh dari sakitnya usai mengetahui kejadian yang telah menimpa putri kesayangannya itu dua bulan yang lalu.


Vero tersenyum tiba-tiba, entah kenapa setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perlakuan lembut dokter Valdi kepada keponakannya, ia menjadi lebih respect dengan dokter itu.


"Gue bakal lebih dukung lo buat deket sama Kak Vita, daripada kakak gue harus kembali sama suaminya yang kena gangguan jiwa itu, " ucap Vero kemudian.


"Oh ya? Kenapa? " tanya Valdi sok datar, padahal dalam hatinya ia merasakan angin segar karena mendapatkan lampu hijau dari adik Kavita, setidaknya salah satunornag terdekat Kavita sudha mendukungnya tanpa ia harus berusaha mengambil hati orang tersebut.


"Karena, gue ngerasa lo lebih baik aja daripada si brengsek itu, " jawab Vero seakan tak sudi lagi menyebutkan nama lelaki yang merupakan kakak iparnya sendiri, atau mantan?


Valdi tersenyum, "makasih, Ver. Tapi kayaknya gue harus bekerja keras kalau mau dapetin hati kakak lo itu, secara lo tau sendiri 'kan, betapa bucinnya dia sama ayah dari anaknya itu? "


"Jangan sebut laki-laki tak bertanggungjawab m itu sebagai ayahnya, Bang. Nggak rela gue. Mana ada ayah yang tega menyakiti ibu dan anaknya sendiri yang masih di dalam kandungan, bahkan meninggalkannya tanpa bekas kasihan, " ucap Vero sengit. Jika ia mengingat peristiwa yang menimpa kakaknya dua bulan yang lalu, rasanya ia ingin membunuh Adrian saat itu juga.


🔥🔥🔥


Wah.. wah.. ada lampu hijau nih dari Vero buat Bang Valdi. Tapi apa kabar Bang Aditya ya...