
"Maafin aku, Adrian... maafin aku. Aku pun melakukan ini semua demi kamu, demi kebahagiaanmu, kedua orang tuamu, dan juga keluarga kecilmu yang sempurna," batin seorang gadis yang saya ini masih bersembunyi di tempatnya semula.
Vara dalam hatinya disela isak tangisnya.
"Biarkan aku sendiri, biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri. Aku capek, Dri. Aku capek di desak terus sama orang gua kamu, aku juga yang terus dipersalahkan, " gumam Vara disela isak tangisnya.
Ya, gadis itu adalah Vara. Seorang wanita yang memang saat ini sedang Adrian cari. Orang yang ingin Adrian mintai keterangan serta kejujurannya, tentang segala sesuatu hal yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Tentang apa, kenapa, mengapa, serta bagaimana, begitu banyak yang ingin Adrian sampaikan pada wanita yang masih sah sebagai istri pertamanya itu.
"Sekarang biarkan aku bebas, biarkan aku menikmati sisa umurku dengan tenang dan bahagia. Meski hanya sebentar saja... " Vara hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri, sebab ia sama sekali tak punya keberanian untuk menampakkan dirinya di hadapan Adrian, lebih tepatnya ia tak sanggup untuk bertemu dengan lelaki yang begitu dicintainya tersebut.
Jika boleh jujur, sebenarnya Vara tak sampai hati melakukan hal-hal itu kepada Adrian. Tapi, mau bagaimana lagi, ia tak bisa juga terus bertahan di dalam desakan kedua mertuanya. Di sudutkan setiap waktu. Ia juga sebenarnya tak sanggup jika harus melihat kebahagiaan antara suaminya dan juga madunya. Madu yang memang dimintanya sendiri, karena permintaan mertuanya, orangtua Adrian.
Kalau ditanya, siapa coba yang rela berbagi suami? Apalagi suami yang begitu ia cintai dengan sepenuh hati. Meskipun Vara menyadari jika dirinya tidak sempurna karena tak bisa memberkan keturunan pada keluarga suaminya itu, tapi tetap saja 'kan ia juga punya perasaan. Perasaan seorang wanita, seorang istri, yang ingin dijadikan ratu satu-satunya di dalam istana rumah tangganya bersama suaminya. Bukan malah di carikan rival atau saingan untuk bisa membahagiakan keluarga suaminya itu.
Tapi ya... sudahlah, toh semua itu sudah terjadi, dan Vara pun sudah belajar untuk merelakan suaminya itu berbahagia bersama dengan istri keduanya. Jadi, dia juga merasa perlu untuk membahagiakan dirinya sendiri setidaknya sampai sisa umurnya itu habis. Tidak salah kan jika Vara juga ingin seperti itu?
"Astaga, " ucap Vara reflek karena saking kagetnya.
Adrian tersenyum sinis, merasa yakin jika orang yang sedang dicarinya memang berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya. Lelaki itu berjalan perlahan ke arah sumber suara yang ia dengar tadi, tak lupa wajahnya menyeringai sebagai tanda jika dirinya merasa menang, merasa benar.
"Mau sembunyi ke lubang laron pun, aku pasti akan bisa menemukanmu, Vara, " gumam Adrian dalam hatinya.
Sementara Vara yang merasa kelepasan bicara akibat kaget tadi, kini merasa takut dan was-was jika bisa menemukan keberadaannya. Wanita itu membekap mulutnya lagi agar tak lagi mengeluarkan suara yang nantinya akan mempermudah Adrian dalam menemukan tempat persembunyiannya itu.
"Apa kamu masih tetap nggak mau memperlihatkan wajahmu padaku, Vara, " batin Adrian. Langkahnya semakin mendekat pada Vara yang saat ini sedang menggingit bibir bawahnya sendiri karena saking tegangnya akan diketemukan oleh Adrian.
Tangan kanan Adrian terulur, menggeser pintu almari semi permanen yang ada lemari pakaian milik Vara. Rasa tegang pun jelas saja menyelimuti perasaan Vara.
"Jangan... jangan ketemu pliss... Plis, Tuhan... jangan Kau biakan dia menemukan keberadaan ku.