
"Bentar-bentar.. ini ada apa sih sebenernya diantara kalian? Kenapa harus saling meminta maaf? Papa fikir masalahnya cuma karena Adrian yang nggak bisa menunggui kakakmu selama di rumah sakit karena kesibukannya, tapi sepertinya ada masalh yang lain ya?" tanya papa Indra menyelidik.
"Emang nggak ada apa-apa kok, Pa. Semuanya baik-baik aja, hanya sedikit kesalahpahaman aja antara Mas Adrian sama Vero, " jawab Vita mencari alasan untuk memecah kecurigaan sang ayah.
"Ya 'kan, Mas? Vero? " lanjut Vita menoleh pada Adrian dan Vero bergantian.
Vero memutar bola mata malas, "iya, cuma salah faham, "
"Yang disengaja, " lanjutnya dalam hati.
"Iya semuanya cuma kesalahpahaman kok, Pa. Dan hanya butuh sedikit diluruskan aja, " dukung Adrian atas jawaban Vita.
"Kesalah pahaman aja? Apa pelukan itu juga cuma sebuah kesalahpahaman semata? " batin seseorang yang hatinya ikut merasakan lara Kavita.
Papa Indra tersenyum lega, "baiklah kalau begitu, kalian selesaikan secara baik-baik ya. Kalian 'kan bersaudara dan juga sudah dewasa, jadi harus bisa menyikapi suatu masalah dengan kepala dingin bukan emosi, " nasehatnya kepada anak-anak nya.
"Iya, Pa, " Kavita bersandar pada ayahnya yang kini berdiri di samping ranjangnya.
"Terus sekarang kamu maafin aku nggak, Vit? " tanya Adrian dengan wajah memelas.
"Emm.. maafin nggak ya, "
"Maafin dong! Pliss... " Adrian menekuk sebelah lututnya, dan menyodorkan bunga serta coklat yang dibawanya.
"Maafkan Adrian, Vit.. kamu nggak lihat usahanya sampai berlutut kayak gitu? " bujuk papa Indra.
"Cih! dasar aktor amatiran. Lo pikir gue nggak tau kalau lo cuma sandiwara doang? Jangan maafin, Kak Vit! " batin Vero yang tak mudah terprovokasi.
"Asal kamu tau ya, Vit. Di perusahaan, Adrian itu dikenal orang yang sangat berwibawa. Nggak pernah ada satu orang pun karyawannya yang pernah melihat dia seperti saat ini, " usaha Papa Indra yang mendukung Adrian, menantu kesayangannya.
"Vita tau, Pa. Mas Adrian kan emang kaku-kaku dingin kek es krim stik yang udah di frizer dia puluh tujuh tahun, hihihi, "
"Thankyou so much, papa mertua. Kau mempermudah langkahku, aku jadi tidak perlu bersusah payah merangkai kata-kata rayuan yang lebai itu, " Adrian bersorak dalam hatinya.
"Dan, kalau sampai ada yang tau, bisa jatuh martabatnya sebagai CEO dingin nan berwibawa," papa Indra terkekeh di akhir kalimatnya.
"Sayang selama usahaku menarik perhatiannya ia tetap tak pernah melihatku. Apalagi aku hanya sebagai karyawan biasa saja di perusahaannya, "
"Vita.. kalau kamu menerima permintaan maafku, terimalah buket bunga mawar dan juga coklat berbentuk hati ini.. " ucap Adrian mulai merayu.
"Tapi jika kamu tidak bersedia memaafkanku.. buanglah dan tampar lah aku, " wajah Adrian sudah seperti uang lembaran dua ribuan yang terinjak-injak sapi. Tak jelas bentuknya.
"Serius? apapun yang diucapkannya jangan terpedaya, Kak Vit. Cowok sinting kayak dia itu nggak pantes buat kakak maafin," Vero benar-benar jengah melihat sandiwara kakak iparnya itu.
Penuturan Adrian yang lembut dan penuh rayu, berhasil membuat hati Kavita luluh. Wanita itu tersenyum dan menerima kedua benda yang sejak tadi sudah Adrian sodorkan padanya.
"Yaudah, aku maafin kamu. Asal kamu mau janji sama aku, nggak bakal ngulangin kesalahan kamu lagi, "
"Iya, aku janji, " Adrian mengangguk, lalu merengkuh tubuh iatrinya itu kedalam pelukannya.
"Makasih ya, Sayang.. kamu udah mau maafin semua kesalahanku, "
"Huek! Gue nggak nyangka harus ngomong kayak gitu sama ni perempuan, " Adrian sebenarnya merasa jijik dan geli dengan ulahnya sendiri yang harus bersandiwara.
"Iya, Mas. Sama-sama, " hati Kavita menghangat dengan perlakuan manis suaminya. Yang tak ia sadari jika semua itu hanyalah kepalsuan semata.
°°°
"Nyonya dilarang keluar rumah oleh tuan Adrian, " cegah satu orang bodyguard di depan pintu rumah yang baru saja akan Vara lewati.
"Siapa kamu berani-beraninya ngatur hidup saya? Kamu mau dipecat sama Adrian?" marah Vara yang merasa diatur oleh bodyguard tersebut.
"Maaf, Nyonya.. kami hanya menjalankan tugas dari tuan Adrian saja, " bodyguard itu menganggukan ke pantai dan kembali pada posisinya semula.
"Bagaimana ini? Aku udah buat janji sama Valdo, bisa-bisa semuanya kacau kalau aku nggak dateng, " Vara mondar-mandir kebingungan.
Keningnya berkerut saat ponselnya berdering, "Valdo? " gumamnya.
"Ya, Val? " tanya Vita sesaat setah panggilan itu tersambung.
" Kamu jadi dateng kan, Vara? Aku udah persiapkan semuanya, " tanya seseorang di seberang sana yang ternyata adalah Valdo, seorang lelaki muda berwajah tampan nan menawan.
Vara kebingungan menjawabnya, "emm.. itu, anu, Val. Gue... "
"Kenapa, Var? Ada suatu yang urgent? perlu gue kesana? " tanya Valdo dengan nada khawatir.
"No, i'm ok. But..."
"Tapi apa, Vara? "
"Gue nggak dibolehin keluar sama Adrian, dia pasang bodyguard banyak banget dikurniakan rumah, " ucap Vara dengan suara sangat pelan.
Valdo mendengarkan degan seksama, lalu tawanya pecah kemudian.
"Pfft.. hahahahah, hahaha... "
"Jangan ketawa! "
"Masih aja ya suami lo itu terlalu memanjakan lo, tapi gue ikut seneng sih itu artinya Adrian benar-benar sayang sama lo, "
"Iya gue tau, tapi dia jadi makin protektif ama gue," keluh Vara kesal.
"Ya itu kan buat kebaikan lo juga, Var, "
"Terus gue harus gimana sekarang, Val?"
"Ya gimana? "
"Apa ... tindakannya bisa di tunda? "
Valdo terdengar menghela nafas berat, " semuanya udah dipersiapkan dengan matang, Vara. Lo yakin mau nunda lagi? Ini udah yang keberapa kalinya aja lo nunda-nunda terus, Vara, "
"Iya, gue tau, Valdo. Tapi gue juga musti gimana dong? " panik Vara.
"Apa perlu gue jemput kesana? Dan hajar para bodyguard lo itu biar lo bisa keluar? "
"Lo mau bikin perang dunia ke sepuluh? " seru Vara.
"Ck! ribet ah.. " Valdo terdengar jengkel.
Vara cemberut, memain-mainkan ponsel di tangannyay
"Lo lewat pintu lain kek, jalan lain kek, yang penting tetep harus keluar saat ini juga, "
Vara terpaksa mengiyakan dan juga mengalihkam perhatian pada bodyguard itu.
Wanita itu mengendap-endap dan berjalan lewat pintu samping, sebuah pintu yang tak pernah dibuka karena memang tak terlalu dibutuhkan. Sehingga pintu itu berkarat dan bercerita berbunyi.
Krieeet
Bunyi engsel yang berderit membuat semua bodyguard merasa terkejut dan segera berlari ke sumber suara.
"Ah, sial! pintu laknat lo! " Vara berlari secepat dan semampu yang ia bisa.
Sebuah mobil berwarna berwarna biru metalik sudah terparkir dan menunggunya, ia segera masuk kedalam mobil tersebut. Setelah mobil itu melaju, barulah ia bisa bernafas lega.