
"Hai, Kak Kavita ku tersayang ... " sapa Vero begitu dirinya sudah memasuki ruangan bayi dimana disana ada Kavita, dokter Valdi dan beberapa suster lainnya yang sedang mengurusi para bayi mungil yang menangis.
"Hai ponakan uncle yang paling cakep, " sapanya pula pada anak Kavita.
"Hai, Uncle... " balas Vita mewakili anaknya.
"Hai, boy... " sapa Diva juga pada bayi Kavita yang saat ini tengah membuka matanya, rupanya bayi itu terbangun setelah Valdi menggantikan pokoknya tadi, dan dia juga menjadi saksi saat dokter Valdi memeluk serta mengecup kening bundanya.
"Hai, Onty Diva ... btw kenapa Onty bawa-bawa bantal ya, Dek? Apa Onty Diva mau bobok dicini? " tanya Vita yang melihat Diva memeluk sebuah bantal sofa dengan menirukan suara anak kecil.
Diva melihat pada bantal yang ada di dalam pelukannya itu, ia kembali tertawa dan hampir terbahak jika saja Vero tak cepat menutupi mulutnya dengan bantal yang tadi mereka gunakan sebagai sumpal perut gadis itu saat sedang melakukan drama.
"Kalian masih aja aneh deh daritadi, " heran Vita seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adik dan sahabatnya itu.
Valdi pun sudah mendelik memberi kode pada mereka berdua agar jangan sampai terlihat mencurigakan di depan Kavita.
"Kak Diva sih, " bisik Vero dengan lengannya yang menyenggol pundak Diva.
"Kok gue? Lo juga lah, Ver, " balas Diva tak mau kalah.
Kavero mendelik, "kok jadi gue? Kan tadi Ka-"
"Sst ... sebenarnya kalian tuh kesini mau bangunin para bayi ini atau gimana, berisik mulu daritadi pada, " tegur Valdi pada kedua orang yang saling menyalahkan itu.
Kavita tak menghiraukan suara berisik yang ditimbulkan oleh Vero dan Diva, dirinya justru kini sudah duduk kembali diatas kursi roda nya dan bersiap untuk meng-ASI-hi bayinya.
"Di, " panggilnya pada Valdi seraya menepuk kedua paha nya yang sudah diberikan bantalan untuk memangku sang putra agar merasa nyaman saat menyusu nanti.
Valdi mengambil bayi Kavita dari dalam inkubator dan meletakkannya perlahan pada pangkuan Kavita yang sudah siap mengulurkan kedua tangannya untuk membopong si bayi.
"Silahkan meminum air surga, Tuan Kecil ..." bisik Valdi pada bayi yang kini menatapnya dengan senyum menawan.
"Air surga? " ulang Vero dan Diva saling pandang.
"Wah... rupanya kamu sudah pintar tersenyum ya sekarang, ayah jadi gemesh sama kamu. Emmuachh... " Valdi terpesona dengan senyum dari bayi mungil yang sudah berada di pangkuan Kavita, ia pun menciuminya dengan gemas.
"Apa gue nggak salah denger, Ver? Valdi tadi nyebut dirinya apa sama ponakan kita? " tanya Diva sengaja menggoda dokter muda itu.
"Ayah? " Vero menirukan suara Valdi saat berkata kepada ponakannya tadi.
"Ayah 'kan? Gue nggak salah denger 'kan, Ver? "
Vero pun meggeleng.
"Wah, gue ketinggalan beruta teebaru deh keknya, " sindir Diva pada dua orang yang kini memutar bola matanya jengah.
"Lo nggak usah kemana-mana deh pikirannya, Diva. Valdi itu emang udah nganggep bayi gue kek anaknya sendiri, soalnya kalian tau sendirilah sejak bayi gue lahir, emang Valdi yang ngurusin dia. Gue aja yang emaknya baru dua hari ini bisa gendong dia, " ujar Vita meluruskan suatu hal yang mungkin akan menjadi kesalahpahaman jika tidak segera di konfirmasi.
"Ehem ... jadi ayahnya beneran juga nggak papa kali, Kak. Tenang aja, Vero dukung 1000 persen pokoknya. Mama sama papa juga pasti setuju sama hubungan kalian berdua kok kalo mereka tau, "
"Makin ngelantur aja lo, Ver.. Ver..! " sergah Vita.
Vita mendengus, "nggak usah ngadi-adi deh! Kalian nggak liat apa? Betapa sempurna nya dokter Valdi. Udah dokter, cakep, tajir, mana masih single lagi. Jangan lo bandingin sama gue yang udah brojolin bayik kek gini, " Vita menunjuk bayinya dengan kepala yang menunduk
Jangan tanyakan perasaan Valdi yang sudah berbunga-bunga dan seakan melayang ke nirwana mendengar kalimat Vita yang memuji-muji kesempurnaan dirinya.
"Yeh ... lo brojolnya pan kagak lewat jalan ono, Vit. Tapi lewat perut, jadi jalannya masih rapet kali tuh. Masih kek gadis. Ya nggak, Dok? " ucapan Diva yang semakin kemana-mana membuat Vita semakin memelototinya.
Sedangkan Vero dia Valdi hanya terkekeh mendengar nya.
Sementara disebalik tembok sana, ada seseorang yang tengah bersembunyi saat melihat Kavero dan Nadiva berjalan menuju ruangan bayi tersebut tadi, ia merasa cemburu sekaligus penasaran dengan apa terjadi antara kedua orang itu.
"Ada hubungan apa diantara kalian sebenarnya? Kenapa tingkah kalian tidak hanya seperti antara dokter dan pasiennya saja? " gumam seseorang yang tadi sempat melihat adegan berpelukan daan kecupan antara dokter Valdi dan Kavita.
"Apa aku sudah terlambat, dan tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa lebih dekat denganmu, Vit? Kenapa aku harus selalu mengalah dan kalah? " lelaki itu menunduk kan kepalanya bersedih.
Orang itu tak lain adalah Aditya yang kabur dari ruangannya karena merasa tak nyaman berada dalam satu ruangan yang sama dengan kakaknya dalam waktu yang lama.
Dan kini dirinya tengah menjadi bahan pencarian oleh beberapa bodyguard dan juga kedua orang tuanya yang sudah tak sabar ingin berjumpa dengannya.
"Kemana lagi itu bocah? Kenapa dia suka sekali menghilang terus? " gerutu Adrian yang saat ini terpaksa harus ikut mencari dimana keberadaan adiknya lagi atas desakan mami Sinta.
"Awas aja kalo sampe ketemu lo, Dit! Bakalan gue pasangin tali di kaki lo sama ranjang di ruajgan lo biar nggak bisa kemana-mana lagi sekalian, " lanjutnya lagi.
Tak berapa lama kemudian keningnya mengernyit saat melihat sesosok lelaki yang ia yakini adalah sang adik, lelaki itu berdiri dan menatap jendela ke dalam sebuah ruangan. Ardian berjalan cepat dan berniat akan menepuk pundak Aditya dengan keras agar lelaki itu terjingkat kaget.
Tetapi saat baru saja tinggal beberpa alangkah lagi dirinya sudah sampai pada Aditya, rombongan Beno datang dari arah lain dan menghadang jalannya. Beno memberikan laporan terkait kecurigaannya yang melihat nyonya mudanya ada di rumah sakit tersebut.
"Yang benar kamu? Jangan sampai kalau memberikan saya berita palsu yang hanya akan membuat saya mati berharap! " seru Adrian setengah tak percaya denganleporan yang beruntung saja ia terima dari kepala bodyguard nya tersebut.
"Saya yakin jika wanita itu memang benar nyonya muda Kavita, Tuan. Dan nyonya Kavita sedang bersama seorang dokter yang dulu menjadi dokter kandungannya, " ucap Beno dengan yakinnya.
Aditya merasa mendengar suara sang kakak di belakangnya, ia menoleh dan benar saja sudh ada Adrian dan para pengawalnya disana terlihat sedang berbicara serius. Aditya yang panik karena jelas saja ia tak ingin kakaknya itu mengetahui keberadaan Kavita di rumah sakit tersebut.
Ia mengangkat kedua kruk yang menyangga tubuhnya dan berusaha berjalan secepat mungkin kearah Adrian.
"Bang Adrian nyariin gue? " tegur nya pada sang kakak yang masih menatap Beno serius. Aditya mencoba sebisa mungkin agar Adrian yak merasa curiga padanya bahwa dirinya saat ini sedang merasa gugup dan panik karena menyembunyikan keberadaan sang kakak ipar sekaligus juga enaita yang dicintai olehnya itu.
"Iyalah, masak nyariin Beno, " sewot Adrian.
"Yaudah, ayok! Gue cuma jalan-jalan aja kok. Sumpek di kamar terus selama disini, "
Adrian sudah berjalan dengan Aditya menuju ruangan Aditya lagi, karena disana sudah menunggu kedua orang tua mereka.
Beno yang telinganya sensitif seperti mendengar suara yang ia kenali tadi saat di ruangan dokter Valdi, ia berjalan pelan ke arah ruangan bayi. Tetapi suara Adrian sudah menginterupsi dirinya.
"Kamu mau kemana, Ben? "
"Saya mendengar suara... -"