
Berita mengenai tingkah laku anarkis yang dilakukan oleh Adrian yang di rekam dan menjadi viral di berbagai macam media sosial itu kini menuai imbasnya, bukan hanya rasa malu saja yang keluarga Wijaya dapatkan, melainkan juga bisnis kerja sama mereka dengan berbagai perusahaan juga ikut terkena akibatnya. Perusahaan-perusahaan itu memutuskan kerjasama mereka secara sepihak tanpa merundingkannya dengan tuan Wijaya terlebih dahulu sebagai pemimpin utama perusahaan Wijaya.
Jika tuan Wijaya saja tidak dihargai sebagai pemimpin utama perusahaan, bagaimana dengan Adrian yang seorang CEO saja di perusahaan itu. Mungkin mereka sudah tak menganggap si Adrian itu ada. Mereka semua turut merasa malu dan menyayangkan sikap Adrian yang lebih mirip seperti preman ketimbang seorang pemimpin seharusnya patut di
jadikan panutan, malah justru membuat malu perusahaan itu sendiri.
"Haaarrghhh...!!! "
Prang...
Tuan Wijaya yang marah membanting gelas yang ada di hadapannya dengan keras. Baru saja ia mendapatkan telepon dari sekertarisnya kalau beberapa perusahaan memutuskan kerjaama yang telah disepakati oleh kedua pihak begitu saja. Sebab jika perusahaan mereka tak memutuskan hubungan kerjasama tersebut, maka tak lama lagi perusahaan mereka juga akan ikut terkena imbasnya. Karena apa? Proyek mereka tersebut adalah proyek yang sangat besar hingga melibatkan beberapa perusahaan di dalamnya sekaligus.
Namun sayang, hanya karena satu kecerobohan saja bisa melenyapkan kerja keras yang selama ini mereka usahakan serta perjuangkan begitu keras.
"Ada apa, Pih? " Nyonya Shinta berlari mendekati tuan Wijaya begitu mendengar sesuatu benda pecah dari arah suaminya.
"Semuanya hancur, Mih... semuanya udah hancur sekarang, " ucap tuan Wijaya seraya menjambak rambutnya sendiri.
Nyonya Shinta mengerutkan keningnya mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut lelaki kesayangannya, "maksud Papi apa ngomong seperti itu? "
"M-maksud Papi, tindakan bodoh Adrian yang sepele seperti itu menajadi masalah untuk perusahaan kita? "
Tuan Wijaya mengangguk, "ya! Bahkan para klien kita yang dari layar negara yak segan-segan untuk memutuskan kerjasama antara perusahaan kita. Begitu cepat nerotu itu tersebar hanya dalam waktu beberapa jam saja, "
Begitulah dunia media sosial saat ini, yang begitu cepat dalam memberitakan sesuatu. Jangankan beberapa jam, beberapa detik-detik saja bisa menyebarkan suatu berita hingga ke seluruh dunia jika tak berhati-hati menggunakannya. Dan sebagai orang penting dalam suatu negri, baiknya menjaga nama baik dengan menjaga sikap dan kelakuan dimanapun berada agar tak mejadikannya masalah seperti itu.
"Lalu kita harus gimana, Pi, sekarang? Nggak mungkin kita kan diem aja kan perusahaan kita di ujung tanduk? Mami nggak mau usaha yang udah kita rintis selama ini menjadi bangkrut dan sia-sia begitu saja, " panik nyonya Shinta, ia mengkhawatirkan kehidupannya jika perusahaan itu bangkrut, maka keluarganya akan jatuh miskin. Dan dia tentu saja tidak ingin menjadi miskin setelah ini.
"Nggak, Mih, " tuan Wijaya nggelengkan kepalanya dengan pandangan mata uang lurus kedepan, "Papi nggak akan pernah membuat hal itu terjadi! Bagaimana pun caranya, perusahaan kita harus tetap berdiri kokok di tempatnya. Mereka semua akan kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan kita, "
"Caranya, Pih? "
"Sudah, kamu diam saja, Mih! Tugas kamu itu hanya menjaga dan mengawasi Adrian agara jangan ssapi berbuat ulah lagi yang bisa membuat kita semakin malu dan rugi nantinya, " tuan Wijaya pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan keluar dari ruangannya tersebut.
"Ya, Papi pasti bisa mengatasi hal ini. Aku yakin itu, "
"Mi...! " baru saja suaminya keluar, suara Aditya berteriak memanggilnya, menyentaknya dari lamunan.