
Setelah diharuskan berpuasa selama beberapa hari, kini Vara sudah siap dibawa ke ruang operasi. Wanita itu bakan segera menjalani sebuah operasi besar dalam hidupnya. Yang akan membuatnya benar-benar kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Air mata mengalir dari dua sudut mata wanita itu, ia memejamkan matanya erat, mencoba untuk bisa ikhlas dalam menerima takdir hidupnya. Mungkin memang itulah jalan takdirnya. Ia harus menjadi seorang wanita yang cantik, anggun, mempunyai bentuk tubuh ideal, juga otak yang cerdas. Sempurna bukan?
Tapi seperti kata pepatah, bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna di muka bumi ini kecuali yang memang sudah di kecualikan oleh Sang Maha Pencipta. Manusia yang sudah diciptakan sempurna pun masih ada saja kekurangannya, seperti Vara ini contohnya.
Keadaan fisiknya yang sudah sempurna, otaknya yang pandai, hatinya yang baik, banyak orang yang merasa iri padanya. Tapi dibalik pandangan kesempurnaan itu, terdapat kekurangan bahkan kecacatan mutlak bagi Vara.
Vara tidak bisa memiliki keturunan.
Bukan karena ia mandul, atau suaminya yang mandul. Sistem reproduksi mereka sempurna, dengan ****** dan sel telur yang juga sempurna pada awalnya. Tapi sesuatu yang mengejutkan mereka ketahui saat Vara memeriksakan tanda-tanda kehamilan dirinya dulu waktu awal-awal menikah dengan Adrian.
"Maaf, Tuan dan Nyonya Adrian. Sepertinya kehamilan ini tidak dapat dilanjutkan, karena-" belum lagi sang dokter menyelesaikan perkataannya, Adrian sudah tersulut emosi terlebih dahulu.
"Apa maksud Anda, Dokter? Anda mau membunuh calon anak saya? ha? " seru Adrian yang sudah berdiri dari duduknya.
Bahkan sebelah tangannya sudah berkacak pinggang dan yang satunya menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah dokter yang memiliki usia sepantaran dengan ayah kandungnya sendiri.
Dokter yang bernama Farhan itu menghela nafas, mencoba tetap bersabar dan profesional dalam pekerjaan nya.
"Sabar, Tuan. Biarkan saya menyelesaikan perkataan saya terlebih dahulu, " ucap sang dokter dengan halus.
Sedangkan Vara, ia merasa seperti dilemparkan dari atas tebing yang tinggi nanti curam. Bagaimana bisa ia menerima sang calon buah hatinya yang sudah ia dan suaminya impikan malah akan di singkirkan oleh seseorang?
Anda juga bisa membayangkan berapa hancurnya perasaannya 'kan?
Wanita itu hanya bisa menangis tergugu, tapi ia masih berusaha mendengarkan apa yang akan dokter sampaikan selanjutnya. Berbeda dengan suaminya yang langsung saja terbakar amarah.
"Duduklah, Dri. Biarkan dokter Farhan menyelesaikan penjelasan nya, " titah Vara.
Adrian mendengus, ia mendudukkan bokongnya dengan kasar.
"Selesaikan! kalau sampai Anda merugikan saya dan istri saya. Maka saya tidak akan segan-segan menuntut Anda! " ancam Adrian yang di angguki samar oleh dokter tersebut.
"Alasan pertama adalah, janin yang ada di dalam kandungan Nyonya Vara tidak berkembang. Itu disebabkan oleh ... " dokter Farhan menjeda kalimatnya sejenak, begitu berat juga bagi dirinya untuk menyampaikan kabar buruk pada pasiennya. Terlebih pasiennya tersebut masih lah termasuk keponanakannya, meskipun hanya sekedar keponakan jauh.
"Anda sangat bertele-tele, Dokter, " Adrian tak sabar ingin mendengar kelanjutan perkataan dokter Farhan.
Dokter Farhan terdengar mengehela nafas dalam berulang kali, tatapan matanya memandang iba pada Vara yang belum terlalu lama merasakan duka akibat ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Lalu bagaimana perasaannya jika tiba-tiba ia memberikan kabar buruk setelah kabar baik baru saja mereka rerima, perihal Vara yang tengah berbadan dua.
"Yang sabar ya, Vara.. kuatkan hatimu. Apapun yang akan Om sampaikan, anggaplah ini sebagai ujian hidupmu, " dokter Farhan tiba-tiba bicara sebagai paman Vara. Membuat wanita itu langsung menagis tersedu.
Berbagai macam dugaan sudah berkecamuk di dalam fikirannya. Apakah benar dugaannya? Atau hanya sekedar kekhawatiran nya saja?
"Nyonya Vara mengidap penyakit kangker rahim stadium dua, dan harus segera di tangani tentang janinnya yang tidak berkembang, supaya tidak menjadi racun yang akan membuat kangker nya menyebar lebih cepat, " sesuai ucapan Adrian, dokter Farhan pun mengatakan hal buruk itu dalam satu kali tarikan nafas.
"Ap-apa, Dok? Saya tidak salah dengar? Tau Dokter yang salah ucap?" tanya Adrian memastikan, ia merasa ragu dengan pendengarannya barusan.
Bagitu pula dengan Vara yang tangisnya langsung pecah, tubuhnya merosot ke lantai dan menafsirkan meraung disana.
"Om pasti bohong kan? iya kan, Om? " jerit wanita itu.
Dokter Farhan langsung berlari mendekati Vara begitu ponakannya tersebut merosot dari duduknya. Sedangkan Adrian juga menitikan air mata dan langsung terdiam tanpa kata.
Berbeda dengan Vara yang langsung histeris, Adrian justru merasa sangat syok dan seluruh tubuhnya serasa lemah tak bertenaga.
Lelaki itu menggeleng, menyangkal kenyataan yang ada, " nggak mungkin. Dokter pasti salah. Vara nggak mungkin menuruni penyakit mommy nya. Vara nggak akan meninggal. Vara pasti bisa sembuh, "
"Iya kan, Dok? Dokter pasti salah diagnosa. Janin Vara mungkin emang nggak berkembang, tapi bukan berarti Vara sakit kangker kandungan juga kan, Dok? " ucap Adrian setengah linglung.
Dokter Farhan yang tengah memeluk Vara yang histeris dan mencoba menenangkan keponakannya itu, ikut merasakan bagaimana hancurnya perasaan kedua pasangan suami istri baru tersebut.
Tiba-tiba Vara beranjak dari bersimpuh nya, ia melepaskan paksa tangan dokter Farhan yang berada di pundaknya. Lalu wanita itu berjalan dengan pandangan kosong, serta mulutnya yang terkatup rapat.
Dokter Farhan dan Adrian yang melihat perubahan aneh yang tiba-tiba pada Vara lun merasa heran sekaligus khawatir. Mau apa dan mau kemana wanita itu, fikir keduanya.
Mereka mengikuti Vara yang berjalan menyertakan kakinya, jelas terlihat jika tubuh wanita itu sangat lemah tak bertenaga.
Kening kedua pria itu mengernyit heran saat melihat Vara memasuki sebuah mini market yang berada di sekitar rumah sakit tersebut.
"Mau apa Vara kesana? " gumam Dokter Farhan bertanya, Adrian menggeleng.
Tak lama kemudian Vara keluar dengan satu kantong kresek di tangannya. Vara duduk di kursi yang terletak di depan minimarket tersebut dan mengambil sesuatu dari dalam kantung yang tadi dibawanya dari dalam.
Sekotak es krim berukuran besar Vara keluarkan dan ia buka lalu disantap nya dengan lahap. Makin heran saja dokter Farhan menyaksikan keanehan yang terjadi pada keponakannya itu.
Adrian berjalan mendekat ke arah Vara, dan menyala istrinya tersebut.
"Kamu lagi apa disini, Sayang? " tanya Adrian degan suara bergetar.
Vara tersenyum lebar meski sisa-sia air mata masih nampak jelas di seluruh wajahnya. Mata wanita itu juga masih tampak merah dan penampilannya juga sangat berantakan.
"Ini, anak kita ingin es krim. Jadi aku membelikannya untuknya. Nggak papa 'kan?" tanya Vara seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Soalnya kan kata orang tua, kalau ngidam itu ahris di turutin. Kalau enggak, ntar anak kita bisa ileran loh.. iya kan? "
"Ih, aku jelas nggak maulah anak kita ileran, " cerocos Vara yang membuat air mata Adrian kembali mengalir. Lelaki itu merengkuh tubuh Vara ke dalam pelukannya, dan memeluk istrinya erat.
Begitu juga dengan dokter Farhan yang sejak tadi diam memperhatikan mereka berdua. Lelaki paruh baya itu turut menitikan air mata. Sebegitu terguncangnya jiwa keponakannya itu, sampai-sampai ia langsung stress dan depresi seperti saat ini.
"Maafin Om, Vara. Om akan berusaha lebih keras lagi untuk menyembuhkan penyakit mu. Tentu saja atas seizin Tuhan. Tapi kita tetap harus optimis dan berusaha. Semoga nasibmu tidak seperti ibumu, " gumam dokter Farhan sembari menghapus air matanya.
"Calon anak kita akan baik-baik saja kan, Dri? Dia akan tumbuh dan berkembang, lalu akan menjadi anak yang manis dan baik ka, Dri? " Adrian mengangguk di pundak Vara.
"Aku juga nggak mungkin kena penyakit terkutuk itu kan, Dri? iya kan? " tanya Vara yang tak bisa Adrian jawab.
"Jawab, Dri! Jawab! kenapa kamu diem aja? apa kamu membenarkan perkataan dokter Farhan tadi? iya? jawab aku...!! " ucap Vara yang kembali berteriak histeris.