Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Tempat Baru


Tak menunda waktu yang nantinya malah akan membuat mereka lengah dan akan kembali di datangi oleh Adrian atau orang suruhannya. Usai berembug dan menentukan tempat yang akan dituju. Para laki-laki tadi langsung mengurusi segala sesuatunya yang diperlukan untuk keberangkatan mereka ke tempat tersebut.


Sedangkan Kavita, mama Indri dan juga Nadiva hanya bisa menurut saja. Meskipun tempat itu jauh dari keberadaan mereka saat ini, tetap saja Nadiva dan yang lainnya ingin ikut serta mengantarkan Kavita dan juga baby Kava ke tempat tinggal baru mereka.


Perjalanan yang menggunakan pesawat pribadi yang memakan waktu sekitar satu jam lebih itu mengantarkan rombongan papa Indrawan ke sebuah tempat yang tak kalah asri nya dengan rumah Valdi tadi.


"Udara disini segar juga, Valdi. Pandai kamu mencari tempat tinggal untuk anak dan cucuku, " puji papa Indrawan begitu mereka turun dari pesawat di sebuah lapangan landas yang luas.


"Ya, Valdi memang sengaja mencari tempat yang udaranya masih alami untuk mereka, Om. Karena mereka membutuhkannya untuk merilekskan otot-otot dan juga fikiran Kavita agar mempercepat masa pemulihan mereka juga, "


Papa Indrawan mengangguk-angguk mengerti.


Nadiva kembali mendorong kursi roda yang berisikan Kavita beserta baby Kava di atasnya. Sebenarnya Kavita ingin berjalan sendiri, tetapi lagi-lagi Valdi masih melarangnya untuk melakukan hal tersebut. Alasannya tentu saja soal jahitan bekas lahirannya lah, dan juga Kavita yang belum lagi terbiasa dengan kakinya setelah sadar dari koma. Kalau sudah diceramahi sedemikian rupa, pada akhirnya Kavita hanya bisa menurut dan pasrah saja.


"Wah, enjoy banget disini, Vit. Mana deket pantai lagi. Bisa sering-sering deh tuh mantai dan bersantai, "


"Hooh, ntar kita kesana. Eh, besok palingan bolehnya. Tau sendiri si Valdi, mana mau dia ngijinin gue sama anak gue ke pantai malam-malam, "


"Ya... itu kan juga buat kebaikan kian sendiri, Vit, "


"Iya-Iya, gue tau. Tapi dia itu verewtnya melebihi mama Indri tauk! "


"Hihihi, soalnya kan Valdi yang lebih paham sama kondisi lo dan juga baby Kava. Jelas aja dia lebih overprotective sama kalian, Vit, "


Nadiva menghentikan dorongan kursi roda Kavita dan berputar kw depan sahabatnya itu, "Tapi kalo gue perhatiin nih ya, Vit. Kayaknya si Valdi itu merhatiin lo bukan hanya sekedar sebagai seorang dokter deh ke elo. Kayak ada yang beda gitu, sesuatu yang spesial sih kalo dari pandangan gue, " ucapnya pada Kavita.


Kavita tertawa pelan, "ngaco lo! Udah ah, jangan kemana-mana obrolannya, "


"Ih, gue serius tau, Vit. Nggak mungkin gue salah liat. Tatapan matanya ke elo itu loh... bener-bener mendamba. Mengharapkan suatu yang lebih dari lo, " perkataan Nadiva yang menerima keadaan itu membuat Kavita merasa aneh.


Nadiva sengaja memancing sahabatnya itu, ingin tau bagaimana perasaan Kavita terhadap Valdi. Apakah sama seperti Valdi atau tidak. Karena Nadiva kan sudah tau bagaimana perasaannya Valdi terhadap sahabatnya itu yang sebenarnya. Disamping ketulusan seorang dokter terhadap pasiennya, Valdi juga memiliki perasaan yang tulus terhadap Kavita sebagai seorang wanita.


"Nadiva... Ayo cepat, baeq Kavita dan baby Kava masuk! Sudah mau gelap ini, " panggil mama Indri menginterupsi.


Kavita jadi merasa terselamatkan oleh panggilan ibunya itu, ia jadi tak harus menanggapi ocehan dari sahabatnya yang menurutnya sangatlah ngelantur.


"Iya, Tan, " seru Nadiva membalas panggilan dari mama Indri.


"Lo nggak usah seneng gitu karena lepas dari pertanyaan gue, Vit. Liat tuh... " tunjuk Nadiva dengan dagunya ke arah depan sana. Sudah ada Valdi yang siap menggantikannya mendorong kursi roda Kavita.


Deg


Terlihat di depan mata seorang laki-laki berwajah tampan, dengan tinggi yang menjulang dan tubuh tegapnya. Senyumnya yang menawan, entah kenapa ada yang terasa menggelitik di dalam hati Kavita.