
"Kavita ... " Sebuah suara berat laki-laki menghentikan langkah Kavita untuk menaiki tangga lebih lanjut, "Bisa kita ngobrol sebentar?"
Kavita berbalik, keningnya mengerut begitu ia melihat siapa gerangan yang memambgil namanya. Ia pun berfikir sejenak. Apa mungkin ia memang perlu meladeni tamu nya kali ini atau tidak. Karena sebenarnya ia merasa sangat malas bertemu dengan orang tersebut.
"Apalagi sih, Dit, yang mau di obrolin? Kayaknya kita nggak pernah punya suatu hal yang bisa di jadiin bahan obrolan deh," ucap Kavita.
Ya, lelaki itu adalah aditya, merasa tak di terima di rumah Kavita oleh kedua orang tua wanita itu. Namun, ia tak menyerah dan terus berusaha untuk mendekati Kavita, buktinya saat ini ia mendatangi Kavita di butiknya.
Ditatap sedikian rupa oleh Kavita, Aditya menunduk, "Ya... kita emang nggak sedeket itu sih, Vit. Cuma, aku butuh ngomong sesuatu sama kamu," ia mengangkat kepala di akhir kalimatnya.
Kavita menghirup nafas dalam, terlihat sekali ia begitu malas meladeni bekas adik iparnya tersebut.
"Plis, Vit. Kasih gue waktu bentar aja buat ngobrol sama lo. Walau bagaimana pun, meski kita belum pernah akrab. Tapi, seenggaknya kita nggak pernah bersumuhan, 'kan? Kita juga nggak pernah aada masalah," ucap Aditya.
"Tapi... hanya karena masalah kamu sama Bang Adrian aja sampe gue ikut lo musuhin, padahal gue nggak sangkut pautnya sama sekali sama masalah kalian," lanjutnya.
Melihat wajah memelas Aditya, Kavita jadi kembali berfikir. Benar juga sih apa yang dibilang laki-laki itu, kalau dirinya dan Aditya memanglah tidak pernah mempunyai masalah. Malahan Nadiva bilang kalau Aditya juga beberapa kali turut membantu dirinya dari kejaran Adrian. Selain itu, dirinya dan Aditya dulu juga pernah nyambung saat ngobrol.
"Okey, kita ke taman depan aja ngobrolnya, biar leluasa, " Kavita pun urung naik ke dalam ruangannya, dan kembali berjalan keluar. Tapi, sebelum keluar, Kavita pamit dulu pada Nadiva supaya sahabatnya itu tak mencarinya nanti.
"Div, gue keluar bentar ke depan ya, " pamitnya pada Nadiva.
Nadiva melongok melihat sosok yang ada di belakang Kavita, keningnya berkerut, "sama Aditya? "
Kavita mengangguk pelan, terlihat ragu. Juga merasa takut kalau Nadiva berfikir macam-macam.
"Tenang aja, gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Gue juga ggak mau ngapa-ngapain kok. Tuh orng aja yang katanya mau ngomong apa sama gue," jelas Kavita, padahal Nadiva tak mengucao apa-apa.
Nadiva manggut-manggut, ingin berkomentar takut pula Kavita akan salah paham nantinya.
"Its oke, lo juga bebas kok mau sama siapa aja. Gue percaya kalo lo tau yang mana yang baik buat lo kok, Vit," Nadiva tersenyum seraya menggenggam tangan Kavita.
Kavita tersenyum masam, dalam hatinya tak ingin ia terburu-buru soal asmara. Cukup sekali ia salah melangkah, harapannya jika pun nanti ia akan kembali menjalin hubungan dengan seorang pria, itu adalah untuk yang terakhir kalinya.
"Thanks, Div," lirih Kavita sambil mlambaikan tangan.
Kavita berjalan terlebih dahulu, dan diikuti Aditya di belakangnya. Ia hanya berjalan pelan menuju taman yang jaraknya memang tak jauh dari butiknya. Aditya menyeret langkahnya dengan satu kruk yang masih membantunya untuk ia berjalan.
Bangku panjang taman yang ada di pojok menjadi tempat pilihan Kavita mendudukkan dirinya. Bukan bermaksud untuk mojok hanya saja ia ingin mencari tempat yang tidak terlalu berisik dari aktivitas orang-orang yang nantinya bisa saja membuat fokusnya terpecah saat Aditya mengajaknya bicara.
Begitu sampai di bangku yang di duduki Kavita, Aditya turut menghempaskan pantatnya di samping wanita itu. Terlihat ia mengatur nafasnya yang lumayan tersengal sebab harus kembali memaksakan langkah kakinya yang masih terasa ngilu.
Aditya menoleh saat mendengar suara tawa kecil dari sosok yang ada di sampingnya. Kavita tertawa, ya, dia menertawakan Aditya yang terlihat begitu kesayangan dan memelas.
"Lo makin cantik kalo tertawa kayak gitu, Vit. Jangan sedih lagi, "
Kavita menghentikan tawanya, ia berdehem dan kembali duduk tegap dengan pasangan lurus ke depan. Tadi ia reflek tertawa begitu saja dengan menghadap pada Aditya yang ngos-ngosan sambil memiliki kakinya sendiri.
"Ehm, kaki lo kenapa? Bisa spe separah itu, "
"Itu nggak penting, "
"Itu bukan jawaban, Dit. Katanya ngajak ngobrol, di tanyain aja nggak mau jawab, " gerutu Kavita.
Tuh kan, Kavita mulai bersikap biasa sama Aditya. Itulah kenapa ia tak mau bertemu dengan Aditya. Sebab ia memang merasa nyaman dan biasa aja saat bersama dengan laki-laki itu. Sejak dulu ia yak pernah merasa canggung dengan Aditya, karena ia menganggap Aditya seperti hal nya Vero, Adiknya.
"Gitu aja ngambek, " goda Aditya.
"Yaudah sih, lo mau ngomong apa sama gue? keburu panas ntar,"
"Boleh minum dulu nggak sih, gue haus," Aditya melambaikan tangan pada penjual minuman kelapa muda yang tak jauh dari posisinya duduk.
"Lo masih mau jajan dulu gitu? Sebenarnya lo mau ngobrol atau mau ngajak gue piknik? "
"Kalau bisa keduanya gue malah seneng kali, Vit, "
Vita memutar kedua bola matanya, jengah.
"Lo seneng, gue sebel, Dit. Gue udah kangen pengen kerja nih, malah harus ngeladenin lo disini. Eh, kebanyakan basa basi pula, "
Dua buah kelapa muda dengan gula aren tersaji, tak lupa es yang akan menambah kesegaran.
"Silahkan diminum, Vit, "
Kavita menelan ludah melihat Aditya yang langsung menyedot air kelapa yang bercampur dengan gula aren murni serta es tersebut. Aditya kembali mempersilahkan Kavita untuk meminum es kelapa muda itu dengan kode kepalanya.
Kavita menyesap pelan air kelapa itu menggunakan sedotan, rasa manis alami dari gula aren murni langsungebyapa indera pengecapnya. Rasa segar pun menjalar, ia merasa lebih fresh.
"Nah, enak dan seger kan. Gitu kok tadi mau nolak, "
Mendengar ucapan Aditya, Kavita kembali meletakkan kelapa muda itu. Bibirnya mencebik, jengkel.
"Yah, yah, ngambeg lagi dia. Gue kira setelah lo jadi bunda, ngambegkannya berkurang, ternyata masih sama aja ya," penuturan Aditya kali ini membuat Kavita melotot.
Telunjuk Kavita terangkat tepat di depan wajah Aditya, "lo! Kalau masih mau ngeselin terus kayak gini, mendingan gue balik aja, " ancamnya.
Aditya menangkap telunjuk beserta tangan Kavita, "maaf deh," di genggamnya tangan wanita di hadapannya itu.
"Gue, " Aditya menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi laru-parunya yang terasa sesak karena terlalu gugup.
"Lo apa? " risih, apalagi jika dilihat orang lain, Kavita ingin menarik tangannya dari genggaman Aditya.
"Gue suka sama lo, Vit, "
Buuur...
"Apa?! " pekik seseorang.