
Kavero mengepalkan tangan melihat kakanya yang masih saja terpedaya oleh sandiwara yang dilakukan Adrian. Tapi ia juga tak bisa memaksa sangat kakak untuk membenci suaminya sendiri. Karena walau bagaimanapun ia masih terfikir kan oleh calon keponakannya yang pastinya akan membutuhkan sosok ayah ketika sudah lahir nanti.
Jangankan calon keponakannya, kakaknya sendiri saja juga sangat membutuhkan Adrian saat ini. Ia tau betapa besar rasa cinta Kavita terhadap Adrian. Sampai-sampai kakaknya tersbut rela menyamar menjadi karyawan biasa di perusahaan yang Adrian pimpin.
"Cinta memang membutakan segalanya, menulikan, serta tak memandang logika. Vero harap, Kakak tidak akan tersakiti lebih dalam oleh lelaki itu, karena kalau tidak, Vero yang akan memberinya pelajaran sampai dia sadar betapa besar cinta dan pengorbanan yang udah kakak persembahkan buat dia, "
Berbeda dengan Kabero yang sudah mengetahui sikap buruk Adrian, Papa Indra justru tersenyum melihat kemesraan serta keromantisan anak dan menantunya itu. Hatinya merasa lega, karena sang putri tercinta mendapatkan laki-laki yang pas dan sangat mencintainya, juga mampu memperlakukannya dengan baik.
Tanla ia sadari, air matanya menggenang di sudut mata karena saking terharunya.
"Papa berharap, kalian bahagia selalu, Nak. Pernikahan kalian selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, keceriaan dan keharmonisan sampai ajal menjemput kalian nanti, "
Papa Indra mengusap air matanya dengan lengan kemeja, yang langsung mendapatkan lirikan dari Mama Indri.
Mama Kavita bernama Mama Indri, dulunya banyak orang yang menyangka jika ia merupakan adik dari Papa Indra karena kemiripan wajah serta nama mereka. Jadi banyak yang berasumsi jika mereka adalah saudara.
Padahal tidak sama sekali, bahkan usia keduanya terpaut lumayan jauh, yakni sepuluh tahun. Tapi semua itu tidaklah menjadi masalh ketika cinta sudha berbicara menggunakan caranya.
"Semoga sampai kapanpun kalian akan selalu seperti ini ya, walaupun Papa sudah tidak ada lagi. Papa harap kalian akan selalu bersama dalam kebahagiaan rumah tangga, bersama dengan anak-anak kalian juga nantinya, " ucapan Papa Indra membuat Kavita mengerutkan kening.
"Papa kok ngomong kayak gitu sih? Pokoknya Papa harus panjang umur, dan sehat selalu biar bisa terus nemenin Kavita, Vero, Mama, juga cucu-cucu Papa nanti, " Kavita beralih memeluk papanya manja.
Mama Indri mendengus, ini bukan pertama kalinya ia mendengar sang suami berucap seperti itu, seakan-akan ia bisa melihat malaikat maut saja. Begitulah ucapan Mama Indri setiap kali Papa Indra mengatakan tentang umur dan kematian.
"Iya, Pa. Kan kita mau bikin grup ya, jadi harus punya banyak anak, " dukung Adrian berseloroh.
"Enak aja banyak anak, kamu fikir Vita itu pabrik bayi apa? Satu aja belum jadi lahir, udah mau banyak-banyak aja, " sahut Mama Indri sewot.
Perasaan wanita itu tak tenang setelah melihat suatu hal yang berhasil membuatnya syok, ia ingin marah tapi atas dasar apa, karena ia juga tak memiliki bukti untuk menyimpulkan apa yang dilihatnya.
Bukankah katanya tidak semua yang kita lihat itu sesuai dengan apa yang sebenarnya, makanya ia memilih diam dan akan memastikannya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.
"Mama tuh kenapa sih, kok sensi gitu ngomongnya? Lagi dapet ya, " tanya Papa Indra.
"Iya kali, " jawab Mama Indri masih dengan nada judesnya.
Vero mengerjab, merasa heran kenapa tiba-tiba mamanya bersikap seperti itu. Padahal biasanya sang bunda akan bersikap manis dan baik pada kaka iparnya itu sama seperti sikap Papa Indra saat ini pada Adrian.
"Kenapa sikap mamanya Vita tiba-tiba kayak gitu? padahal biasanya bersikap hangat sama gue, apa jangan-jangan... ah, enggak mungkin! kalau dia tau pasti dia nggak akan isa setenang itu sekarang, " batin Adrian.
"Selamat pagi semua... wah, lagi ngumpul rupanya, " sapa seorang dokter muda yang menangani Kavita sejak masuk ke rumah sakit tersebut.
"Pagi, Dokter, " jawab semua orang, tapi Kavita yang terlihat paling semangat diantara semuanya.
Pagi juga, Dokter Valdi, " itu sangat terlihat dari binar di wajahnya dan senyum cerianya.
"Dokter Valdi? Kenapa wajahnya nggak asing? apa cuma mirip aja, " pandangan mata Adrian menyipit meneliti lelaki yang disebut dokter Valdi oleh Kavita.
Entah kenapa laki-laki itu merasa tak rela istrinya dipuji oleh pria lain, meskipun orang tersebut hanyalah dokter yang menangani Kavita, dan hanya beraksi di bercanda saja.
"Iya, dong. Kan dokter muda dan ganteng baru aja masuk, pastilah membawa atmosfer yang menyejukkan sampe bikin bunga-bunga dihati Kak Vita bermekaran, " sahut Vero yang kini raut wajahnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ceria seperti Kavita.
Selama satu minggu di rawat di rumah sakit itu, dan selama itu pulalah dokter Valdi sering bertemu dan merawat Kavita hingga mereka menjadi akrab. Perangai dokter Valdi yang humble dan murah senyum hingga menularkan energi positif bagi siapa saja yang bertemu dengannya, termasuk Kavero dan Kavita yang dengan mudah bisa akrab dengan dokter muda tersebut.
Adrian mendengus kesal mendengar perkataan adik iparnya yang bersikap baik dengan dokter Valdi sementara bersikap dingin padanya.
"Mari kita periksa ya, Queen Kavita calon mamah muda, " panggilan dokter Valdi terhadap Kavita lagi-lagi membuat Adrian merasa ada yang aneh menyentil di sudut hatinya.
"Nggak mungkin aku cemburu sama dokter tengil ini, " gumamnya meyakinkan diri.
"Baiklah, King dokter Valdi. Tapi sebelumnya, aku mau ngenalin kamu sama calon Papa muda dulu, boleh? " tanya Kavita yang sudah menggandeng lengan Adrian. Membuat laki-laki yang masih sibuk dengan fikirannya sendiri itu mengerjab dan langsung membanggakan diri.
"Adrian, suami Kavita. Calon papa dari anak-anak kami, " ucap Adrian mengulurkan tangan.
Dokter Valdi tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut, "Valdi, "
"Jadi ini yang sering diceritain itu ya.. cie, cie... " dokter Valdi kembali menggoda Kavita, membuat wanita itu bersemu malu.
"Aku sering di ceritain? tentang apa? "
"Kondisi Queen udah lebih baik ya sekarang, tekanan darah normal, detak jantung normal, dan bentar, Sus... " dokter Valdi memanggil suster yang sedari tadi datang bersamanya.
"Ya, Dok?"
"Cek baby sekalian,"
"Baik, Dok, " suster itu menyiapkan alat yang biasa digunakan untuk memeriksa kandungan.
Adrian membelalak kan mata saat suster tersebut menyingkap baju Kavita di bagian perut.
"Istri saya mau diapain ya, Sus? " tanyanya.
"Mau di periksa kandungannya, Pak. Untuk memastikan kondisinya, supaya dokter bisa menyimpulkan bahwa Ibu Kavita ini sudah bisa pulang atau belum, " jelas suster itu dengan lembut dan ramah.
"Yang meriksa dia? " tanya Adrian lagi sambil menunjuk dokter Valdi.
"Kenapa? "
^^^
Mohon komentar positifnya ya, agar Author lebih semangat buat nulis, salam sayang buat teman-teman semua🥰