
Pertanyaan Adrian disambut tawa oleh Papa Indra dan senyum geli dari dokter Valdi dan yang lainnya.
"Sejak kapan kamu jadi overprotective sama istri kamu, Dri? " tanya Papa Indra yang heran dengan pertanyaan menantunya tadi.
"Maksud Papa, aku? overprotective?" Adrian menunjuk dirinya. Papa Indra mengangguk.
"Nggak mungkin! "
Dokter Valdi menggeleng pelan dan tertawa, "Anda mau memeriksanya sendiri? Silahkan! "
"Eng-enggak, "
"Kamu bahkan belum pernah menyentuh perutku, Mas.. apalagi mengajak berbicara anak kita, " Kavita mengelus perut ratanya yang sudah terbuka, pandangannya mengabur tertutup oleh air mata yang mulai menggenang.
Suster mengoleskan gel disana dan dokter Valdi segera menempelkan alat untuk melakukan USG.
Sebuah gambar muncul di layar monitor, semua orang memperhatikan layar tersebut dengan seksama. Tapi tetap saja tidak ada yang tau gambar apa itu kecuali dokter Valdi saja yang merupakan dokter kandungan.
"Kandungannya sehat ya, kuat. Janinnya juga baik, ini dia ... " dokter Valdi menggeser stik dimana dilayar tampak sebuah titik sebesar kacang merah, ya bentuknya kurang lebih seperti itu.
Titik kecil itu menjadi pusat banyak pasang mata, mereka menatap penuh haru titik tersebut. Seakan-akan bertanya, apa aku juga seperti itu dulu? dan sekarang bisa sebesar ini?
Kesemua orang itu bersyukur dan hati, Tuhan begitu baik karena telah menciptakan dan menjaga mereka dari semenjak ukuran mereka hanya sebesar biji kacang sampai sekarang bisa seukuran manusia dewasa yang normal.
"Anakku? Apa itu calon anakku? Anak kandungku? Darah dagingku?" Adrian pun tak luput dari rasa hari, bahkan air matanya sudah siap menetes melihat keajaiban yang tersaji di depannya.
Ada yang menyentil di ruang hati lelaki itu, sepertinya makhluk yang bahkan belum terbentuk itu sudah memiliki ruang tersendiri di hati Adrian. Seorang Adrian yang hampir tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil selama hidupnya, merasa sangat tak sabar ingin bertemu dengan sosok yang berasal dari darah dagingnya sendiri.
"Kandungannya umur satu bulan jika dihitung mulai dari hari pertama menstruasi terakhir ya, Queen. Pak Adrian? " dokter Valdi menjelaskan secara rinci, ia melihat satu persatu orang yang tengah memperhatikannya.
"Ya, Dok? Iya, " Adrian buru-buru mengusap air matanya yang semula menggenang.
"Mas Adrian nangis? serius? "
"Secara keseluruhan semuanya sudah baik-baik saja. Bisa tolong dibersihkan lagi, Sus, "
"Baik, Dok, "
"Hanya saja, Bu Kavita tetap harus berhati-hati dalam segala aktifitasnya. Jangan terlalu capek dulu, apalagi stress. Hal itu benar-benar sangat dilarang, " ucap Dokter Valdi.
"Karena usia kandungan pada semester pertama seperti Bu Kavita ini masih sangat rentan, jadi harus dijaga ekstra ya, Pak Adrian? " dokter Valdi kembali menoleh pada Adrian.
"Iya, Dok. Kenapa Dokter ngelihatin dan ngomong saya terus? padahal disini kan ada banyak orang," tanya Adrian yang merasa di pojokkan oleh dokter Valdi.
"Karena Anda adalah suaminya Bu Kavita, dan peranan suami itu sangat penting untuk istrinya. Apalagi yang sedang hamil seperti Bu Kavita ini yang masih sangat butuh perhatian dari Anda, " jawab dokter Valdi menohok.
"Kenapa ni dokter ikut campur urusan aku sih? tau apa dia soal hidup aku sama Kavita. Suka-suka aku lah, Kavita istri aku, " batin Adrian jengkel.
"Ada yang mau di tanyakan? " tanya dokter Valdi sembari mengalungkan stetoskop di lehernya.
"Enggak, Dok. Makasih banyak, Dokter, " papa Indra tersenyum ramah.
"Makasih banyak ya, Dokter Valdi. Selama Kak Vita dirawat disini, Dokter udah selalu ada dan selalu ikut ngejagain kakakku yang paling cantik dan rewel ini, " Vero sengaja mengatakan hal seperti itu untuk memancing Adrian.
Benar saja, kini Adrian mengepalkan kedua tangannya.
"Vero apaan sih? " bisik Kavita yang merasa takut jika Adrian menjadi salah faham.
"Sama-sama, Vero. Itu sudah menjadi tugas sayang sebagai seorang dokter disini, "
"Aku nggak ada apa-apa kok, Mas. Sama dokter Valdi, cuma sebatas dokter sama pasien aja, ya 'kan, Dok? " Dokter Valdi manggut-manggut menanggapi Kavita yang terlalu bucin pada suaminya itu.
Dalam hatinya ada rasa iri pada Adrian yang begitu sangat disanjung dan dipuja oleh wanita sebaik dan secantik Kavita.
Dokter Valdi memasukkan kedua tangannya ke dan saku lalu berpamitan pada semua orang.
"Saya permisi, mau memeriksa pasien lain, "
"Eeh, Dok, " panggil Adrian.
" Ya? " dokter Valdi berbalik.
"Kapan Kavita boleh pulang?"
"Emm, besok pagi baru boleh pulang, "
"Baiklah, makasih Dokter, "
"Sama-sama, permisi.. "
"Kavita nggak boleh pulang ke rumah Adrian, aku harus mencari cara agar Kavita bisa pulang ke rumah kami sampai semuanya jelas, " Batin Mama Indri.
°°°
"Gimana, Do? " tanya Vara pada Valdo.
Valdo menggeleng, "nggak ada kabar apa-apa, kayaknya dia beneran nggak mau bantuin kita deh, Var, "
Vara menghela nafas, "yaudah sih, kita berdua aja juga bisa 'kan? Biarkan dia tetap pada pendiriannya, "
"Kalau emang menurut lo nggak papa, ya gue nggak bakal maksa juga, " ucap Valdo.
Kedua orang itu berkendara menuju sebuah tempat dimana Vara akan mendapatkan sebuah tindakan untung menunjang keadaan fisiknya. Maka dari itu, mereka butuh informan untuk memantau Adrian agar tak tau jika ia tengah tak berada dirumah mereka.
Mengenai keberadaan bodyguard Adrian yang mengepung Vara tadi, mereka sudah berhasil mengecoh nya. Untuk masalah nanti mereka bisa mengurusnya belakangan.
"Tapi kok perasaan gue nggak enak ya, Do? "
"Nggak enak gimana? lo lupa bumbu ini kali, " gurau Valdo yang mencoba berusaha mengurangi rasa ketegangan Vara.
Vara tersenyum masam menanggapi candaan Valdo, "apa gue emang mesti nglakuin ini, Do? Udah nggak ada jalan lain kah? "
"Semua ini demi kebaikan kamu sendiri, Vara. Lo mau 'kan berkumpul dengan calon anak lo?" Vara mengangguk.
"Dan untuk lo bisa nglakuin semua itu adalah, lo harus tetap hidup. Jadi lo harus tetap hidup dan sehat, "
"Tapi gue takut banget, Do, " ucap Vara dengan air mata mengalir.
Valdo menggenggam tangan Vara, menyalurkan energi positif pada wanita itu.
“Gue tau ketakutan lo, Vara. Tapi lo tetap harus semangat, cobalah ingat-ingat hal yang manis dan membahagiakan bagi lo. Pasti bisa sedikit mengurangi rasa ketakutan lo, percaya sama gue,"
Vara memejamkan mata, terbayang olehnya saat-saat kebersamaan nya dengan Adrian. Hal itu adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupnya. Semenjak orangtuanya sakit-sakitan dan keluarganya menjadi miskin, merasa tak punya lagi harapan untuk bahagia.
Apalagi setelah sang ibu meninggal dan disusul oleh ayahnya dalam waktu yang berdekatan, ia merasa dunianya hancur. Tapi keberadaan Adrian lah yang menjadi kebahagiaannya selanjutnya bagi dirinya.
Ia merasa Adrian adalah prioritas kebahagiaan dalam hidupnya saat ini, hingga ia pun rela untuk melakukan apapun juga demi kebahagiaan pria itu termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
"Adrian... " senyum terkembang dari bibir Vara saat dalam bayangnya melihat Adrian tengah tersenyum kepadanya.
Tapi kemudian senyumnya itu sirna saat ia melihat ada dua sosok lain yang sedang berbahagia dengan suaminya.
"Vita ...? "