
"Ini ... gue nggak salah liat? Ini foto asli, apa editan? " seru Valdi seraya menggeser-geser layar tab yang kini sudah berpindah di tangannya. Gambar tersebut ia perbesar dan perkecil untuk memastikan keasliannya.
Dokter Ferdy memutar bola matanya malas, "Ck! Lo fikir gue sekurang kerjaan itu apa, sampe sempet-sempetnya ngedit-ngedit foto orang kayak gitu, " kedua tangannya bersedekap di dada.
"Gila sih kalo ini beneran, nekat banget tuh bocah. Eh, tapi bukannya... " mata Valdi menyipit, ia mengingat-ingat sesuatu.
"Apa? "
"Hmm ... bukan apa-apa, gue cuman kayak agak keinget sesuatu gitu, cuman belum jelas sih apaan, "
"Huh, gaje lu! " kesal Ferdy seraya tangannya hendak mengambil ilmu kembali tab miliknya yang masih di pegang oleh Valdi.
"Bentar, gue kirim dulu ke hape gue, " Valdi langsung mengirimkan foto tersebut ke nomor ponselnya.
"Udah? " tanya Ferdy memastikan.
"Udah. Thank, Bro, informasinya. Kalo ada info lagi jangan lupa langsung cuss kasih tau ke gue, "
"Gampang lah itu, " sahut Ferdy seraya berbalik dan keluar dari ruang Valdi.
Sepeninggal Ferdy, Valdi mencoba menyatukan ingatannya yang seperti kepingan-kepingan puzzle. Kemudian ia membuat ilustrasinya di dalam laptop miliknya.
"Foto itu mulai dari tanggal dua belas bulan Desember, berarti itu masih awal-awal saat kehamilan Kavita kan, yang Si Adrian memohon-mohon maaf, lalu mengucapkan janji-janji busuknya itu untuk pertama kali. Ya, seenggaknya itu setau gue sih, " gumam Valdi seorang diri, ia mengingat-ingat runtutan peristiwa yang ia ketahui perihal Kavita.
Saat ini lelaki itu sedang melihat foto dari saudara kembarnya, bersama dengan seorang wanita yang diyakininya adalah Vara, wanita yang merupakan orang yang disukai oleh saudara kembarnya itu sejak dulu, sekaligus juga merupakan istri dari Adrian, yaitu suami Kavita, wanita yang meupakan orang yang disukai olehnya.
Dugaannya sementara, apakah saudara kembarnya itu memang bertekad untuk merebut Vara dari Adrian, atau ada apa sebenarnya. Selama ini ia tak mau ambil pusing mengenai saudara kembarnya itu, karena mereka juga tidak se-akur itu meskipun kembar. Namun kali ini ia merasa perduli dan juga merasa perlu menyelidikinya karena sudah ada sangkut pautnya dengan Kavita.
Sebab dirinya sudah bertekad akan mencari bukti sebanyak-banyaknya, untuk memudar jalannya sidang perceraian antara Kavita dan juga Adrian. Ia tak ingin lebih lama lagi melihat Kavita menderita. Dirinya ingin, wanita itu bisa segera menggapai kebahagiaannya, tentu dengan harapan bersama dirinya. Itulah yang diinginkan oleh Valdi.
Setidaknya ia berusaha yang terbaik'kan untuk wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu. Ia merasa wajib berjuang untuk Kavita terlebih dahulu, terlepas dari entah bagaimana nanti balasan Kavita untuknya. Yang terpenting saat ini ialah dirinya harus berusaha terlebih dahulu.
"Untung aja wanita itu orang yang berbeda, jadi kita nggak perlu sing bermusuhan atau ssing berebut wanita. Hanya saja, kita berhadapan dengan lelaki yang sama, cuma cara kita beda. Seenggaknya gue nggak bawa kabur istri orang, cuman ngumpetin aja, hahaha, " tawa Valdi pecah memikirkan kembali kesamaan yang aneh antara dirinya dan juga Valdi, kembaran nya.
"Ngumpetin juga atas perintah dari keluarga Kavita sendiri, jadi gue bukan tersangka kejahatan yang bawa kabur istri orang dan nyembunyiin dong. Tapi yang lo lakukan itu apa, Do? "
"Ternyata diem-diem lo ngumpetin di Vara ya, bukannya setau Adrian si Vara itu udah mati? Bahkan dia aja sampe tega nyakitin Kavita waktu itu demi memilih Vara, dan supaya bisa ketemu wanita itu untuk yang terakhir kalinya 'kan, " lelaki itu tampak berfikir, "bener begitu 'kan? "
Valdi kembali menggeser foto-foto berikutnya, yang merupakan foto terbaru yang di dapatkan.
Latar foto tersebut terlihat berada di luar negeri, si wanita pun memang terlihat agak berbeda, namun entah kenapa ia yakin jika wanita itu adalah orang yang sama dengan foto-foto Valdo yang sebelumnya. Karena apa? Karena Valdi melihat tatapan dari saudara kembarnya itu selalu sama pada wanita itu, tatapan memuja dan mendamba yang sudah ia lihat sejak bertahun-tahun yang lalu itu tak pernah berubah meskipun sudah pernah berpisah jarak dan waktu yang lumayan lama.
"Apa semua itu sandiwara yang lo ciptakan untuk mengelabui Adrian? Supaya laki-laki itu meyakini jika wanita yang dicintainya sudah tiada dan bisa melepaskannya begitu saja untukmu? " ucap Valdi pada foto-foto yang di tata pnya sejak tadi.
Tak lama kemudian ia bertepuk tangan, dan kembali tertawa seorang diri, "hebat, Bro! Gue akui, cara lo benar-benar hebat dalam memperjuangkan cinta lo yang udah hadir selama bertahun-tahun itu. Ya ... semoga saja dengan apa yang udah lo lakuin ini, lo bisa mendapatkan kebahagiaan lo yang sesungguhnya deh, "
Jujur, itu adalah doa terbaik pertama yang keluar dari bibir Valdi untuk saudara kembarnya.
"Baiklah, kalau lo udah bahagia, berarti sekarang giliran gue dong yang bakal memperjuangkan cinta gue. Tenang aja, gue nggak bakalan ngerusak kebahagiaan lo kok. Gue cuman mau ambil sedikit ... aja beberapa foto lo buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu gue butuh buat bukti, "
"Yess ... semakin banyak barang bukti, semakin bagus kan. Semoga saja semuanya bisa berjalan lancar dan gue bisa ... mencuri hati Kavita, sama seperti Kavita yang udah berhasil mencuri hati gue tanpa dia sadari, "
Kelebat-kelebat bayangan Kavita melintas di benaknya. Entah apa yang sudah membuat dirinya begitu menyukai Kavita, padahal jelas-jelas Kavita merupakan istri dari orang, dan juga Kavita pun sudah mengandung anak dari suaminya itu saat dirinya mulai mengenalnya.
Meskipun sebenarnya, waktu itu bukanlah kali pertama dirinya bertemu dengan Kavita, bukan juga pertama kalinya dirinya merasa tertarik dengan Kavita. Namun seiring berjalannya waktu, dengan semakin mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi kehidupan rumah tangga Kavita, membuatnya merasa sedih dan semakin bersimpati pada wanita itu, hingga akhirnya ia terjebak dalam rasa yang sebenarnya menurut dirinya salah.
"Tapi gue kan juga nggak bisa menyalahkan cinta. Hanya saja, gue menyayangkan kenapa begitu pertama kalinya gue jatuh cinta, harus sama wanita yang udah bersuami. Berasa gila gue, " Valdi sendiri pun tak habis fikir dengan hatinya sendiri.
Apa memang se-gila itukah cinta? Yang tidak memandang status siapa dirinya, dan bagaimana kondisinya. Asal bisa melihat orang itu bahagia saja, maka kita akan ikut bahagia.