
Kedatangan Adrian di ruang rawat Kavita membuat semua orang yang berada di dalamnya menoleh dengan berbagai macam ekspresi, ada yang terkejut, ada yang marah, ada kecewa, ada yang senang dan juga ada yang langsung menangis saat itu juga.
Kavita yang tak melihat suami yang dicintainya selama satu minggu lebih merasa sangat merindukan lelaki itu, ia merasa tak sanggup untuk berjauhan lagi dengan Adrian. Entah itu adalah sebuah hormon kehamilannya atau atas landasan cintanya yang memang begitu besar kepada Adrian.
"Mas Adrian? " gumam Kavita dengan perasaan bahagia bercampur lara.
Ia bahagia karena merasa Adrian masih memperhatikan nya, sedangkan hatinya juga masih merasa kecewa jika teringat akan ucapan dan perlakuannya pada dirinya beberapa waktu yang lalu.
"Kavita.. " Adrian berjalan mendekat pada Kavita, namun sudah dihadang lebih dulu oleh Papa Indra.
"Kamu kemana aja sih, Dri? Istrimu lagi hamil muda dan butuh kamu malah kamunya sibuk terus, " omel Papa Indra yang setau dirinya Adrian sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sempat menjenguk apalagi menunggui Kavita.
"Maafin Adrian, Pa. Pekerjaan Adrian memang lagi nggak bisa ditinggalin selama seminggu ini, " Adrian melirik Kavero saat menjawab pertanyaan mertuanya dengan suatu kebohongan.
Kavero memalingkan muka, "cih! dasar laki-laki brengsek tukang selingkuh. Tega-teganya dia boong sama papa. Pekerjaan yang dia maksud itu selingkuh gitu? "
Sementara Mama Kavita hanya diam tak berminat menyapa menantunya. Ia malah berbalik dan memilih duduk di sofa bersama Kavero saat Adrian berjalan mendekat untuk menyalaminya.
"Mungkin mama cuma kecewa aja gara-gara aku nggak nungguin anaknya selama seminggu ini, " batin Adrian cuek.
"Vita.. " Kavita yang merasa dirinya dipanggil namanya pun terduduk, siap mendengarkan apa yang akan suaminya katakan.
"Aku mau minta maaf sama kamu, " ucap Adrian pelan, seperti orang yang sedang menggunakan. Namun mampu membuat wajah Vita mendongak menatapnya.
"Gue nggak salah denger? " bukan Kavita yang bertanya, tetapi Vero yang juga sangat terkejut mendengar permintaan maaf terucap dari bibir kakak iparnya.
Bagaimana ia bisa percaya jika Adrian yang beberapa waktu lalu bersikap kasar dan angkuh, kini tiba-tiba datang dan meminta maaf pada kakaknya, yang bahkan waktu itu di hina dan direndahkan olehnya.
"Enggak, Ver.. aku bener-bener mau minta maaf sama kakak kamu, sama kamu juga, dan juga semuanya, " Adrian memandangi semua orang satu persatu, tapi ia tak melihat Nadiva ada diantara mereka.
Lelaki itu menggenggam erat buket bunga di tangannya, ia sudah bertekad harus bisa mendapatkan maaf dari Kavita demi menyenangkan hati wanita yang dicintainya, Vara.
Kemarin, usai pertengkaran hebatnya dengan Vara, wanita itu mendadak pingsan. Usai mendapatkan pemeriksaan dari dokter pribadi mereka, dokter itu bilang kalau Vara kelelahan dan stress berlebihan. Hal itu tentu sangatlah buruk bagi kesehatan Vara. Jadi Adrian harus selalu bisa menjaga perasaan Vara demi wanita itu tetap sehat selalu.
Makanya Adrian dengan terpaksa harus mau menjalankan apa yang sudah menjadi kesepakatannya dengan wanita yang merupakan cinta pertamanya tersebut. Termasuk harus mau meminta maaf dan melanjutkan sandiwara yang sudah ia kacaukan sendiri beberapa waktu lalu.
"Baiklah, demi kabaikan dan kebahagian kamu, aku rela melakukannya meski terpaksa, " ucap Adrian pada akhirnya.
"Ini bukan hanya demi aku saja, Drian.." Vara meraih tangan Adrian dan menggenggam nya.
"Tapi buat kamu juga, demi kita semua. Dan ... calon anak kita juga. Aku mohon sama kamu ya, Dri? "
"Pliss.. " mohon Vara seraya memasang wajah puppy eyes.
Adrian yang semula menekuk wajahnya kesal jadi luluh juga, "oke-oke, aku akan ke rumah sakit hari ini juga, "
"Makasih banyak, Sayang .. aku jadi makin cinta deh sama kamu, " ucap Vara bahagia dan langsung memeluk Adrian.
"Yaudah aku mau siap-siap dulu. Kamu baik-baik di rumah, tetap jaga kesehatan ... dan kalau ada apa-apa jangan lupa harus langsung hubungi aku terlebih dahulu, aku akan selalu siap sedia untuk kamu 24 jam," ucap Adrian panjang lebar, dan melerai pelukan mereka.
"Iya bawel. Aku bukan ank kecil lagi, "
"Tapi kamu selalu lebih ngeyel dari anak kecil, Vara sayang... "
" Aa.. memang iya? Goda vara dengan mengerucutkan bibir, hal itu membuat Adrian gemas.
"Jangan mancing aku, Vara. Kamu baru aja abis kambuh loh! Ntar malah kenapa-napa lagi kalau aku makan kamu, "
"Biarin, mesum sama istri sendiri ini kok, kan nggak dosa, " kilah Adrian.
"Iya-iya.. tapi malah dosa loh kalau kamu nggak ngsih sama istri kamu, "
"Kapan? Bukannya aku selalu servis kamu setiap waktu, nggak pernah telat malah pengennya lebih," Adrian menaik turunkan alisnya menggoda.
"Bukan aku, tapi istri kamu yang satunyaa itu.. " Vara memutar-mutar bola matanya kembali menggoda Adrian.
Adrian mendengus, "jangan mulai deh, Yank, "
"Engga-enggak! Udah sana sia-siap.. katanya mau ke rumah sakit, " Adrian pun berlalu ke kamar mandi.
"Tapi beneran loh, Yank.. yang aku omongi tadi," teriak Vara setelah pintu kamar mandi tertutup, yang tentunya masih didengar oleh Adrian.
"Aku denger, Vara..!"
"Senganja, wlee..! " teriak Vara lagi yang sudah tak mendapat tanggapan sarinAdrian yang sudah sibuk dengan aktifitas kamar mandinya.
"Semuanya akan aku lakukan demi kebahagiaan kamu, Adrian. Termasuk untuk dimadu dan harus membagi suamiku dengan wanita lain, " batin Vara menangis.
"A**ku sadar aku bukanlah wanita yang sempurna buat kamu, aku nggak bisa kasih akmu anak.. bahkan aku malah ..."
Lamuanan Vara buyar saat Adrian tiba-tiba saja menciumnya dengan bibir yang masih dingin karena baru saja usai mandi.
"Dingin ih, Yank...! Vara terkejut, ia langsung mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Sengaja, wlee.. " Adrian membalas dengan ejekan seperti Vara tadi.
"Kamu beneran nggak mau ikut aku ke rumah sakit?" tanya Adrian sekali lagi sebelum berangkat.
"Jangan mulai deh! udah tau kalau aku bakalan diusir disana nanti. Jangan smpai Kavita stress dan akan berpengaruh bu-"
"Buruk pada kehamilan dan janin yang dikandungnya," lanjut Adrian yang sudah hafal dengan apa yang akan diucapkan oleh Vara.
"Nah. Itu kamu tau, "
"Oke, aku berangkat dulu. Hati-hati di rumah," Adrian mengecup kening dan bibir Vara sekilas lalu keuar dari kamar mereka untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Semua ...! " Seru Adrian sembari menuruni anak tangga.
Dan muncul beberapa orang bodyguard berkumpul di ujung tangga.
"Jaga nyonya Vara selama saya tidak di rumah, jangan biarkan dia pergi tanpa izin dari saya, kalian mengerti? "
" Meski apapaun alasannya, Tuan?" tanya salh satu bodyguard itu.
"ya, apapun alasannya. Kalian harus menghubungi saya terlebih dahulu jika memang dia mau pergi, "
"Siap, Tuan, " seru kesemua bodyguard tersebut.
Dan begitulah hingga akhirnya Adrian sampai di rumah sakit dengan sebuket bunga dan sekotak coklat di kedua tangannya. Persis seperti ABG yang sedang meminta maaf pada pacarnya, "
Tapi apapun itu yang diberikan oleh Adrian, Kavita akan tetap menyukainya walau sebenarnya ia tak menyukai hal tersebut sekali pun.