
Jam di pergelangan tangan Kavita sudah menunjukkan pukul enam sore, ia segera mematikan komputer di hadapannya dan mengemasi barang bawaannya yang hanya berupa ponsel dan juga dompet.
Ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil blazer yang ia sampirkan di patung pajangan lalu memakainya. Lalu wanita itu turun untuk segera menemui para karyawannya.
Butik miliknya yang biasanya tutup pada jam delapan malam, kini ia akan menyuruh Diva menutupnya lebih awal, agar mereka tidak kemalaman saat dinner bersama nanti berjaga-jaga kalau harus terjebak macet di jalan juga.
"Guys... let's Go! " seru nya dengan nyaring.
Semua karyawannya menoleh, "sekarang, Bu? " tanya Lela mewakili teman-temannya.
"Kan baru jam enam, Bu, "
"Ceritanya nggak mau nih? "
"Ya mau dong, Bu... " jawab ke-tujuh orang itu cepat.
"Emangnya kalian belum pada laper apa, kalau nunggu jam delapan, aku takutnya kalian keburu pingsan entar, " ucap Vita disertai kekehan.
"Bu Vita paling pengertian deh, jadi jatuh cinta.. " canda Beno.
"Eeh.. nggak boleh Beben!! " Fafa menggeplak punggung Beno.
"Beno canda, Fafa.. "
"Huuuuu... " seru yang lain menyoraki.
"Bu Vita aja nih yang pengertian? Akoh enggak? " Diva bertanya dengan nada yang dibuat-buat.
"Pokoknya Bu Vita sama Bu Diva de best dah pokoknyah, " Abi si pendiam kini turut mengeluarkan suara.
"Wah.. ada angin apa barusan? Si irmong ikut berpendapat? " Haikal merasa heran sekaligus terpana mendengar perkataan Abi.
Vita mengernyit, "irmong? "
"Iya, irit ngomong, Bu, "
"Ada-ada aja kalian ini. Yaudah yuk, jalan! Lagi nggak ada customer 'kan? " ajak Vita.
"Nggak, Buu, "
"Cuuslah, "
"Skuylah, "
"Let's go, beibeh... " Beno si kribo melompat dan merangkul pundak Lela tapi segera ditepis gadis itu.
"Hish.. gue mau ganti sama ciwi-ciwi kali.. lo gaboleh ikut. Cwo sana sama cowo-cowo tuh, "
"Pengennya ikut ciwi-ciwi.. "
"Emm.. boleh, " Fafa menaik turunkan alisnya tanda-tanda kejahilan.
"Tapi lo musti pake rok mini dan dandan kayak kita-kita, gimana? "
"Ih, Si Fafa.. memangnya eike bencos, " Beno berbalik arah dengan bergaya ala waria.
Semua para karyawan berganti dan bersiap. Vita terduduk menunggu sambil iseng menghidupkan ponselnya yang selama seharian ini ia matikan.
Begitu banyak notif langsung bermunculan begitu ponsel pintar itu menyala.
Ratusan pesan whatsapp, puluhan panggilan , puluhan video call masuk dari nomor Vara, Adrian, mama, papa, mami, papi bahkan Aditya dan Kaveri juga.
Kavita mengehela nafas, ia hanya diam seharian tapi orang-orang sudah seheboh ini. Bagaimana kalau sampai mereka semua tau jika Adrian sudah berselingkuh darinya? pikir Kavita.
"Kebohongan apa yang kalian katakan sama orangtuaku dan orangtua Adrian, sampai mereka semua mencariku seperti ini? " gumamnya seorang diri.
"Sayang.. kamu dimana, Nak? "
Bunyi pesan whatsapp dari Mami Sinta.
"Kamu kemana, Vita? kok kata Adrian kamu pergi nggak pamit? dia kira joging tapi sampai jam segini belum pulang juga, "
Pesan dari Mama Vita membuat kening wanita itu berkerut.
"Jadi itu yang dibilang Adrian? Dia sama sekali nggak kelihatan khawatir meski aku udah pergi seharian tanpa kabar, " Kavita tersenyum getir.
Ia kembali tersadar jika harapannya sia-sia belaka. Meski ia tau jika Adrian belum mencintainya, tapi ia masih sangat berharap jika lelaki itu akan is a membuka pintu hati untuk dirinya.
Namun begitu ia tau jika suaminya itu telah berselingkuh dengan wanita yang kayaknya adalah sepupunya, ia merasa semakin sedikit harapan u tiknya bisa memenangkan hati Adrian.
" Yuk, Vit!" Diva turut memanggil Vita.
Melihat Vita yang diam saja tak menyahut, Diva mendekati dan menepuk pundak sahabatnya itu, "Vit? "
"Ah, iya? " jawab Vita terkejut.
"Lo ngalamun?"
Vita nyengir kuda, "sedikit sih, "
"Awas, ntar kesambet lagi. Yaudah cuss, yuk! Tuh anak-anak udah pada nungguin, "
"Skuy.. "
Ke-delapan orang itu pergi menggunakan kendaraan masing-masing, hampir mirip seperti orang yang mau kampanye. Karena jika berbarengan, mereka tidak mau kalau harus kembali lagi ke butik yang berarti harus berbalik arah dan hanya akan menjadi repot jika bolak balik saja.
Tak sampai setengah jam mereka semua sudah sampai pada sebuah restoran apung yang memang berada tak terlalu jauh dari butik Vita, hanya saja jalanannya sering kali macet.
Diva menunjuk salah satu tempat yang sudah ia booking sebelumnya, yaitu pas di tengah-tengah kolam. Agar mereka bisa melihat suasana sekeliling restoran tersebut.
Berbagai macam hidangan menggugah selera sudah tersaji dengan cantik. Membuat mereka semua menelan ludah tak sabar.
"Sikaat.. " seru Beno yang disambut sorakan dari temannya yang lain.
"Dasar, Si Beno. Nggak bisa liat makanan dikit aja langsung main sikat-sikat, " Haikal menoyor kepala sohibnya itu, tapi Beno sudah lebih dulu menghindar.
"Kayak lu enggak aja, "
"Gue jelas... iya lah, "
"Huuu.... "
"Sama aja itu mah, "
"Udah, mulai eksekusi aja kalau gitu, cuss abisin! " titah Vita yang langsung mendapat sorak gembira dari semua karyawannya.
Vita meletakkan tas selempangnya, lalu ia menuju ke salah satu sudut yang terdapat wastafel, ia bermaksud mencuci tangannya lebih dulu, tapi ia melihat sekelebat bayangan orang yang dikenalinya.
Wanita itu menyipit, memperhatikan lebih jelas untuk memastikan bahwa yang ia lihat itu tidak salah.
"Itu bukannya Adrian ya, Vit? Suami lo?"
"Hah, apa? " Vita yang sedang fokus tentu saja terkejut dengan kehadiran dan pertanyaan dari adiva yang tiba-tiba.
"Sama siapa dia? "
"Sam-" belum selesai Vita menjawab, Diva sudah berteriak lebih dulu.
"Hei, Adrian! " Diva memanggil Adrian dengan suara lantang, hingga orang-orang yang berada di sekeliling mereka menoleh ke arah Diva dan Vita berada.
"Kesini, gabung! " gadis itu melambai pada Adrian dan satu orang lainnya.
Posisi mereka yang berada di tengah-tengah tentu saja membuat banyak orang disekelilingnya mudah menemukannya, tak terkecuali Adrian dan seorang wanita yang tengah bersamanya, mereka menoleh dan melebarkan mata saat melihat Vita.
Vita langsung berbalik, enggan melihat suami dan selingkuhannya itu. Setidaknya memang itulah yang ada di fikiran Kavita, Vara adalah selingkuhan dari Adrian, suaminya.
"Tuh, kan. Mereka mau kesini, " gumam Vita kesal.
"Biar mereka gabung sama kita dong, Vit. Makin rame 'kan makin seru, " jawab Diva tanpa tau batin sahabatnya yang terluka.
"Hai, Dri. Siapa nih? " tanya Diva yang langsung menyalami Adrian dan Vara begitu dua orang itu sampai disana.
"Hai, gue Vara. Sepupunya Adrian, " sapa Vara tersenyum.
"Cih! Sepupu lo bilang? Mana ada sepupu yang mesra-msraan, " ucap Vita dalam hatinya.
"Hai, Div, " sapa Adrian tanpa menoleh pada Vita.
Vara menyenggol lengan Adrian dan memberi kode pada laki-laki itu untuk menyapa Vita.
"Hai, Sayang.. kangen banget sama kamu, seharian nggak ketemu, " Adrian memeluk Vita kaku.
"Sandiwara yang patut diacungi jempol, "
Bersambung..