
"Hash... sial! Gara-gara diikutin dua bodyguard itu gue jadi masih harus muter-muter disini aja, harusnya 'kan gue udah ketemu sama Vita, " gerutu Aditya yang saat ini tengah bersembunyi di dalam sebuah rumah makan kecil untuk berkamuflase.
Sejak pagi hingga sore hari, ia hanya berputar-putar saja di ibukota tanpa bisa keluar dari sana seperti borang yang sedang diguna-guna. Tapi tidak, itu karena ia diikuti oleh Tomi dan Toni yang diutus oleh Adrian untuk mengawalnya.
"Kemana perginya Den Adit ya, Tom? " tanya Toni yang sudah lelah menyetir, apalagi perutnya juga sudah terasa lapar sekarang.
"Mana gue tau, Toni. Kalau gue tau nggak bakalan gue ngebiarin lo muter-muter disini doang dari tadi pagi. Mana udah sore, laper lagi gue, " jawab Tomi pula yang sudah merasa lelah.
"Sama, Tom. Gue juga laper, "
"Kita cari makan dulu, yok! Baru ntar cari lagi. Daripada kita nggak fokus nyarinya gara-gara kelaparan," ajak Tomi seraya meminggirkan mobilnya dan parkir di depan rumah makan yang tak sengaja sama dengan tempat persembunyian Aditya.
"Wah.. cocok pas laper gini, makannya nasi padang, Tom, " seru Toni antusias.
Kedua bodyguard itu duduk di meja agak belakang, berlainan dengan Aditya yang di pinggir dan agak depan.
"Gimana bisa tuh dua orang ikut makan disini. Hmm, gue kabur aja kali ya, " gumam Aditya dalam hati saat melihat Tomi dan Toni masuk ke dalam rumah makan yang ia singgahi.
Aditya memperhitungkan langkahnya jika ia berjalan keluar, dan jarak motornya dengan mobil pink yang dipergunakan dua bodyguard itu terparkir.
"Kayaknya sempet deh buat gue kabur, " gumam Aditya, "nah.. pakai masker dulu biar mereka nggak tau kalau ini gue, " lelaki itu memakai masker, lalu mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah dan meletakkannya di meja.
Aditya kemudian berjalan keluar dengan berusaha tetap biasa saja, tapi suara seorang pelayan yang memanggilnya membuatnya berhenti.
"Mas, ini masih ada kembaliannya, " ucap pelayan itu pada Aditya.
Aditya mengibaskan tangannya sebagai tanda 'terserah, buat lo aja, '. Pelayan itu pun mengangguk dengan senangnya. Aditya segera menuju motonya dan dengan cepat melaju sebelum kedua bodyguard itu menyadari keberadaan dirinya.
"Huh. Selamat.. " motor yang dipacu Aditya segera melaju dengan kecepatan yang lumayan agar bisa segera menjauh dari keberadaan dia bodyguard tadi.
"Semoga aja gue bisa ngilangin jejak gue dan nggak lagi diikutin sama duo Upin Upin itu, " gumam Aditya yang menyebut kedua bodyguard tadi dengan sebutan Upin Ipin karena keduanya sama-sama berkepala botak.
Selang beberapa jam, motor sport berwarna hitam itu memasuki kawasan yang udaranya sangat sejuk. Sangat lain dengan suasana ibukota yang panas karena polusi udara dan asap-asap kendaraan bermotor yang bersliweran setiap saat.
Lelaki muda itu menyunggingkan senyum saat melihat pada ponselnya, di sebuah aplikasi ciptaannya sendiri, ia mendapat sinyal tak jauh lagi keberadaan seseorang yang saat ini tengah dicarinya.
"Aku pasti menemukanmu, Kavita Saputri... " gumamnya lagi.
Aditya berhenti sejenak di pinggir jalan yang memiliki view lumayan indah serta udara yang segar, sangat cocok untuk dirinya beristirahat karena lelah berkendara selama beberapa jam tadi.
"Hmm.. selfie dulu, " gumam Aditya sembari tangannya mencari ikon bergambar kamera di ponselnya. Lalu..
Cekrek... 1 foto.
Cekrek... 2 foto.
Cekrek... 3 foto. dan seterusnya sampai lelah berselfie.
Btw, ada yang kepo ah visualnya Aditya ga nih?
Kalau ada, menurut kalian yang cocok sama visualnya si Aditya ini siapa? Komentar di sini ya...
Lelaki itu tersenyum melihat hasil fotonya sendiri, terbayang olehnya jika di sampingnya ada Kavita yang tengah bergelayut manja di lengannya dan mereka berfoto bersama. Oh indahnya dunia...
Aditya kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan, dengan semangat dan tekad demi sang wanita yang dikaguminya ia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang di jalanan yang mulai menanjak.
Hari yang mulai beranjak gelap disertai langit mendung yang terlihat akan menumpahkan air hujan, tak menyurutkan semangatnya sama sekali meski jalanan itu sepi sekali pun.
Tak berapa lama kemudian hujan mulai mengguyur kawasan itu. Keadaan yang gelap gulita karena kurangnya pencahayaan, ditambah cuaca yang menjadi semakin dingin karena hujan deras membuat Aditya ingin berhenti sejenak sembari menunggu hujan reda. Tapi karena jalannya licin dan keseimbangan Aditya goyah efek gemetar kedinginan, motor yang di kendari nya pun terpeleset dan lelaki itu terjatuh bersamaan dengan motornya di jalanan yang menurun, alhasil Aditya pun ikut tersertifikasi bersama motornya kembali ke bawah.
Braak...
Suara benturan dari motor Aditya yang menabrak pagar besi jalanan, untung saja motor tersebut masih berhenti dan menyangkut disana sehingga Aditya juga ikut terhenti disana meski dengan keadaan kakinya yang terjepit karena tertindih motornya sendiri. Setidaknya lelaki itu tak langsung terjun ke jurang di bawah sana yang memiliki kedalaman puluhan meter.
Di waktu yang bersamaan ada sebuah mobil yang sedang melintas di jalanan tersebut, suara benturan yang keras pun terdengar oleh pengendara mobil itu.
"Suara apaan tuh? " gumam seseorang itu pada orang lain yang bersama dengannya.
"Kayak benda yang terbentur, apa ada kecelakaan? Coba deh cek, Ver! " jawab orang tersebut.
"Ih, ogah! Ntar kalo ternyata modus barunya pembegal gimana? Mati dong kita, " ucap orang yang menyetir mobil itu waspada.
Pasalnya jalanan itu memang sepi terutama di malam hati seperti saat ini, apalagi keadaan hujan deras yang mengguyur semakin enggan saja orang yang mau lewat disana karena pasti licin dan tanjakan yang tajam disana sangat berbahaya. Bahkan pernah ada begal yang dulu mangkal di jalanan itu untuk mencari mangsa. Namun beberapa bulan yang kalau begal itu sudah tertangkap. Tapi tetap saja, rasa waspada dan curiga tetap ada dalam diri orang yang pernah tau cerita itu.
"Ah elo berburuk sangka mulu. Kalo ternyata bener itu orang kecelakaan, gimana? Lo nggak kasian apa? Gimana kalau seumpama kita yang ada di posisi orang itu, lo bisa apa? Pasrah sama malaikat maut yang bakal jemput lo? Iya kalau lo udah mau di matiin, kalo cuma disiksa aja semaleman sambil ujan-ujanan terus kesakitan sampai nunggu ada polisi lewat yang peduli, gimana? Mau lo kayak gitu? " cecar seorang wanita sebagai penumpang itu panjang lebar kepada temannya yang menyetir.
"Ogah ya! Jangan sembarangan lo kalo ngomong!"
"Makanya bantuin..! " seru wanita itu.
"Iya-iya ah, bawel! Moga aja bukan begal, kalo sampe begal. Kita mati bareng pokoknya, "
"Lhah.. ngomongnya kagak disaring ni bocah! "
"Biarin! Yok turun! " ucap ormag tersebut begitu mobil terhenti.
"Payung mana? "
"Auk ah, "
"Ish.. Beri mah ngeselin! "
"Cepetan ih, keburu mati ntar kalo emang orang kecelakaan, "
"Iya-iya, "
Kedua orang itupun turun dan mendekati Aditya.
"Hah! Aditya?"
🔥🔥🔥
Siapa sih itu..
Semoga Aditya gak papa, amin.