Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Pertengkaran di Mobil


"Lo bareng suami lo 'kan, Vit?" tanya Diva sebelum pergi.


"Hah? Gue gampang lah.. " jawab Vita sambil tertawa.


"Iya pasti dong mereka bareng, kan mereka tinggal serumah. Gimana sih? " Vara ikut menyahut.


"Iya, iya bener, " ucap Vita yang tak ingin Diva curiga.


"Gue boleh nebeng sama lo nggak, Div? sampe depan aja gakpapa, ntar gue cari taksi di depan. Nggak mungkin dong gue jadi obat nyamuk buat mereka, " tanya Vara pada Diva uang lagi-lagi membuat Adrian mendelik dan menggeleng samar.


Diva mengangguk, "boleh banget dong, gue juga tau betapa nggak enak banget jadi obat nyamuk. Soalnya dulu gue juga pernah, "


"Apaan sih kalian, " wajah Vita memerah karena dilirik-lirik oleh Diva dan Vara sejak tadi.


"Udah sana kalian balik! Nih, Vit. Barang-barang lo dari suami lo tercintah, " Vara menyerahkan beberapa paper bag yang tadi dibawanya kepada Kavita.


"Thanks, Vara. Sory ya Mas Adrian udah ngrepotin lo terus, " Vita menerima semua paper bag tersebut.


Padahal tadi niat Adrian membawa semua paper bag itu dari mobil adalah agar Vara bisa melihat-lihatnya dan mencobanya sembari menunggu pesanan tiba dan melihat indahnya pemandangan di tempat tersebut, bukannya malah diberikan kepada Kavita seperti saat ini.


"Santai dong, Vit. Kita kan saudara, udah sewajarnya saling membantu, " Vara mengibaskan tangannya.


Ada sorot tidak rela sebenarnya dari matanya melihat paper bag yang entah apa isinya itu, kini sudah berpindah tangan.


"Saudara ya, Var? Saudara seperti apa yang kamu maksud? saudara madu tapi rasa racun? " batin Vita menangis.


"Yaudah yuk, kita balik! " Diva menggandeng tangan Vara, bermaksud agar Vita bisa berdua dan bergandengan juga dengan Adrian.


Tapi lelaki itu malah melipat tangan dengan wajah masamnya, lalu berjalan begitu saja tanpa menoleh bahkan melirik Kavita yang sudah siap menggandeng lengannya.


Kavita mengedip-ngedipkan mata untuk mencegah buliran bening dari kedua matanya keluar, tak ingin sampai sahabatnya tau apa yang ia rasakan kini. Meski nanti ia akan menangis sejadi-jadinya di rumah, tapi jangan sampai di tempat ini. Fikir Vita.


Jalanan yang macet menjadikan perjalanan pulang semakin terasa lama dan membosankan bagi Adrian. Dan sangat menyiksa batin bagi Kavita yang sejak tadi menahan tangis. Seakan tak mampu lagi bertahan di ruang mata, air mata uang sejak tadi sudah menggenang kini luruh juga tanpa diminta.


"Kenapa gue nangis sih. Lo nggak boleh nangis sekarang. Plis! Stop air mata, stop! " Semakin Kavita mencoba berhenti menangis, justru semakin deras pula air matanya mengalir.


Berulang kali Kavita menyeka air mata dan ingusnya dengan tisu yang ada di mobil Adrian.


"Bau Vara, " Semua yang ada di dalam mobil itu menurutnya bau aroma parfum Vara, karena tadi Vara memanglah pergi dengan Adrian.


Dan hal utubtentu saja membuat hatinya semakin berdenyut ngilu.


"Brisik, " gumam Adrian kesal.


Lelaki itu sama sekali tak perduli pada Kavita yang memnagis tersedu-sedu, justru ia malah merasa terganggu dengan suara tangisan dari istrinya tersebut.


"Kamu jahat, Mas! " ucap Vita dengan suara mencicit.


"Aku nggak ngerasa salah sama kamu, apanya yang jahat? " Adrian membalas ucapan Kavita dengan nada sewot.


"Kenapa kamu perlakuin aku kayak gini? " tanya Kavita dengan segenap rasa kecewa yang ada.


"Emang aku harus gimana? " Adrian menjawab tanpa menoleh pada Kavita.


"Kamu bisa 'kan bersikap sedikit aja lebih baik sama aku, Mas? "


"Hmh!" lelaki itu mendengus tanpa bersuara.


"Aku ini istri kamu! "


"Istri yang nggak pernah aku harapkan, " batin Adrian yang mencoba mengontrol emosinya.


"Nggak usah lebay! " hanya itu yang ia ucap.


"Lebay? kamu bilang aku lebay? " Kavita menepuk dadanya.


"Aku tuh cuma minta sedikit aja perhatian dari kamu, Mas. Kamu itu suami aku, dan aku ini istri kamu! Baru berapa minggu kita nikah, tapi sikap kamu udah nggak ada peduli-pedulinya sama aku,"


Kavita menyeka air matanyaagi, wanita itu memaksakan berbicara dengan suara yang tersendat-sendat karena masih menangis.


Adrian menoleh ke arah lain, seakan tak sudi melihat Vita yang tampak berantakan.


"Sebenarnya apa salah aku sama kamu, Mas? Kenapa sikap kamu kayak gini ke aku? sejak kita nikah, kamu nggak pernah sekalipun bersikap manis sama aku, selain di hadapan orangtua kita,"


"Seakan-akan kalau kamu itu hanya bersandiwara aja dihadapan mereka, " Kavita tak bisa menahannya lagi, ia mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini yang terasa mengganjal di benaknya.


"Emang iya, " jawab Adrian singkat dengan nada rendah, tapi mampu membuat batin Kavita terguncang.


Kavita menatap Adrian lekat, ingin memastikan jika yang ia dengar itu bukanlah nyata, "maksud kamu? "


"Ya, selama ini aku hanya bersandiwara di depan orangtuaku, orang tua kamu, dan semua orang, "


"Jadi.. se-selama ini ka-mu menipu kami semua? " tangis Kavita yang semakin menjadi membuatnya semakin sulit berucap.


"Ya, " seakan hatinya sudah mati, Adrian sama sekali tak peduli pada air mata dan kesedihan Kavita.


"Apa, aku nggak salah dengar, aku nggak mimpi. Semua ini nyata? tega banget dia mempermainkan aku dan pernikahan kita, " batin Kavita menjerit, ingin ia meneriakkan semua itu, tapi tenggorokannya tercekat oleh luka yang baru saja Adrian goreskan.


Luka yang tak berdarah, tapi mlu membunuh batin orang secara perlahan.


"Ap-pa sal-salah aku sama kam-kamu, Mas? " tanya Kavita terbata.


"Banyak, "


"Apa? "


"Aku nggak bisa menyebutkannya, "


Adrian masih teringat akan perjanjiannya dengan Vara, jadi sebisa mungkin ia mengendalikan ucapannya, meskipun ingin sekali ia mengeluarkan semua yang selama ini juga dipendam nya.


"Aku nggak nyangka kamu orang yang jahat, Mas. Selama ini kamu baik, "


"Aku memang baik, tapi karena kamu, kehadiranmu yang membuatku jadi seperti ini, "


"Kalau kehadiranku salah, kenapa kamu menerimaku? "


"Aku terpaksa, "


"Demi apa? Harta? Jabatan? Bahkan kamu sudah memiliki segalanya, Mas! "


Adrian menggeleng, "demi seseorang, "


"Siapa? Vara? " Kavita bertanya tanpa melihat Adrian, sebenarnya hatinya sendiri sakit menanyakan hal itu.


Adrian menoleh, menatap tajam Kavita yang menunduk seraya memegangi dadanya yang terasa sesak oleh kenyataan yang menimpanya.


"Sok tau, "


"Aku bukan sok tau, tapi aku tau, "


"Tau apa kamu? "


"Semuanya, "


"Kamu nggak tau apa-apa, "


"Kamu selingkuh sama Vara, "


Ciiit...


Adrian mengerem mendadak mobil yang dikendarainya hingga kepalanya juga Kavita menabrak bagian depan mobil.


"Ssh, " Kavita memegangi kepalanya yang kembali berdenyut ngilu, sakit hati ditambah dengan sakit fisik membuat dirinya enggan terbangun lagi.


"Vara bukan selingkuhan. Kamulah orang ketiga diantara kami, " Adrian menggumam sebelum kesadarannya menghilang.


Kavita pun Sama-sama mendengarnya sebelum pandangannya mengaburkan dan menjadi gelap.


Bersambung...