
Kavita membelai lembut wajah bayi mungil yang ada di pangkuannya. Kedua matanya berembun karena rasa bahagia dan haru yang menyelubungi hati.
Dua bulan sudah bayi itu ia lahirkan ke dunia dengan cara operasi caesar, yang bahkan ia sendiri pun tak tau kondisinya waktu itu karena dirinya sudah lebih dulu kehilangan kesadaran. Tapi ia sangat bersyukur karena dirinya dan sang buah hati masih diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Tuhan.
Valdi tersenyum haru, ia turut merasakan apa yang tengah Kavita rasakan saat ini. Karena sedari bayi itu lahir sampai saat ini dirinyalah yang sudah mengurusi segala sesuatu tentang kebutuhan bayi itu.
Hmm... lalu bagaimana perasaan Kavita ya jika tau Valdi yang paling berjasa atas kelangsungan hidup dirinya dan juga anaknya selama dua bulan ini.
"Kamu mau nyusuin dia sekarang? " tanya Valdi pada Kavita setelah beberapa saat.
"Apa boleh?" tanya Vita dengan mata berbinar.
"Tentu saja, " jawab Valdi. "Tapi apa kamu tau caranya memulai yang baik dan benar? "
Kavita menggeleng, "setauku hanya memberikan ****** pada bayi, lalu bayi menghisapnya, itu aja sih yang udah pernah aku lihat,"
"Hmm... Ya, mungkin terlihat sesimpel itu, tapi.." Valdi menghentikan ucapanya, tak ingin juga ia jika kavita akan lebih dulu merasa takut sebelum mencoba menyusui putranya jika ia menerangkan segalanya sekarang.
"Tapi apa?" tanya Kavita penasaran dengan kelanjutan kalimat Valdi yang malah menggantung.
Valdi menggeleng pelan, "pengalaman yang akan membuatmu lebih tau. Yang paling penting untuk kamu ketahui adalah.. betapa berharganya dan betapa pentingnya air susumu untuk little angle, itu aja. Sok dicoba.." Valdi menjulurkan jempolnya mempersilahkan Kavita.
"Ya kamu berbalik dong!" seru Vita.
"Hah?" bingung Valdi tak tau maksud wanita di depannya itu.
"Kamu mau liat aku nyusuin dia?" tanya Vita dengan gamblang.
"Iya, " jawab Valdi pula dengan entengnya. "Karena aku harus memastikan kamu sudah benar atau belum nyusuin nya, " ucap Valdi beralasan.
"Valdi modus! " pekik Vita tertahan karena tak ingin membuat bayinya terkejut. Dokter dan perawat lainnya pun ikut tersenyum mendengar perkataan Vita.
Valdi pura-pura terkejut, "kok modus sih, Vit.. aku tuh dokter kandungan kamu dan anak kamu loh. Sudah kerjaan aku kayak gini, buat apa juga aku modusin kamu, " elaknya.
"Tapikan aku malu.." cicit Vita.
"Oke-oke.. tapi jangan sampai salah ya loh ya.." pesan Valdi.
"Ya biar suster aja yang ajarin aku kalau salah, "
"Iya-iya. Ah.. hampir aja liat," gurau Valdi seraya berbalik memunggungi Vita dan anaknya.
"Tuh'kan.. kamu emang modus!"
"Dikit, Vit, " bals Valdi yang masih setia memunggungi Vita.
"Tetep aja gak boleh! " tegas Vita.
Wanita itu mulai membuka kancing bajunya, ia mengeluarkan salah satu dari dua gunung kembarnya untuk mulai menyusui bayi mungilnya.
Bayi tampan berkulit putih dan berbibir tipis itu membuka mulutnya dan menerima sodoran Kavita.
Ada sensasi aneh yang menjalar saat pertama kali gunung kembarnya dihisap oleh sosok makhluk mungil yang merupakan darah dagingnya tersebut. Rasa geli, rasa haru, rasa senang dan berbagai macam rasa lainnya berkecamuk di dada.
"Sambil di pegang begini, Bu Vita.. biar nggak nutupin hidungnya dedek bayi, " ucapnsalah satu suster mengarahkan tangan Kavita untuk memegangi gundukan yang tengah disedot oleh bayinya itu.
"Oh.. baik, Sus, " Kavita menurut, ia memegangi gundukannya dengan mata terus memperhatikan si bayi yang sedang asyik menyusu.
"Anakku... buah hatiku, meskipun kamu ada karena lelaki itu, yang merupakan ayahmu, yang bahkan tak peduli pada keadaan kita. Tapi Bunda berjanji, ada dan tidaknya seorang suami dan seorang ayah untukmu. Bunda akan selalu menyanyangimu, menjagamu dan melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku, " ucap Vita dalam hatinya dengan perasaan tak menentu.
Walau bagaimanapun keadaan hubungannya dengan Adrian, ia tak akan lagi memikirkan hal itu. Yang terpenying untuknya saat ini adalah anaknya. Ia bertekad untuk tetap membesarkan anak itu seorang diri dengan kemampuan nya sendiri dan dengan kedua tangannya sendiri.
"Ganti yang sebelah, Bu Vita.. " ucapan suster membuyarkan lamunan Vita.
"Ah.. Iya, Sus. Apanya yang ganti? " tanyanya sedikit bingung.
Suster itu tersenyum, ia tau jika Kavita baru saja melamun.
"Itu menyusuinya yang gantian satunya, " tn j uj suster pada bayinya ng masih saja menghisap dada Vita. Entah keluar air susunya atau tidak, tapi bayi mungil itu seakan tak mau melepaskan hisapan nya.
"Tapi ini belum dilepas, Sus. Kan kasihan kalau dilepas gitu aja. Kalau dia nangis gimana? " jawab Vita khawatir.
"Ya nggak papa dong nangis. Bukannya kamu mau denger dia nangis? " sahut Valdi seraya berbalik. Kavita yang melihat Valdi hampir saja menghadap dirinya lagi, langsung berseru.
"Valdi stop! Jangan berbalik dulu! " serunya dengan reflek yang menghasilkan suara agak keras, dan membuat bayinya terkejut hingga melepaskan hisapan nya lalu menangis dengan kencang.
"Oek.. oek... oek... " ini adalah kali pertamanya Kavita mendengar bayinya itu menangis. Bukannya langsung berusaha menenangkan bayinya yang menagis, Kavita justru terpukau mendengar suara tangisan itu.
"Iya, gue juga denger. Makanya susuin lagi dia pake yang sebelah, biar diem, " perintah Valdi.
"Ih, bentar.. biarin nangis dulu! " jawab Vita.
Valdi melongo mendengar jawabab Vita yang menurutnya aneh. Jika di mana-mana seorang ibu ingin anaknya segera terdiam jika menangis, tetapi Kavita malah ingin mendengar suara bayinya menangis.
"Tolong di rekam dong, Di. Mau gue buat obat kangen kalo pas gak ketemu, " pinta Vita.
"Tolong tuh.. vidio'in! " titah Valdi pula kepada rekannya yang langsung di iyakan.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Heran dan aneh pula si Vita ini, pikirnya.
Tak lama juga Vita membiarkan anaknya menangis karena jmia pun tak tega. Baginya itu sudah cukup untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, bagaimana suara dan wajah putranya itu saat menangis itu saja. Vita pun kembali menyusui putranya hingga bayi itu tertidur lelap.
"Emm.. Di, " panggil Vita. Valdi yang sudah mau mengambil bayi itu dari buaian Vita pun menghentikan gerakannya.
"Hmm.. apa? " tanyanya seraya mendongak. Sontak wajahnya dan Vita pun berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Untuk sesaat lelaki itu menjadi terpikat.
"Oh Tuhan.. ujian macam apa ini? Kenapa wajah Vita sedekat ini? 'Kan aku jadi ingin menciumnya," entah darimana pemikiran konyol itu datang. Valdi pun segera menggelengkan kepalanya agar kembali fokus.
"Di? Valdi? " seru Vita sembari tangannya ia kibas-kibaskan di depan wajah Valdi.
"Ya, Vit.. apa? "
"Boleh nggak, kalau, emm... aku mau, "
"Kamu mau apa? Ngomong aja! kalau aku bisa turutin pasti bakal aku turutin, " ujar Valdi.
Kavita menggigit bibir bawahnya, ia ragu-ragu tentang apa yang akan ia utarakan kepada dokter yang sudah menjadi temannya itu.
Melihat hal itu Valdi jadi menelan ludah susah payah. Karena baginya perbuatan Kavita itu membuat bibirnya menjadi tampak lebih seksi dan menggoda.
"Astaga... Valdi sadar! Mikir apa sih lo.. "
"Boleh nggak kalau bayiku ini tidur sama aku? " tanya Vita pelan dengan perasaan ragu.
"Belum boleh, Bu Vita. Karena bayi Anda masih harus menjalani perawatan lagi secara intensif biar kesehatan dan berat badannya cepat stabil, " jawab dokter lainnya mewakili Valdi yang hanya diam dengan memandangi Vita.
"Iya 'kan, Dokter Valdi? " tepukan di pundak Valdi mengembalikan kesadaran dokter muda itu. Valdi pun segera mengangguk mengiyakan meski ia tak tau apa yang sedang dibahas oleh orang di sekitarnya itu.
Kavita kembali memasamg wajah sedih, ia memandangi putranya yang akan kembali tidur seorang diri di dalam box kaca untuk malam ini.
"Mari kita berjuang agar cepat sehat, Nak. Biar Bunda bisa terus sama kamu, bobok juga sama kamu sepanjang malam, " ucap Kavita pada putranya seolah melalui bahasa telepati.
Meski tak tega, Valdi tetap belum berani memberi keputusan tentang bayi itu yang keluar dari inkubator dalam waktu semalaman. Karena kondisinya belum sempurna. Apalagi cuaca disana yang sangat dingin, membuatnya lebih berfikir beberapa kali lipat lagi.
"Sabar sebentar lagi ya, Vit. Kalian pasti akan selalu bersama. Aku janji, akan lakuin apapun buat kalian bisa terus bersama-sama, " ucap Valdi menghibur Kavita.
"Makasih, dokter, " Vita enggan melepaskan pelukannya saat Valdi mengambil putranya dari pelukannya.
"Vita.. besok pagi ketemu lagi, kalian pasti ketemu lagi, " Valdi menatap mata Vita dan berusaha meyakinkannya.
"Janji? "
"Iya.. kan kamu harus nyusuin dia lagi biar asi kamu cepat keluar, " ujar Valdi lagi menengakan.
"Selamat malam kesayangan Bunda.. Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah-indah ya.. besok kita ketemu lagi. Uncle Valdi udah janji soalnya, kalau nggak ditepati awas aja, " ucap Vita pada bayinya.
Valdi mendengus pelan "gausah ngajarin little angke yang enggak-enggak ya, Vit.. "
Kavita menyengir kuda, "hehe.. nggak-nggak. Uncle Valdi orang yang baik hati dan tidak sombong kok, Dek. Kita harus berterima kasih banyak-banyak sama dia, " ujar Vita selanjutnya.
"Okey, Bunda.. Adek mau bobok duyu.. tata... " Valdi pun membalas ucapan Vita seolah baik itu yang menjawabnya.
Valdi kembali meletakkan bayi Kavita ke dalam inkubator dan memasang beberapa selang yang masih dibutuhkan oleh bayi itu.
"Loh.. kok dipasangin selang dan kabel-kabel itu lagi sih, Dok? Katanya dia udah sehat, dia juga udah bisa nyusu 'kan? "
"Biar kesehatannya sempurna maksimal, Bunda Vita.. " jawab Valdi pelan memberi pengertian.
Dari luar ruangan itu tampak Vero mengusap air matanya melihat sang kakak yang sudah semakin sehat dan keponakannya yang juga semakin bertumbuh besar.
🔥🔥🔥
Semangat, Vita!