
Suasana sore yang cerah di pantai yang terletak di Raja Ampat. Memancarkan cahaya matahari yang hampir bersemburat jingga. Hal itulah yang sedang dinikmati oleh Kavita dan yang lainnya. Sembari menikmati ikan bakar yang dipanggang sendiri oleh Kavero beserta para pria lainnya. Sedangkan para wanita hanya duduk dan menikmatinya saja.
Surganya Indonesia, begitu Kavita menyebut pulau tersebut. Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Provinsi Papua Barat itu memiliki aneka ragam keindahan pemandangan yang memanjakan mata para pengunjungnya.
Kavita merebahkan tubuhnya dan bersandar pada sun lounger atau kursi santai yang berada di pinggir pantai tersebut. Matanya memejam menikmati sapuan angin yang berhembus manja menerpa wajahnya, rambut panjangnya berkibar pelan hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Begitu tenang dan damai. Ingin rasanya aku terus pada dalam posisi ini. Dimana tidak ada sesuatu hal yang mengganggu hatiku dan meresahkan jiwaku, " batin Vita damai.
Wanita itu seperti melupakan semua masalah yang ada dalam hidupnya barang sejenak. Masalah yang menguras emosi serta air matanya setiap saat. Tidak da yang tau derita hati ya selain dirinya sendiri.
Apalagi si sumber penyebab luka batin itu sendiri yang sama sekali tak peduli pada dirinya yang harus menahan sakit disetiap waktu. Padahal sudah seringkali juga Kavita mencoba mengalihkan perhatian, dan menghilangkan bayangan kejadian menyakitkan yang mengganggu fikiran nya seperti saat ini. Tapi tetap saja sekeras mungkin ia mencoba, tetap saja bayang-bayang itu bersliweran di otaknya dan memeberikan sinyal luka pada batinnya.
"Hilanglah... bayang-bayang jahat! Hilang! Berhentilah berdatangan dalam otakku! Berhentilah mengganggu ketenangan dalam jiwaku! " jerit Kavita dalam hatinya.
"Jangan pernah datang lagi mengganggu hidupku, biarkan aku tenang menjalani kehidupan ku seperti ini, jangan kau ganggu lagi dengan kenyataan-kenyataan pahit yang siap menghampiri. Biarkan semua itu menjadi rahasia Tuhan, " meskipun dari luar tampak sangat tenang dan damai, tapi siapa yang tau kalau hati dan fikirannya justru sedang bertengkar saat ini.
Bahkan tidak aada yang tau kalau ia tengah menjerit dan menangis saat ini akibat fikirannya yang semakin menjadi memikirkan semua masalah yang ia hadapi.
Dari agak kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikan sosok cantik yang tengah terbaring tersebut. Orang itu menelan ludah kasar melihat posisi tidurannya Kavita. Tubuh ramping wanita dibalut dengan gaun pantai tipis yang berkibar, menampakkan pahanya yang putih mulus.
"Oh, ****! " umpat lelaki itu. "Ada apa denganku? nggak mungkin aku kayak gini gara-gara liat dia, " lanjutnya menyangkal.
Pancaran jingga sang surya menyinari paras ayu Kavita, sehingga semakin jelaslah betapa indahnya ciptaan Tuhan yang tersaji nyata tanpa rekayasa tersebut.
"Cantik, sexy, menggoda.. aku jadi ingat saat itu. Ah, dia benar-benar nikmat dan pandai melayani suami, " Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya saat imaginasi liarnya sudah merambah kemana-mana.
"Haish... gila! Aku udah benar-benar gila sepertinya. Nggak mungkin aku mikirnya dia, nggak mungkin aku tertarik pada wanita itu. Hanya Vara, cuma Vara satu-satunya ratu di hatiku. Dan nggak mungkin akan tergantikan ataupun terduakan oleh siapapun, termasuk wanita itu, "
Oh ya? Buktikan saja!
"Hai, Vit, " seru seseorang yang tiba-tiba sudah berada di kursi santai sebelah kursi yang Kavita tempati.
Vita membuka mata dan mendapati si dokter muda nanti tampan berada dalam pandangan matanya.
"Oh.. Hai, Dok? " balas Vita sedikit terkejut.
Dalam hatinya ia merasa bersyukur ada yang menghentikan pemikiran negatifnya yang semakin merajalela dan mulai tersebar ke dalam fikirannya dan siap kembali menghancurkan mindset positif yang sudah ia bangun dengan susah payah.
"Nggak jadi main air? " tanya dokter Valdi mengingatkan tentang keinginannya tadi.
"Jadi sih, tapi ntar.. lagi PW banget kayak gini, nikmati angin sepoy-seooy yang menenangkan, " balas Vita.
"Oh gitu... yaudah nih, perbaikan gizi dulu buat calon ponakan aku, " dokter Valdi menyuguhkan satu ekor ikan bakar khas pulau tersebut. Yang menurutnya sangat baik gizinya untuk ibu hamil seperti Vita saat ini.
Kedua bola mata Vita berbinar melihat apa yang dokter Valdi suguhkan padanya, apalagi dengan sebutan lelaki itu yang menyebut anaknya sebagai calon ponakannya, membuat rasa senang menyeruak dari dalam hati Kavita yang sedang mulai galau tersebut.
"Waah ... thank's, Dok, " Vita sudah terbangun dari tidurannya dan siap menyantap ikan bakar yang tampak menggoda itu.
Tapi dokter Valdi menghentikan aksinya membuat keningnya berkerut dalam, "weits... sebentar, "
"Kamu lupa lagi panggil aku apa tadi? " ujar Valdi mengingatkan.
"Ya ampun sorry.. iya-iya Valdi aja kalau nggak lagi di rumah sakit, "
"Nah, gitu dong... silahkan, Nona Kavita Putri Indrawan... " Valdi memotong kan ikan tersebut, bahkan kini ia hendak menyuapkan potongan itu ke dalam mulut Kavita.
"Nggak usah, Di. Aku bisa makan sendiri kok, " tolak Vita secara halus karena merasa tak enak dengan dokternya itu.
"Jangan GR ya kamu, aku bukan mau nyuapin kamu.. tapi calon ponakan aku yang masih di dalem perut kamu, " ucap Valdi mengecoh Vita.
"Emang bisa gitu? "
"Ya bisalah.. "
"Gimana?"
"Ya gini nih. Aak... " Valdi siap menyuapi Vita seperti sedang menyuapi anak balita.
Tapi sukses membuat wanita itu membuka mulutnya dan memakan ikan dari tangan dokter Valdi. Meskipun melalui sendok, bukan tangan Valdi langsung, tapi hal itu membuat sosok yang sejak tadi melihat Kavita dari kejauhan mendadak memanas hatinya.
"Emm... enak banget. Maacih, Om Valdi, " ucap Vita uang menirukan suara balita pula.
Kedua orang itu kembali tertawa bersama, dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan di sore itu. Tawa dan canda pun terlontar dari keduanya. Bahkan Vita berhasil menghapus bayangan yang tadi sempat berkelebat dan hampir saja kembali melukai hatinya, kini musnah menguap bersama senja yang kian berlalu.
Adrian meremat kedua tangannya, entah kenapa ia merasa kesal sendiri dengan apa yang dilihat oleh kedua bola matanya. Ia ingin marah dan meneriakkan kata-kata makian untuk lelaki yang kini sedang membuat tawa terukir di bibir istrinya itu. Tapi ia masih sadar jika lelaki itu adalah dokter kandungan yang menangani istrinya.
Ia merasa serba salah sekarang. Hatinya merasa tak nyaman melihat interaksi antara dua orang berbeda genre itu, meski Valdi hanyalah seorang dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan Vita, dan bukanlah siapa-siapa.
Tapi yang membuatnya masih bertanya-tanya, apa yang menyebabkan hatinya merasa tak nyaman? apa karena cemburu? lantas kenapa ia bisa cemburu, sedangkan ia sama sekali tak merasa jika ia mencintai wanita itu, meskipun Kavita aadah istrinya sendiri.
"Ada apa sih sama aku sebenarnya? jangan gila, Adrian! " gumam Adrian pada dirinya sendiri.
"Baru sadar kalo lo itu gila? " ucapan Vero yang tiba-tiba lewat disamping aku membuat ia mendongak dan mendengus kesal.
Ingin dia mengumpat dan balik memaki adik iparnya itu, tapi perkataan Vara kembali terngiang di telinganya hingga ia terus mencoba meredam emosi dalam jiwanya demi kesuksesan misinya.
Tapi apa ia sanggup jika harus terus berpura-pura sampai pada waktunya Vita melahirkan nanti?
"Sembilan bulan? Aku harus menahan diri dan emosiku selama sembilan bulan? sepertinya aku akan benar-benar gila sebelum waktu itu tiba, karena belum sehari saja aku disini dan melihat semuanya, rasanya hatiku terbakar dan kepalaku mau pecah karena menahan amarah, " gerutu Adrian dengan jengkelnya.
°°°
Sukurin lo Adrian! Biar gila sekalian!
Siapa yang setuju Adrian kena karmanya?