Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Operasi Pengangkatan Rahim


"Lo udah siap 'kan, Var?" tanya Valdo sekali lagi sebelum mereka memasuki ruang operasi.


Vara menggeleng pelan, "gue belum siap sama sekali, Do. Gimana kalo kita undur aja operasinya?" tanya Vara dengan wajah memelas yang penuh harap.


Valdo menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Sudah berulang kali ia mencoba memberi pengertian kepada Vara tentang apa yang akan mereka lakukan, dan Vara pun sudah setuju akan hal tersebut. Tapi sekarang begitu waktunya tiba, wanita itu malah berubah fikiran secara tiba-tiba.


"Lo nggak liat tim dokter udah siap semua nungguin lo masuk? Dan lo mau ngebatalin gitu aja? " Valdo menunjuk tim dokter yang sudah siap dengan atribut operasi mereka.


Bahkan semua peralatan operasi juga sudah siap diajak untuk bertempur dengan penyakit yang bersarang di tubuh Vara.


"Tapi gue takut banget, Do, " ucap Vara dengan air mata yang kembali mengalir.


"Takut apa, Vara? Ada gue yang selalu nemenin lo selama di dalem, dan semua dokter itu juga ngedukung elo, "


"Gue takut, gimana hidup gue kedepannya tanpa rahim, Do, " wanita itu menangis tergugu.


Valdo terdiam, ia tak bisa berkomentar tentang hal itu.


"Gue bener-bener jadi wanita cacat, Do. Bahkan di usia gue yang masih muda, " lanjut Vara lagi.


Perkataan Vara tersebut sukses membuat Valdo turut menitikkan air mata. Meskipun ia seorang laki-laki, tapi ia mengerti bagaimana perasaan Vara. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan wanita yang bernasib sama dengan Vara, dan semuanya merasa hancur saat harus melaksanakan operasi pengangkatan rahim. Terlebih jika wanita itu masih muda dn belum pernah memiliki anak seperti Vara saat ini.


Tapi mau bagaimana lagi jika hal itu merupakan jalan keluar yang terbaik bagi Vara sendiri. Bagi kesehatan dan kelangsungan hidup wanita itu kedepannya agar bisa kembali hidup normal tanpa merasakn sakit yang terus menerus secara berkepanjangan. Bahkan kemoterapi juga tak dapat menyembuhkan penyakit kangker yang ia derita selama beberapa tahun terakhir ini.


"Lo nggak cacat, Vara. Lo wanita sempurna! Jangan pernah ngomong kayak gitu.. " seru Valdo merasa marah atas perkataan yang menyakitkan itu.


"Gue cacat, Valdo! Gue nggak bisa punya anak! Gue wanita man-"


"Stop, Vara! Jangan semakin kemana-mana omongan lo! " Valdo berteriak memotong ucapan Vara yang ia anggap tak bermanfaat.


Vara semakin sesenggukan setelah mendengar sentakan dari Valdo yang merupakan sepupunya tersebut.


"Sekarang lo fikir baik-baik, Var. Sebelum lo ambil keputusan penting ini dalam hidup lo, "


"Lo dengerin omongan gue baik-baik, lo cerna baik-baik. Jangan sampai keputusan yang bakal lo ambil kali ini akan ngebuat lo menyesal seumur hidup lo nantinya, " Valdo memegang kedua pundak Vara yang masih bergetar karena tangis.


"Lo tau penyakit lo itu adalah penyakit yang berbahaya 'kan? " Vara mengangguk.


"Gue juga tau, kalo lo nggak mandul. Lo sempurna, lo baik, lo ... nggak cacat, "


"Dan mungkin lo masih bisa hamil karena emang lo nggak mandul. Tapi kehamilan lo sangat beresiko. Bukan cuma buat diri lo sendiri, tapi buat anak yang nantinya bakal lo kandung juga. Lo tau kenapa? " Valdo beranjak dari duduknya dan berlutut di hadapan Vara yang terbaring di brangkar.


"Karena sel kangker lo udah menyebar ke seluruh rahim lo, dan itu sangat mempengaruhi kesehatan lo dan kandungan lo nantinya, "


"Apa lo tega, ngeliat bayi yang nggak tau apa-apa, nggak salah apa-apa harus merasakan sakit kangker sejak bayi? Dia harus menderita kangker sepanjang dia hidup? " Vara menggeleng dengan terus menagis.


"Apa lo tega, kalau anak lo nanti juga ngerasain sakit seperti yang selama ini lo rasain? " Vara kembali menggeleng.


"Lalu, apa lo masih akan mempertahankan rahim lo kalau itu hanya akan membuat sel kangker lo menyebar ke seluruh tubuh lo kalau semakin lama lo mempertahankan nya? "


Vara meraung mendengar penjelasan panjang lebar Valdo. Ia sadar kalau dia egois jika itu yang ia pilih, jika ia lebih memilih untuk mempertahankan rahimnya untuk bisa hamil anak kandungnya sendiri.


Ia tak akan pernah tega melihat sesosok bayi mungil yang seharusnya terlahir di dunia dengan sehat untuk bisa mendapatkan kebahgiaan, justru akan mendapatkan penyakit jika bayi tersebut hadir dan lahir dari dalam rahimnya.


"Enggak, Do. Gue nggak mau jadi ibu yang jahat, gue nggak mau anak gue ngerasain seperti apa sakitanya yang gue rasain. Gue nggak mau anak gue menderita cacat kayak gue, huhuhu... "


"Terus, sekarang gimana keputusan lo? Gue nggak akan memaksa kalo emang lo nggak mau. Karena yang akan menjalani kehidupan lo, ya lo sendiri, " Valdo menunduk pasrah. Habis sudah usahanya untuk membujuk dan meyakinkan sepupunya itu agar bisa hidup lebih lama lagi.


"Gue mau, Do. Gue mau hidup lebih lama lagi darilada bonus dokter. Tapi... gimana kalau Adrian marah sama gue, Do? "


"Lo tetep belum ngomong sama suami lo kalau lo harus segera menjalani operasi pengangkatan rahim? " Vara menggeleng pelan.


Valdo menghembuskan nafasnya agak kasar, "yaudah sih, asal lo setuju aja ntar gue bangun kasih penjualan dan pengertian sama suami lo itu, "


"Bukannya lo juga udah mau punya anak dari Adrian, ya? Istri baru Adrian udah hamil 'kan?" ucap Valdo mengingatkan.


Vara yang sudah mengusap air matanya kini memaksakan senyum, "iya, bener. Paling nggak gue juga bakal jadi seorang ibu 'kan, Do? Kan bayi itu anaknya Adrian, suami gue, "


"Iya lah.. makanya lo harus semangat buat sembuh. Biar lo bisa merawat anak kalian nantinya, " Vara mengangguk dan mengukir senyum.


"Makasih ya, Do. Lo udah baik banget sama gue, "


"Sama-sama, Var. Lo sodara gue, kita harus saling membantu satu sama lain. Cukup dia aja yang nggak mau saling membantu sama kita, " ucap Valdo menyindro seseorang.


"Udah lah, Do. Nggak baik musuhan terus sama sodara, apalagi Valdi 'kan sodara kembar lo sendiri, "


"Hmm, " Valdo hanya berdeham tanpa mau menjawab perkataan Vara tadi.


Ia mendorong brangkar Vara memasuki ruang operasi yang di dalamnya sudah ada beberapa dokter yang siap untuk mengangkat rahim Vara yang sudah tercemar oleh sel kangker.


Lampu operasi mulai dinyalakan setelah Vara mengangguk mantap dan memejamkan matanya. Valdo pun memantapkan hatinya dan berdoa agar operasi terhadap Vara dapat berhasil sesuai yang diharapkan.


"Semua akan baik-baik aja, Vara. Kalau Adrian nggak bisa nerima kekurangan lo, masih ada gue yang mau nerima lo apa adanya, "