Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Diva dan Vero Tersulut Emosi


Kavero datang dengan Diva, mereka membawa sebuah parcel buah berukuran jumbo dan boneka beruang yang sangat besar. Itu pasti ulah Kavero.


"Selamat bestie.. gitu ya kalau honeymoon nya lama, langsung cepet aja jadinya, " Diva memeluk dan menciumi pipi kanan dan kiri Kavita.


"Thank, Div. Lo bisa aja candanya, "


"Fakta loh, beste.. " Kavita terkekeh meski batinnya masih sedih.


"Eh-eh.. betewe gantian dulu, bestie Div. Vero yang tamvan ini juga mau melihat calon ponakan baru, " Vero menggeser-geser tubuh Diva dengan boneka beruang besar yang di gendongnya.


"Tuh boneka mau buat apa, Dek? "


"Buat teman curhat Kakak, nih.. "


"Vero.. ih, " aku kewalahan saat Vero memberikan boneka berukuran lebih besar dari tubuhku itu ke pangkuan ku.


"Vero.. jangan iseng dong! Kasian itu Vita nya, gak keliatan apa-apa ketutupan boneka, " Diva pun turut kesal melihat keisengan Vero padaku.


Diva mengambil boneka itu dan melemparkannya pada Vero, sampai adikku itu terjengkang.


"Sukurin lo! "


"Makasih, Diva sayang.. Vero emang nakal, "


"Hiish.. dasar kakak-kakak lucknut! " Vero menepuk-nepuk pantatnya yang mungkin terasa sedikit sakit karena terjatuh tadi.


Vero mengambil boneka beruang itu dan meletakkannya di sofa.


"Boneka ini namanya Bearro, dia akan menjadi teman curhat paling asyik buat Kakak, "


"Kenapa namanya Bearro? Boneka beruang biasanya namanya teddy bear, papa bear, dan gitu-gituan, "


"Hah, itumah udah biasa, " Vero mengibaskan tangannya.


"Ini teddy bear dari Vero, makanya namanya Bearro, biar kakakku yang paling cantik ini selalu inget sama adek Vero yang tamvan tiada tandingan se-alam semesta, " sombong Vero sembari menaik turunkan alisnya.


"Aa.. alam gaib maksudnya? "


"Kak Div ini.. selalu saja menyebalkan, " Vero melipat tangannya dan duduk di saling Bearro, boneka yang ia bawa sendiri tadi.


Mereka berdua memang selalu seperti itu kalau ketemu, bukan karena saling membenci, tapi karena saling menyayangi. Bukan sayang sebagai perempuan dan laki-laki, tapi sebagai kakak dan adik, seperti aku dengan Vero.


Karena Diva menganggap Vero seperti adiknya sendiri juga, sebagai pengganti adik laki-laki nya yang dulu sudah tiada saat masih kecil. Adanya Vero sedikit mengobati kerinduannya pada adik kecilnya.


Kini sahabatku itu hanya memiliki seorang kakak laki-laki, yang bahkan jarang sekali berada di rumah. Kakaknya hidup di luar negri dan bekerja disana.


Saat sedang asyik bercanda dan tertawa dengan sahabat juga adikku, tiba-tiba pintu ruangan rawatlu terbuka.


"Kak Adrian? " ucap adikku yang melihat Adrian masuk dengan sebuah buket bunga besar ditangannya.


"Vara.. kamu juga dateng? "sapa Diva pada wanita yang membuatku segera membuang muka.


Baru saja aku akan tersenyum senang melihat kemunculan suamiku, tapi kenapa wanita itu harus selalu muncul bersama Adrian?


Apa dia tidak ada pekerjaan lain, atau pekerjaannya memang mengekori Adrian sepanjang hari?


" Selamat ya, Vita. Aku denger dari Adrian, kalau kamu hamil. Jaga baik-baik ya, biar sehat selalu dan lancar sampai persalinan nanti, "


Denger dari Adrian dia bilang? kenapa juga Adrian harus memberitahukan berita ini sama Vara? Seakan-akan Vara memang lah prioritas baginya.


Dan kenapa juga dia harus nyuruh aku jaga baik-baik kandungan ku, aku yang hamil, aku ibunya. Tentu saja aku tau yang terbaik untuk anakku sendiri.


"Kok kamu nangis, Vit? aku salah ngomong ya? " tanya Vara yang terlihat khawatir padaku.


Aku menggeleng, "aku cuma pengen nangis aja, "


Entah kenapa sejak tau kalau aku saat ini sedang mengandung, aku jadi semakin mudah merasa marah, jengkel, kesal, senang, bahagia dan kecewa secara mendadak. Semuanya bahkan bisa berubah-ubah dengan cepat.


"Oh, sepertinya itu hormon kehamilanmu. Memang orang hamil biasa merasa tiba-tiba jadi sedih atau bahkan juga senang cuma karena hal kecil, kamu harus mulai terbiasa ya, " ucap Vara yang menurutku sok tau.


Tau darimana dia soal kehamilan, memangnya dia sudah pernah hamil apa.


"Darimana kamu tau? aku aja yang udah nikah bahkan sekarang lagi hamil nggak tau soal itu, " ucapku menyelidik.


"Em, aku- .. itu, " Vara kebingungan menjawab pertanyaan ku.


"Vara itu pinter, dia bahkan mempelajari segala sesuatu meskipun itu bukan bidangnya. Dia selalu ingin tau banyak hal, nggak kayak kamu yang nggak tau apa-apa, "


Ucapan Adrian kembali berhasil membuat hatiku tercabik-cabik. Sakit banget. Tega sekali dia berkata seperti itu di depan sahabat dan adikku, juga di depan Vara.


Bahkan Diva dan Vero sampai ternganga mendengarnya. Mungkin mereka syok dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Lo ngomong apa, An-ying? " Seru Vero yang tersulut emosi.


Adikku itu meski sering menjahili ku, tapi ia sangat menyayanhiku. Aku tau, karena dia selalu mencoba melindungi dan menjagaku setiap waktu, meski terkadang ia harus merasakan sakit karena harus membelaku.


"Vero! " tegur ku, aku menggeleng saat ia menoleh ke arahku.


Meskipun perkataan Adrian sangat melukai perasaanku, tapi aku tidak mau Vero menjadi orang yang kasar.


Vero menghempaskan kerah kemeja Adrian yang sudah ia remas tadi dengan mendengus kesal.


"Kok gue ngerasa lo itu aneh ya, Dri. Lo selalu aja ngebelain Vara, membanggakan Vara, membagus-banguskan Vara dan menjelekkan Vita, " Diva menatap Adrian yang enggan menatapnya balik.


"Lo bahkan membandingkan-bandingkan mereka. Emangnya Vita ngapain, dia cuma nanyea doang sama Vara. Kenapa omongan lo jahat banget sama Vita? " seru Diva yang mulai emosi karena tanggapan Adrian terkesan meremehkannya.


"Lo budek, Dri? gue itu lagi ngomg sama lo! "


"Nggak penting, " sahutan dari Adrian semakin membuat Diva emosi, bahkan Vero pun terlihat mengepalkan tangannya kuat, menahan amarahnya.


"Vita itu istri lo, Dri! Bahkan saat ini dia lagi hamil anak lo! Bisa-bisanya lo ngomong sekasar itu sama dia, nggak ngerti gue jalan pikiran lo, "


"Udah.. udah.. " gumam Vara yang sudah menangis juga.


Kenapa dia ikut menangis, bukannya seharusnya ia bahagia karena Adrian selalu membanggakan nya, bahkan di hadapan ku secara langsung.


"Maaf kalau kedatangan gue kesini cuma bikin ribut dan bikin Vita sedih.. "


"Maafin gue, Vit. Gue nggak pernah bermaksud bikin Adrian ngebandingin gue sama lo. Gue bakal menjauh dari Adrian kalau itu bikin lo nggak nyaman, " Vara menggenggam tanganku.


Aku merasakan ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya, apa dia tulus?


"Gue pamit, " Vara berlalu keluar dengan tangan yang mengusap air mata.


Adrian ikut berbalik menyusul Vara, tapi Vero memegang lengannya kuat.


"Lo mau kemana, Bang? istri lo disini, dia lagi hamil dan butuh lo. Tapi lo malah mau ngejar wanita lain yang katanya sepupu lo itu? "


"Lepas bocah! "


Bersambung...