Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kebahagiaan VS Amarah


Pov Kavita


Sarapan pagi berlangsung khidmat di ruang makan rumah rumah kedua orang tuaku ini. Suasana dan kenyamanan yang telah lama tak ku rasakan kini kembali menghampiri. Rasa lega dan bahagia tak dapat kututupi hingga aku terus menyunggingkan senyum di sela sarapan kami. Pandanganku terus menyapu seluruh keluarga ku, ditambah adanya dokter Valdi membuat suasana semakin ramai saja.


"Udah mulai ada rencana, Vit? " tanya papa tiba-tiba di sela acara makan kami.


Aku menelan makanan yang sudah aku kunyah sebelum menjawab pertanyaan papa, "ya... seperti dulu, Pa. Vita mau lanjut ngurusin butik aja dulu, sambil tetap fokus buat urus baby Kava, "


"Apa nggak repot, Vit? " kini mama ikut membuka suara.


"Waktu nya bisa diatur, Ma. Yang terpenting fokus ku tetep ke Baby Kava dulu untuk saat ini. Sesekali aja Vita ke butik buat mantau keadaan dan perkembangannya, " jawabku membuat raut wajah mama tampak lega.


"Lagipula kangen juga sama anak-anak, Ma. Udah lama nggak ketemu sama mereka, " lanjut ku.


Mama manggut-manggut.


"Memangnya belum ada rencana buat syukuran Kava, Vit?"


"Astaga... " aku menepuk keningku.


Sangking ribetnya hidupku selama ini menghindari Adrian, hingga kau terlupa kalau belum pernah mengadakan acara syukuran sama sekali sejak kelahiran baby Kava.


"Tuh kan, lupa, "


Aku nyengir kuda.


"Ya gimana bisa kepikiran gak itu sih, Pa, Ma. Yang ada kita selalu ngumpet selama ini, mana bisa ngadain acara syukuran, "


"Nah, makanya sekarang saatnya," Vero yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kini ikut berpendapat, "Kan semuanya udah membaik, kita semua udah bisa kumpul lagi, tenang lagi. Kak Vita sama laki-laki gila itu udah berhasil pisah, dan yang paling penting, kita semua sekarang ddam keadaan sehat, ponakan aku si baby Kava juga sehat dan makin pinter. Jadi udah sepantasnya kita ngadain syukuran, " ucap Vero panjang lebar.


"Hooh, Vit, syukuran kelahiran baby Kava, syukuran kesembuhan kamu, syukuran di bebaskan nya kamu dari belenggu laki-laki yang jahat itu, dan saat ini kita bisa sama-sana lagi kayak dulu, bahkan dengan dua anggota keluarga baru saat ini, " ucap mama.


Aku mengangguk-angguk mengerti. Memang setelah apa yang kami semua alami selama ini, sangat bagus jika kami mengadakan acara syukuran itu.


"Vita nurut aja sih gimana baiknya, kan Vita juga belum tau soal kayak gitu, "


"Oke, langsung kita atur hari ini juga, " sambar Vero cepat.


"Hah, hari ini juga?" aku terkejut mendengar ucapan Vero yang justru di setujui oleh semua orang.


Yah... gagal lagi rencana hari ini mau lihat keadaan butik. Sudah sangat rindu aku pada gambar-gambar desain yang kusimpan rapi di dalam ruang kerjaku, dulu sudah ku rencanakan akan kubuat desain itu sesudah aku lahiran, tak taunya semuanya hanya angan karena adanya tragedi yang menimpaku. Tapi aku tetap tidak menyerah, setelah semua ini membaik, aku pasti akan melanjutkan mimpiku.


Vero dengan cekatan membagi tugas untuk semua orang. Huh, bocah itu memang sangat pandai dalam mengatur sebuah acara, atau membuat rencana-rencana. Kami semua sepakat mengikuti semua intruksi darinya.


Mulai ada yang berbelanja, ada yang memesan makanan, ada yang mendekorasi ruangan, pokoknya ini dan itu sibuk sekali.


Intinya kami semua bekerja sama dengan penuh suka cita, tak kuingat lagi luka-luka yang sempat di torehkan lelaki jahat itu padaku. Biarkan Tuhan yang membalas kejahatannya padaku.


Ya, aku yakin karma itu ada.


...----------------...


Pov Author


Berbeda dengan di rumah Kavita yang semua orang tengah berduka cita, di kediaman keluarga Wijaya sedang kacau balau. Aditya yang masih marah dan mengamuk, sedangkan Adrian yang kalut dengan pikiran berkecamuk.


Setelah mendapatkan kabar kematian istri pertamanya, Adrian memang merasa sangat terpukul, sebab Vara merupakan cinta pertamanya, dan mereka sudah bersama dalam jangka waktu yang lama. Namun, setelah menjalani kehidupan berdua dengan Kavita, tak dapat ia pungkiri jika rasa cinta juga tumbuh di hatinya untuk istri kedua yang semula tak dianggap olehnya itu. Sampai-sampai ia bisa sedikit melupakan kesedihan ditinggal pergi oleh Vara.


Siapa sangka, semula ia yang mengira jika setelah kepergian Vara makan dirinya akan bisa hidup berbahagia dengan istri kedua serta anaknya, namun yang terjadi sungguh diluar dugaannya.


Dirinya yang saat itu begitu panik saat menerima panggilan dari Valdo yang mengatakan jika Vara sedang sekarat dan ingin bertemu dengannya untuk keluarga terakhir, tanpa sadar telah melukai hati serta fisik Kavita.


"Aku memang benar-benar bodoh, Vita. Aku tidak tau kalau saya itu aku susah membuat kamu sakit hati dan juga terluka, aku sungguh tak tau, " ratapnya pilu setiap waktu.


Makanya ia begitu bertekad untuk bisa mendapatkan Kavita dan anaknya kembali bagaimanapun caranya. Tapi tiba-tiba ada kabar mengejutkan ia dapatkan dari salah satu orang suruhannya yang dulu bertugas mencari Vara yang pergi begitu saja dari rumahnya.


Adrian yang sudah sangat kalut memikirkan masalah tentang Kavita, kini malah ditambah degan kenyataan mengejutkan itu, dan juga Aditya yang menambah masalah juga dengannya, membuatnya berteriak-teriak seperti orang gila. Tangannya yang sudah memukul-mukul meja kaca di depannya sejak tadi tak ia hiraukan walaupun meneteskan darah.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


"Ya, awasi terus! Aku akan secepatnya sampai disana, " balasnya, dan sambungan telepon pun berakhir.


Lelaki itu beranjak, berjalan dengan langkah lebar. Setelah mengantongi ponsel, kedua tangannya terkepal kuat. Sepertinya ia akan membantai siapa saja yang ditemuinya dan membuatnya semakin marah.


"Tunggu saja, apa yang akan aku lakukan kepada kalian berdua! Dasar manusia tidak tahu diri! " geramnya.