
Jangan tanyakan apa saja usaha yang sudah dilakukan oleh Adrian demi bisa menemukan istri dan anak yang ia perkirakan sudah lahir ke dunia. Karena jika ia menghitung sejak hari kepergian Kavita sampai saat ini, istrinya itu sudah pergi selama enam puluh hari. Sedangkan pada saat kepergian nya, usia kandungan Kavita sudah memasuki hampir delapan bulan.
"Anakku pasti sudah lahir, 'kan? Dia pasti sehat 'kan? Tapi dia laki-laki atau perempuan.. sedangkan saat USG waktu itu belum terlihat jenis kelaminnya, " Adrian duduk di bangku penumpang di dalam mobilnya.
Mobil itu sudah seharian berkeliling kota bahkan juga desa demi untuk mencari istri yang kini sudah ia sadari begitu berarti kehadiran nya. Sudah selama enam puluh hari pula, Adrian tak pernah absen sekalipun dari mencari keberadaan Kavita dan anak mereka. Hingga urusan pekerjaan ia limpahkan kepada papinya semua.
Mengenai papi dan mami Adrian? Kalian mau tau bagaimana reaksi mereka setelah mengetahui jika Kavita pergi dari anak kebanggaan mereka? Hmm.. sangat.. sangat murka.
Plak...
Sebuah tamparan di pipi kanan Adrian yang meninggalkan rasa perih akibat luka sobekan pada sudut bibirnya yang berdarah, ia dapatkan dari seseorang yang sangat dihormati dan disegani selama hidupnya. Yaitu papi Wijaya.
Ya, papi Wijaya merasa sangat marah saat mengetahui berita tentang kepergian Kavita dari rumah anak sulungnya, tanpa ia ketahui apa masalah yang mendasari kepergian menantunya tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, Adrian? Kenapa Kavita bisa sampai meninggalkan rumah kamu? " teriakan papi Wijaya menggelegar memenuhi ruang kerja pria paruh baya tersebut.
Adrian hanya bisa tertunduk dan memegangi pipinya yang kini terasa kebas. Sedangkan sang mami hanya mampu menangis tersedu di sudut sofa dengan Aditya yang menenangkannya.
"Sabar, Mi.. mungkin semua ini hanya salah faham, " ucap Aditya pada ibunya, karena ia sendiri juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi Vita bener-bener pergi, Dit. Vita pergi bawa calon cucu Mami.. bahkan Mamy udah mempersiapkan semua kebutuhan lahiran Vita demi menyambut kedatangan cucu Mamy ke dunia, " balas mamy Sinta dengan tangis terisak.
Aditya menghela nafas, ia sangat tahu bagaimana perasaan maminya yang begitu menantikan cucu pertamanya, calon penerus keluarga mereka kelak. Sebenarnya dirinya pun juga sangat kehilangan Kavita yang sudah sempat singgah di hatinya beberapa waktu lalu.
Bahkan Aditya langsung pulang dari luar negeri begitu mendengar kabar jika Kavita pergi dan keadaan rumah tangga kakaknya itu terancam pisah.
Ada rasa yang tak bisa ia gambarkan dari dalam hatinya jika benar hal itu akan terjadi. Semula ia sudah menyerah degan perasaan nya terhadap wanita buang sudah menjadi kakak iparnya tersebut, dan ia pun memilih untuk menjalankan perusahaan papinya yang ada di luar negara untuk bisa melupakan bayang-bayang Kavita yang selalu menari-nari di otaknya.
Tapi begitu ia bisa sedikit menetralkan rasanya, ia malah mendapatkan kabar keretakan rumah tangga sang kakak dengan wanita spesial nya itu, hingga timbullah sebuah rasa yang kembali hadir dalam hatinya. Rasa ingin memiliki wanita itu.
Apa memang seperti itulah cinta?
Yang tak pernah memandang usia dan status, apalagi rupa dan harta.
"Adrian nggak tau, Pi, " jawaban Adrian membuat Aditya menoleh ke arahnya.
Lelaki itu mengernyit, "suami macam apa dia yang tak tau kenapa istrinya bisa pergi meninggalkan rumahnya? Karena tidak mungkin Kavita pergi begitu saja tanpa suatu alasan yang kuat mendasarinya. Sedangkan semua orang tau, betapa bucinnya Kavita terhadap Adrian, " gumam Aditya heran.
Papi Wijaya melotot, "nggak tau kamu bilang? Suami macam apa kamu sampai nggak tau kenapa istri kamu bisa pergi. Apa yang kamu lakukan selama ini, hah? Kamu pasti tidak mengurus Kavita dengan baik, " tandas papi Wijaya.
Adrian mendengus, "untuk apa aku ngurusin dia, sedangkan Vara saja sangat membutuhkan perhatian dariku, " dalam hatinya mendumal.
"Ad-Adrian... " ucapan Adrian terputus oleh kalimat yang kembali dilontarkan papi Wijaya.
"Kamu pasti hanya sibuk mengurusi wanita penyakitan yang mandul itu 'kan? Sampai kamu tak memperdulikan Kavita yang sudah jelas-jelas sudah sempurna buat kamu! "
Mendengar kata sebutan 'wanita mandul ber penyakitan' yang ayahnya layangkan terhadap wanita yang dicintainya membuat Adrian mendongak dengan perasaan marah.
"Papi nggak berhak mengatakan hal seburuk itu pada Vara. Walau bagaimanapun Vara itu tetap istri Adrian, Pi, " seru Adrian tak terima.
"Cih! " Papi Wijaya bersedih dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Wanita yang sejak menikah hanya bisa menyusahkan kamu saja itu masih saja dibela. Sudah penyakitan, nggak bisa ngasih kamu keturunan buat keluarga kita, dan sekarang kabur entah kemana dengan lelaki lain yang mencintainya. Sudah seperti itu masih mau kamu bela? " ucapan papinya membuat Adrian terkejut.
"Darimana Papi tau kalau Vara pergi dengan lelaki yang mencintainya? " tanyanya bergumam.
Papi Wijaya menoleh, "kamu fikir Papi ini bodoh? Kamu lupa siapa Papi di negeri ini? Bahkan Papi bisa tau apa saja yang wanita itu lakukan di tempat pelariannya, "
Semakin mendeliklah Adrian hingga kedua bola matanya seperti akan keluar dari sarangnya.
"Mm-maksud, Papi? " Adrian bertanya dengan suara bergetar.
"Wanita yang selama ini kamu puja-puja, dan kamu cintai dengan segenap jiwa itu sudah membohongimu, dan mungkin dia sudah lebih bahagia dengan pacar barunya, " jawab Papi Wijaya memprovokasi.
"Enggak mungkin! Papi pasti bohong! " seru Adrian lagi.
"Untuk apa Papi berbohong? Tidak ada untungnya buat Papi, "
Lelaki paruh baya itu duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laci yang ada pada meja kerjanya tersebut. Kemudian ia mengambil sebuah map coklat dan membukanya.
"Lihatlah ini! Semua ini asli tanpa rekayasa sama sekali, " Papi Wijaya mengeluarkan setumpuk foto-foto daei dalam map tersebut.
"Nggak mungkin, Pi. Ini semua pasti hanya akal-akalan Papi aja biar aku meninggalkan Vara dan berpaling sepenuhnya pada Kavita, menantu pilihan Papi, dan kesayangan mami itu, "
"Jelas saja Vita jadi kesayangan kami semua, Vita itu gadis yang baik dan sempurna. Dia bisa memberikan kami penerus, dia juga merupakan anak dari kolega bisnis papy uang baik, " sambar mamy Sinta yang merasa geram dengan anak sulungnya tersebut.
"Ya, itu benar. Yang dibilang Mami mu itu sangat benar. Pernikahan kalian menjadikan bisnis kami semakin luas dan kuat, dan menjadi yang terbaik di negara kita ini, " sambung papi Wijaya.
"Dan mengenai foto-foto itu, itu semua asli diambil oleh detektif suruhan Papi semenjak kepergian wanita itu di hari pertama pelariannya samapai saat ini. Papi hanya tidak mau saja orang yang berhubungan dengan keluarga kita berbuat sesuatu yang buruk dan akan berkibar buruk juga bagi keluarga kita nantinya, makanya Papi mengutus detektif untuk mengawasi setiap gerak gerik Vara, " papy Wijaya kembali mengambil satu buah map dari dalam laci kerjanya.
Adrian terdiam seraya menatap tajam foto-foto di tangannya, hatinya terasa memanas.
"Dan kamu tau, apa yang dilakukan wanita itu disana selain memacari sepupunya sendiri? "
Papy Wijaya melemparkan sebuah map berisi kertas pernyataan.
"Persetujuan Operasi Pengangkatan Rahim, " gumam Adrian dengan air mata yang berjatuhan.