
"Wah, bener-bener sialan lo berdua! Udah minta tolong, giliran mau ditolongin, eh malah gue nya disiksa kek gini. Sakit tau tangan gue! " omel Ferdi seraya memegangi pergelangan tangannya yang tampak memerah.
"Ya sorry, Fer. Abisnya gue kira lo si itu ... sih"
"Siapa?" sahut Kavita yang tiba-tiba muncul dari arah kamar mandi.
Semua yang ada disana sontak menoleh ke arahnya, " bukan siapa-siapa, " jawab Valdi dan Vero dengan cepat.
"Ayo, Vit! Kita healing.. biar Ferdy yang gantiin gue disini, " ajak Valdi yang sudah berdiri di belakang Vita menggantikan Diva.
"Loh, kok malah mau healing sih? Kan Diva sama Vero baru aja sampe. Emangnya mereka nggak diajak? "
"Ntar mereka nyusul. Ya 'kan, Ver, Diva? "
"Iya, ntar kita susul ke tempat lo healing itu, " sahut Diva.
" Buka pintunya! Kalo nggak bakalan kita dobrak sekarang juga! " teriak seseorang dari arah luar sana membuat beberapa pasang mata yang ada di dalam ruangan itu membulat dan saling memberi kode.
"Siapa tuh? Kayaknya marah-marah? " tanya Kavita yang jelas saja juga mendengar nya.
"Palingan orang kebelet pipis, mau gantian. Yuk!" jawab Valdi asal, lalu pria mendorong kursi roda Kavita keluar melewati pintu lain yang ada di ruangan itu.
"Kenapa kebelet pipis datengnya ke ruangan priksa kamu? Bukannya ke toilet, 'kan masih banyak toilet yang lainnya? " heran Kavita setengah curiga.
Setelah memastikan Valdi dan Vita benar-benar tak terlihat lagi, Dokter Ferdy membuka pintu dan langsung masuklah beberapa orang berpakaian serba hitam dan langsung saja mengecek ke seluruh ruangan tersebut.
"Periksa seluruh ruangan ini kalau perlu di lubang semut juga! Jangan sampai target kita lolos begitu saja, " ucap Beno yang menginterupsi seluruh anak buahnya yang ikut bersama dirinya dalam operasi dadakan ini.
"Baik, Bos! " sahut kesemuanya lalu mereka mulai berpencar menelisik seluruh ruangan yang tak terlalu besar itu.
Disaat genting itulah, Diva memulai sandiwara yang sudah ia dan Vero rencanakan bersama dengan dokter Ferdy tadi.
"Adududuh, Mas.. perut aku sakit banget, " seru Diva tiba-tiba saat ada yang memeriksa ruangan periksa dalam ruangan itu. Dirinya satu ini tengah berbaring seakan sedang diperiksa oleh Ferdy.
Wanita itu menggunakan bantal pada perutnya dan berakting seolah-olah dirinya adalah ibu hamil yang tengah memeriksakan kandungan, sedangkan Vero tentu saja berperan sebagai suaminya. Lelaki itu juga sudah menyamar sedemikian rupa agar tak ada yang mengenali dirinya.
"Loh, loh.. kok tiba-tiba sakit to, Dek? Gimana iki Pak Dokter? Kenapa istri saya malah jadi sakit perut begini? " panik Vero sembari tangannya mengelus-elus perut Nadiva yang tampak membuncit.
"Mas... kayaknya aku mau brojol deh. Euk... " tiba-tiba saja Nadiva seperti orang yang sedang mengejan. Hampir saja Ferdy terbahak dibuatnya, lelaki itu sekuat tenaga menahan tawanya agar tak meledak.
"Sabar, Bu... saya akan periksa dulu, apkah memang sudah waktunya untuk ibu melahirkan atau belum, " ucap Ferdy mencoba bersikap profesional juga dalam menjalankan perannya.
"Pak Dokter ini gimana to? Sudah jelas-jelas istri saya sudah kesakitan begini, kok masih mau diperiksa apanya lagi? Nanti keburu brojol anak saya, " bentak Vero marah dengan suara berlogat medok.
Para bodyguard yang semula menyebar dan mengecek ke setiap sudut ruangan itu menghentikan aksinya mendengar Nadiva yang berteriak-teriak seolah sedang kesakitan akan melahirkan. Ditambah juga dengan suara Vero yang memarahi Ferdy. Membuat kesemua bodyguard itu bingung antara akan terus melanjutkan operasi penggeledahan mereka atau mengurungkan nya karena ada ibu hamil yang akan melahirkan disana.
"Bos, ada yang mau lahiran. Apa iya kita tetap mau menggeledah seluruh ruangan ini? " tanya salah satu anak buah Beno yang terdengar oleh ketiga orang tadi.
"Telisik seluruh ruangan ini dengan teliti! " teriak Beno tegas pada para anak buahnya.
"Te-tapi, Bos? "
"Tapi apa? Udah bosen kerja sama Tuan Andrian lo? " bentak Beno yang membuat anak buahnya itu seketika menciut nyalinya.
"Gimana? " tanya Vero tanpa suara pada Diva dan Ferdy yang juga mulai panik.
"Mas...! Tolong! Aku udah nggak kuat lagi... bayinya mau keluar ini, " teriak Diva lagi, yang lagi-lagi membuat beberapa bodyguard itu berhenti.
"Pak Dokter! Apa Pak Dokter mau diam saja melihat istri saya kesakitan seperti ini? Saya akan tuntut Pak Dokter kalau sampai terjadi apa-apa sama istri dan anak saya lho! " Vero pun mengikuti permainan sandiwara Diva yang berlanjut untuk mengelabuhi para bodyguard itu.
"Aaakh... sakit, Mas...! " teriak Diva lagi benar-benar meyakinkan jika dirinya saat ini tengah merasa sangat kesakitan.
"Pak Dokter, cepat bantuin istri saya! " teriak Vero pula mengimbangi teriakan Diva.
"Iya sebentar Pak... Bu... mari kita bawa ibu nya ke ruangan bersalin, untuk melahirkan disana, "
"Dokter itu bagaimana sih? Kalau nanti anak syaa brojol dalam perjalanan ke ruangan itu bagaimana? Dokter mau bertanggungjawab? Ha? "
"Lalu saya harus bagaimana, Pak? " tanya Ferdy pula.
"Mana saya tau! Kan Anda dokternya, bukan saya. Tolongin istri saya disini saja, di ruangan ini agar tak terjadi apa-apa sama istri dan anak saya! " titah Vero.
"Ba-baik, Pak. Saya akan mempersiapkan alatnya secepatnya, " jawab Ferdy pula yang langsung bergegas mencari alat-alat yang bisanya digunakan untuk membantu proses persalinan.
"Eeeuugh... ba-yi nya, udah mau keluar, Mas... " ucap Diva terbata.
Mendeliklah semua mata para bodyguard itu mendengar Diva yang sudah mulai mengejan.
"Bos! Saya nggak mau ngeliat orang lahiran, Bos! Ngerii, " ucap slah satu bodyguard yang hatinya merasa terenyuh mendengar suara Diva yang kesakitan.
"Iya, Bos. Saya juga takut, " sahut satunya lagi yang juga berada di dekat tempat Diva berada, hanya selembar kain sebagai batas mereka.
"Saya nggak tega, Bos, "
"Saya juga jadi inget sama ibu saya, Bos, "
"Saya malah jadi inget istri saya yang juga lagi hamil tua, gimana kalau dia juga sudah mau melahirkan? " ucap para bodyguard itu saling sahut, sehingga membuat Beno yang sudah hampir saja menyentuh handle pintu yang dilewati oleh Valdi dan Vita tadi mengurungkan niatnya karena merasa telinganya penuh dengan suara-suara rengekan para anak buahnya.
"Haah... berisik kalian semua! Yasudah, ayo kita keluar dari sini! Lanjutkan nanti lagi kalau ibu hamil itu sudah selesai melahirkan, " intruksi Beno pada akhirnya.
Beberapa bodyguard yang ada di ruangan itu mendesah lega, lalu satu persatu berjalan keluar meninggalkan tiga orang akhir dadakan yang sedang menahan tawa mereka di dalam ruangan bersekat itu.
"Tolong nantinkaabri saya kalau prosesnya sudah selesai, Dok, " ucap Beno sebelum keluar.
"Eeeuugh... "
Ferdy diam saja, hanya suara Diva yang kembali mengejan membuat Beno reflek ngacir begitu saja dari sana tanpa menunggu jawaban dari Ferdy lagi. Sebenarnya ia juga merasa takut sekaligus tak tega jika harus mendengar apalagi melihat wanita yang sesuai melahirkan. Bagimana tidak, jika ia juga mempunyai seorang ibu yang sangat ia hormati di rumah.
"Waah... keren banget akting lo, Kak, " bisik Vero yang merasa jika semua bodyguard suruhan tadi sudah keluar dari sana.
"Lo lupa? Gue pernah menang lomba akting dulu? " ucap Diva setengah sombong pada Vero.
"Kalian berdua gila! " Ferdy tak habis pikir dengan kedua orang itu yang ada-ada saja idenya.
"Yang penting orang kesayangan kita selamat, nggak peduli lagi mau akting mau ngemis juga bakal gue lakukan buat Vita, " tandas Diva bersungguh-sungguh.