
"Udah! Ayo ikuti saya! Ajak semua anak buah kamu itu! " perintah Adrian tak dapat diganggu gugat.
"Padahal tinggal sedikit lagi, Tuan, " ujar Beno yang merasa keberatan dengan perintah tuannya.
"Apanya? " tanya Adrian yang sudah dengan mode melotot, membuat Beno jadi enggan untuk mengemukakan pendapatnya karena sudah merasa takut terlebih dulu.
"Ti-tidak, Tuan. Silahkan dilanjutkan, " balas Beno.
Pasukan Adrian pun kembali menuju ke ruangan Aditya untuk mengantarkan adik dari tuan mereka untuk tersebut bertemu dengan tuan besar mereka.
"Aditya ... ! " seru mami Shinta yang sudah lebih dulu berlari dan menghambur kedalam pelukan sang putra yang sangat di rindukan olehnya itu.
Sudah selama beberapa minggu ini ia merasa seperti dunianya runtuh ketika baru saja mendapatkan berita bahwa putra bungsunya itu mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam jurang, sehingga sangat sulit untuk diketemukan. Dna kemungkinannya untuk selamat pun sangat tipis hingga ia merasa hampir putus asa dibuatnya.
Dan Saat ia sudah mulai menyerah dengan harapan bahwa putranya sudah tak lagi ada di dunia ini, secara tiba-tiba ia mendapatkan kabar bahwa Aditya masih hidup dan saat ini tengah dirawat disebuah rumah sakit kecil yang berada di kawasan puncak.
Sungguh lega dan bahagia perasaan nya sebagai seorang bunda, apalagi kini ia dapat memeluk lagi tubuh putra bungsu yang amat disayanginya itu.
"Mami kelihatan sayang banget sama Si Adit, gimana kalau sampai mami tau kalo Adit itu bukan anak kandungnya ya? Apa mami bakalan syok atau malah nggak bakalan percaya dengan kebenaran yang menyakitkan itu? " batin Adrian seraya mengendikkan kedua bahunya.
Adrian dan papi Wijaya menatap haru pada pemandangan yanga ada di depan mereka.
"Kayak liat sinetron ya, Pih? Ter-enyuh banget hati Adrian, " Adrian menyenggol lengan papinya yang berdiri tepat di samping dirinya.
Papi Wijaya menghela nafas, ia tau yang dimaksud oleh putra sulungnya itu mengenai perkataan nya barusan kepada nya, namun ia mencoba untuk biasa saja dan bersikap seolah memang tak ada apa-apa.
"Sst ... " papi Wijaya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, "kita sudah pernah membahas hal ini sebelumnya ya, Dri. Jadi kamu jangan mulai mau ngomong yang macem-macem sama mereka. Biarkan mereka tetap berbahagia dengan semua kenyataan yang mereka tahu saja. mungkin itu akan lebih baik, " ucap papi Wijaya memperingatkan.
Lelaki itu memilih untuk duduk dan kembali mengambil benda pipihnya dari dalam saku jas yang dikenakannya.
Terlihat dalam layar tersebut seorang wanita yang tersenyum dengan indahnya. Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah dan mewah, tangannya menggamit lengan seorang pria yang tampak tersenyum kaku seolah terpaksa.
Ya, itu adalah foto Kavita, saat dirinya menikah dengan gadis yang sangat mencintainya itu dulu. Sebuah senyum dan cinta yang tulus sangat terlihat jelas dari pancaran wajah Kavita saat itu. Yang dengan bodohnya tak dapat dilihat oleh lelaki itu sama sekali.
Hingga kini, hanya tinggal penyesalan lah yang tersisa di dalam hati Adrian karena pernah menyia-nyiakan gadis yang secantik, sebaik dan setulus Kavita.
"Kemana lagi aku harus mencarimu, Vit? Aku sungguh menyesal pernah menyia-nyiakan mu dulu. Aku begitu bodoh yang tak bisa melihat ketulusanmu dulu, " sesal Adrian dalam hatinya.
"Maafkan aku, " gumamnya yang tanpa terasa lolos begitu saja dari bibirnya.
"Saya punya berita mengenai nyonya muda, Tuan," ucap Beno lagi yang sudah kembali mempunyai keberanian untuk mengutarakan apa yang menjadi ganjalan dalam hatinya tadi.
"Apa? "
"Saya melihatnya ada di rumah sakit ini juga, Tuan, " ucap Beno memberikan laporannya kepada sang majikan.
"Apa...? " seru Adrian seraya berdiri dari duduknya. Sampai ponselnya saja terlempar begitu saja jika tak ditangkap oleh Beno yang sigap.
"Be-benar, Tuan, "
Adrian menatap Beno nyalang, sungguh ia sedang tak ingin diajak untuk bercanda seperti itu saat ini.