
Tak ingin sahabatnya merasa curiga, Kavita membalas pelukan Adrian dengan erat, lalu bercipika cipiki dengan suaminya itu.
"Kamu berdua aja sama Vara? " tanyanya.
"Emm.. iya, Vit. Sory ya Adrian nya gue pinjem bentar. Soalnya tadi dia juga abis ngrepotin gue sih, " jawab Vara mewakili Adrian.
"Ngrepotin kamu, gimana maksudnya? "
"Taraaa..." Vara mengangkat beberapa paper bag di tangannya.
"Ini semua dari Adrian buat kamu, seharian dia ngrepotin gue buat nyariin hadiah buat lo. Sweet banget kan husband lo ini, "
Adrian mendelik mendengar perkataan Vara, karena ia membelikan semua barang-barang tersebut untuk wanita itu, bukannya Kavita.
"Oh ya? " wajah Kavita berseri, "thankyou so much, Vara.. " Vita menerima paper bag yang disodorkan Vara padanya, lalu wanita itu memeluknya.
"Thanks, hubby.. " Vita lalu beralih memeluk Adrian meski dalam hatinya merutuki dan berkata,
"Mustahil! "
Lelaki itu hanya membalas dengan senyum palsu.
"Uuncch... so sweetnya penganten baru ini, jadi pengen, " ucap Diva menggoda.
"Makanya, buruan dong! Biar bisa kayak mereka, " balas Vara kembali menggoda Diva.
"Lo sendiri, emang udah? "
"Hah? gu-gue.. " vara gelagapan dengan pertanyaan Diva.
"Buruan makan, yuk! Gue udah laper banget nih, " Vita menangkap kegugupan Vara, dan mengalihkan pembicaraan mereka.
Acara makan itu menjadi sedikit canggung karena kehadiran Adrian dan Vara. Adrian yang kaku ditambah dengan Vara yang sama sekali belum mereka kenal, membuat semuanya hanya fokus pada makanan tanpa berniat membuka percakapan.
Vara sendiri masih canggung karena pertanyaan yang Divaontarkan padanya tadi. Selama ini ia selalu bingung jika ada orang yang bertanya tentang statusnya. Ingin ia menjawab sudah bersuami, tapi status di KTP nya masih lajang. Dan jika dirinya menjawab lajang, ia merasa seperti tak menganggap adanya Adrian. Hal tersebut menjadi buah simalakama tersendiri bagi hatinya.
"Eh, jangan itu, Vit! Adrian alergi kacang-kacangan, " cegah Vara saat melihat Vita akan memberikan semangkuk sup kacang merah pada Adrian.
"Oh, gitu ya? sory, gue nggak tau, " Vita kembali meletakkan mangkuk itu dan bermaksud mengambilkan makanan lain pada suaminya itu.
"Biar Vara aja yang ngambilin, ntar malah kamu salah lagi, " perkataan Adrian berhasil membuat hatinya berdenyut nyeri.
Dihadapan banyak orang bisa-bisanya Adrian menolak dilayani istrinya dan malah meminta wanita lain untuk melayaninya, dimana harga diri Kavita sebagai seorang istri?
"Lhah, kenapa Adrian malah minta diladenin sama Vara? Kan Vita yang istrinya, meskipun baru dan belum tau selera dia juga. Harusnya kan dia bisa kasih tau mana yang dia suka dan enggak, atau mana yang dia doyan dan mana yang bikin alergi, " komentar Diva dalam hatinya, ia merasa ada yang aneh antara dua orang tersebut.
Vita tertunduk, "oke. Sory ya, Var, jadi ngrepotin lo lagi, "
"Enggak kok, Vit! Biarin aja Adrian ambil sendiri. Dia biasa gitu kok. Mungkin dia belum terbiasa aja dilayanin sama istri, masih canggung dia, malu-malu kucing gitu, " Vara menangkap raut wajah penuh tanya dan curiga dari Diva dan para karyawan Kavita.
Vita mendadak kehilangan nafsu makannya, padahal yang tersaji di hadapannya merupakan makanan favoritnya yang sebelumnya tak pernah sekalipun bisa ia tolak.
Begitupun Adrian yang hanya menyesap sedikit minuman nya. Lelaki itu merasa kesal dan marah, karena barang-barang yang ia pilihkan untuk kekasih hatinya, Vara. Tetapi Vara malah memberikannya pada Vita.
"Aaak... " Diva menyuapi sepotong lobster pada Vita dengan tangannya yang sudah belepotan saus.
Mau tak mau Vita menerima suapan itu.
" Jelas lah enak, ini kan menu favorit lo, ditempat favorit langganan lo juga, tapi bisa-bisanya lo cuekin tuh lobster ampe nangis saus, " gurau Diva mencairkan suasana yang panas.
"Yok, gaes.. suapin Bu Vita sampe dia nggak bisa bangun gegara kekenyangan, " seru Diva menginterupsi teman-temannya.
Ke-enam karyawan Vita yang mendapatkan lampu hijau untuk kembali happy, langsung semua mendekat pada Vita dan menyuapi wanita itu satu persatu dengan makanan yang berbeda-beda.
"Udah-udah, " Vita sampai susah berbicara karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Kita nggak bakal berhenti sampai Bu Vita kekenyangan, " kata Lela yang di angguki antusias temannya yang lain.
Diva dan Vara cekikikan melihat Vita kualahan disuapi terus menerus dengan para karyawannya berganti-gantian.
"Nggak sopan, makan macam apa itu. Seperti nggak beradab, " gumaman Adrian yang terdengar di telinga semua orang disana membuat kesemua orang itu berhenti.
"Udah, aku makan sendiri aja. Kalian lanjutin makan kalian, pokoknya harus sampai semua ini habis ya, " ucap Vita pada para bawahannya agar mereka tak terlalu mengambil hati perkataan Adrian.
"Mau lo itu apa sih, Adrian? Kalau emang lo nggak mau gabung sama kita, yaudah pergi aja sana! Ajak sekalian selingkuhanmu itu, disini cuma mau bikin kacau suasana aja, " batin Vita berteriak.
Adrian memang hanya berucap sesekali saja, tapi setiap ucapannya itu selalu saja mengandung racun yang siap melumpuhkan hati Vita setiap saat.
Pelototan mata dari Vara pun tak Adrian hiraukan, karena lelaki itu juga merasa kesal dan kecewa pada Vara, yang dengan mudahnya memberikan barang pemberiannya pada krang lain.
Acara makan bersama malam itu dilanjutkan dengan canda dan tawa dari para karyawan Kavita, candaan yang selalu berhasil menghangatkan dan menghibur hati Vita yang sudah berulang kali tergores pisau tajam dari lidah Adrian.
Meskipun berulang kali lelaki itu mendengus, tapi tak ada yang memperdulikannya. Hanya Vara yang merasa jengkel karena Adrian tak bisa diajak bekerja sama.
"Makasih buat traktirannya ya, Bu Vita yang cantik dan selalu tercantik di alam semesta, " Beno kembali mengeluarkan gombalannya yang terkesan lebay namun mampu membuat Vita tersenyum.
"Sama-sama, Beno, "
"Makasih, Bu Vit. Bu Diva.. sering-sering ya traktir kita, biar hemat nggak perlu beli makan malam, " sahut Fafa pula.
"Yee, itu sih mau lo! Tapi gue juga mau sih kalau sering-sering juga, " ucap Haikal dengan kekehan.
"Yee... kita sama aja kale, suka gratisan, " Lela menyoraki temannya.
"Kita pamit ya, Bu.. sekali lagi makasih buat makan istimewanya, " pamit Nina yang disusul dengan teman-teman yang lain.
"Pamit, Bu, " Abi pamit paling akhir, ia menjabat tangan Vita agak lama sampai dahi wanita itu berkerut.
"Ada apa, Bi? " Abi menggeleng.
"Nggak papa, Bu. Teruslah bahagia ya, Bu, "
"Iya.. Makasih, Abi, "
"Maksud tuh orang apasih? " tanya Diva yang sama bingungnya dengan Vita.
"Yaudah, gue duluan ya, Vit. Thanks traktirannya, " Diva memeluk Vita sebelum undur diri.
Wanita itu juga menyalami Vara dan juga Adrian, tapi tatapannya menajam saat bertemu pandang dengan suami sahabatnya itu.
Bersambung...